Kamis, 15 Desember 2016

[Resensi] Corat-Coret di Toilet

Judul : Corat-Coret Di Toilet
Pengarang : Eka Kurniawan
Penerbit :  Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2000
Genre : Short Stories
Tebal : 138

Sinopsis
Kumpulan cerita pendek Eka Kurniawan yang terbit di masa penghujung Orde Baru dan era kelahiran Zaman Reformasi. Cerpen-cerpen ini berisikan berbagai cerita mulai dari anti-romantisme cinta picisan, sampai kisah mahasiswa filsafat yang terlunta-lunta menjalani kesehariannya. Membaurkan realisme dengan surealisme, Eka Kurniawan menambah kaya horizon sastra di Indonesia.


Ulasan

Nama Eka Kurniawan belakangan ini mulai melejit karena salah satu novel pendeknya baru saja mendapatkan nominasi penghargaan sastra yang cukup prestise. Buku-bukunya mulai terbit, dan tentu saja karya-karya tersebut mulai diperbincangkan. Nampaknya si penulis pun sudah menjadi salah satu nama sastrawan yang akan dipilih begitu pertanyaan "siapa sastrawan favoritmu" dilontarkan. Saya yang sebenarnya sudah mendapatkan rekomendasi dari lama pun, tak ayal jadi terdorong untuk mencoba mengecek apakah kualitasnya berbanding lurus dengan ketenaran yang diperolehnya akhir-akhir ini.

Tidak berbeda jauh dengan banyak sastrawan terkemuka, karya-karya awal Eka Kurniawan berupa cerpen. Demikian Corat-Coret di Toilet sebagai kumpulan cerpen Eka Kurniawan ketika dia masih belum memiliki nama, dan menuturkan pelbagai cerita yang berkaitan dengan kehidupannya sebagai mahasiswa. Tidak hanya persoalan mahasiswa, cerpennya pun banyak menceritakan hal-hal yang berkaitan dengan sebuah rezim yang hendak tumbang, maupun realita sosial keras nan kejam yang turut hadir di kehidupan kota besar mana pun. Sesuatu yang sebenarnya bagi saya, tema-tema cerita yang dimunculkan karena tidak jauh dari pengamatan lingkungan oleh Eka Kurniawan sebagai seorang mahasiswa.

Bisa ditebak secara sekilas kalau Eka Kurniawan adalah seorang cerpenis yang realis, sebagaimana dia mengangkat ceritanya langsung dari apa-apa yang bisa benar-benar terjadi di masyarakat. Namun Eka Kurniawan sebagai penulis tentu saja tidak semudah itu dan hendak memberikan sentuhan pada tulisan realisnya sendiri. Cerita-cerita realis tersebut tidak begitu saja ditulis apa adanya, melainkan diberikan sentuhan surrealis. Peleburan antara yang nyata dan tidak nyata membuat tema yang dibawakan di dalam cerita-ceritanya lebih nampak dan gamblang.

Sekilas apa yang saya tulis di atas berupa sebuah pujian. Sayangnya, di dalam kumcer Corat-Coret di Toilet ini jelas kalau Eka Kurniawan masih mencari suaranya selaku sebagai seorang cerpenis maupun penulis. Usaha dia meleburkan antara yang realis dan surrealis sering kali tidak berjalan dengan mulus. Ketika cerita  yang dibawakan dengan surrealis hanya untuk kemudian berakhir lagi melalui epilog yang realis, di situ muncul disonansi. Pembaca bukannya menangkap tema dengan jelas, malahan mereka akan bertanya-tanya apa yang sudah terjadi di dalam ceritanya sebagai akibat dari inkonsistensi naratif tersebut.

Tentu saja cerpen yang mengisi Corat-Coret di Dalam Toilet tidak melulu gagal dalam meleburkan batas antara realis dengan yang surrealis. Cerpen titular Corat-Coret di Dalam Toilet dapat dikatakan sebagai cerita terbaik kedua yang terdapat di dalam kumpula cerpen ini. Dia menceritakan sebuah dinamika sosial sebuah zaman, tidak hanya tempat melalui sudut pandang yang lazim sekaligus tidak lazim. Di cerpen ini lah, Eka Kurniawan mampu menceritakan sesuatu yang realis dengan bungkusan surrealisme dengan apik.

Kalau jeli, saya barusan bilang cerpen titular merupakan yang terbaik kedua. Karena memang, di dalam kumpulan cerpen ini ada cerita yang jauh lebih baik, sehingga kualitasnya menurut saya sudah cukup untuk menjustifikasi satu buku ini. Cerita tersebut betul-betul sempurna mengawinkan antara realisme dengan surrealisme. Padahal, cerpen yang dimaksud hanya menceritakan kehidupan seorang mahasiswa jurusan filsafat yang sangat urakan. Namun sedemikian aneh dan janggalnya sehingga kisah tersebut yang sudah pasti tidak nyata, memberi kesan bahwa dia diambil dari cerita yang nyata. Sayang, judul Kandang Babi membuatnya tidak bisa menjadi cerpen titular dari kumcer ini (karena bisa jadi malah dicap haram duluan).

Terlepas dari tidak berhasil dan berhasilnya upaya Eka Kurniawan dalam tulisan gaya surrealisnya, ada aspek penulisan lain yang patut dipuji. Tulisan dia tidak pernah menggunakan prosa-prosa yang kelewat canggih. Kata-kata dan susunan kalimat yang dipergunakan tidak berbeda jauh dari apa yang digunakan dalam keseharian kita. Namun penuturan narasinya berjalan sedemikian lancar, sehingga dengan sangat mudah melarutkan pembaca dia dalam cerpen-cerpennya (sampai disadarkan oleh epilognya). Gaya penulisan sederhana dan penuh kelancaran ini, yang bagi saya memberi harapan dan kesempatan untuk lanjut membaca karya-karya Eka Kurniawan yang lebih terkini.

Ketika resensi dibuat, sebenarnya saya pun sudah membaca Manusia Harimau, novel pendeknya yang telah mendapatkan penghargaan tersebut. Bisa saja saya melongkap kumcer ini dan langsung membahas karyanya yang lebih penting. Namun apa yang ditemukan dalam Corat-Coret di Toilet dengan Manusia Harimau cukup berbeda, dan layak untuk diperbincangkan lebih lanjut. Resensi ini maka menjadi dasar bagi resensi selanjutnya, yang akan membicarakan Manusia Harimau.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar