Jumat, 11 November 2016

Kearifan Lokal - Buah Cerita dan Pengalaman

Sebelumnya saya ingin, bukan, harus meminta maaf terlebih dahulu karena penundaan waktu yang begitu lama atas bagian ketiga dari serial Kearifan Lokal ini. Perkara kehidupan nyata dari skripsi yang akhirnya dapat diselesaikan sampai kemalasan akut menghalangi saya untuk menuntaskan pekerjaan yang telah dimulai beberapa bulan yang lalu. Sekarang saya kembali lagi untuk menjawab harapan dan rasa penasaran bagi yang menantikan artikel terakhir ini.

Pada bagian pertama saya membahas sangat panjang lebar apa itu Kearifan Lokal, definisi, dan ragam tingkatan wujudnya yang didasarkan pada pengamatan saya. Kemudian di kelanjutannya, saya melakukan sebuah diagnosa atas sikap dan obsesi (tidak sehat) insan kreatif Indonesia dalam memperlakukan kearifan lokal itu sendiri. Pada bagian akhir artikel tersebut saya memberikan sebuah saran, atau mungkin solusi lebih tepatnya untuk menjadikan kearifan lokal itu menjadi lebih efektif daripada sekedar upaya murah untuk menarik perhatian khalayak umum. Di artikel ketiga inilah, hubungan antara dua artikel pertama dikaitkan dan solusi tersebut didetilkan.

Masalah umum yang biasanya muncul pada pemfokusan aspek kearifan lokal itu sendiri adalah dikorbankannya nilai-nilai lain dari sebuah karya, utamanya cerita. Tidak jarang ini menjadikan karya-karya tersebut menjadi ensiklopedia dalam penyamaran. Atau bisa lebih buruk lagi, dia menggunakan sebuah elemen budaya lokal namun karakter, kerangka plot dan cerita menjiplak langsung dari cerita asing. Akhirnya kearifan lokal yang ditampilkan hanya berakhir pada tingkat kulit saja, mengandalkan elemen simbol atau visual untuk menarik rasa familiaritas dari khalayaknya.

Kejelian pembaca yang seringkali diremehkan akan menempatkan persepsi negatif pada kearifan lokal yang ditampilkan. Bukan barang asing ketika seseorang mengeluh mengapa elemen kebudayaan yang dipakai terasa begitu superfisial. Hanya kulit, sementara perilaku karakter dan jalan cerita yang ditampilkan sama sekali tidak merepresentasikan budaya yang elemennya dipinjam tersebut. Bagi pembaca yang lebih rileks, persepsi yang mereka dapatkan mungkin tidak akan sedemikian negatifnya, Namun tetap saja, kearifan lokal yang hanya mewujudkan diri sebagai visual atau simbol belaka tidak akan meninggalkan kesan yang berarti di hati. Kasarnya, karya tersebut jadi lempeng.

Mungkin ada yang mengatakan kalau yang salah dari awal di sini adalah niatan dalam menggunakan kearifan lokalnya. Si penulis atau penggubah tidak benar-benar berniat secara tulus ingin menghadirkan kearifan atau budaya tersebut kepada dunia. Bila niatannya sudah bagus dari awal, yakni untuk memasyurkan nama bangsa Indonesia, maka tentu karyanya otomatis menjadi berkualitas, dan kearifan lokalnya tidak akan jadi sekedar tempelan.

Perkataan tersebut tidak sepenuhnya salah (bagian tulus, bukan mumbo jumbo memasyurkan nama bangsa). Namun bagi saya pribadi, tidak ada masalah dari sebuah niat yang pragmatis (dan tentu saja harus tetap tulus). Seperti misal yang saya sebutkan sebelumnya yakni untuk menarik perhatian. Hanya saja mencapai hal tersebut tidak akan cukup bila kearifan lokal yang dimanfaatkan berhenti pada level visual. Kearifan lokal yang bersifat kulit belaka tidak akan mampu menarik dan mempertahankan perhatian khalayak pada karya tersebut.


Paling tidak dalam suatu karya yang hendak mengedepankan kearifan lokal sebagai hidangan utama, dia harus mencapai tingkat ritual. Sebagai ritual, kearifan lokal tidak akan sekedar menjadi kulit karena dia akan menyampaikan nilai-nilai. Melalui nilai-nilai tersebut, khalayak biasanya akan dapat menemukan refleksi pengalaman sendiri. Kedekatan dan refleksi atas nilai-nilai yang familier ini yang biasanya membentu hubungan khusus antara khalayak dengan karya yang mereka nikmati. Sudah pasti kita pernah merasakan sensasi ketika membaca cerita yang membuat kita bergumam "ini aku banget", secara sadar atau tidak, dalam hati maupun diucapkan langsung.


Tentu saja ini bukan tanpa efek samping. Pengedepanan ritual (atau kearifan lokal itu sendiri secara besar) akan membatasi cakupan karya itu sendiri. Antara dia menjadi karikatur, atau propaganda. Di sini tentu saja ada spektrum tengah, yang walaupun itu juga tidak lepas dari masalah karena biasanya pada spektrum ini kearifan lokal akan muncul seperti ensiklopedia. Setiap seluk beluk ritual tersebut harus dijelaskan sedemikian rupa karena tidak ada yang dapat mengisi "cerita" selain hal tersebut.

Selain keterbatasan spektrum, ada pemfokusan ritual itu sendiri dapat mengasingkan orang lain yang bukan menjadi bagian dari budaya kearifan lokal yang digunakan. Saya tidak langsung mengatakan hal ini sebagai sesuatu yang negatif, karena tergantung dari tujuan dan konteks karyanya itu sendiri, hal tersebut bisa menjadi buruk atau baik. Hanya saja yang tidak dapat disangkal di sini adalah bagaimana karya tersebut jadi memiliki sebuah batasan lebih supaya seseorang dapat mengaksesnya.

Apakah ada solusi atau obat bagi permasalahan ini? Mustahil kah sebuah karya memiliki kearifan lokal yang begitu kental tanpa mengasingkan orang lain? Ada, dan sudah saya sebutkan di artikel terdahulu yakni cerita. Kearifan lokal yang bagus itu pasti tetap akan bersifat partikular, namun cerita yang bagus itu universal. Kamu tidak perlu mengerti seluk-beluk intrik keluarga bangsawan Eropa untuk mengerti tragisnya kisah asmara antara Romeo dan Juliet. Begitu juga untuk memahami perjuangan Hasan dari novel Atheis yang religius melawan berbagai godaan duniawi tidak memerlukan pengetahuan mengenai agamanya secara khusus. Kedua cerita klasik tersebut dapat dinikmati sebahagian besarnya begitu saja meski kedekatan budaya pada latar akan membantu kita untuk dapat memahami ceritanya secara lebih mendalam.

Cerita adalah kanvas dan lukisan, sementara kearifan lokal itu adalah bingkai. Sebuah lukisan indah di atas kanvas tanpa bingkai lebih mudah dinikmati daripada bingkai cantik yang menggantung hampa. Ketika lukisan yang bagus dipajang dalam bingkai yang menawan, tentu itu sebuah situasi yang sangat ideal. Bila kamu mengerti kualitas bahan dari bingkai yang digunakan, dia akan menjadi nilai tambah sendiri, namun ilmu tukang kayu tersebut tidak akan benar-benar diperlukan untuk mengagumi keindahan lukisan yang dipandang secara utuh.

Ambil contoh dari strip komik Beni dan Mice yang saya tampilkan sebagai headline di atas. Bila diterjemahkan ke dalam bahasa inggris, bule tetap akan mengerti bahwa usaha Beni dan Mice untuk menghemat biaya dan waktu justru malah berakhir sebaliknya. Di sini kedua penggubah komik menyampaikan sebuah cerita "mau untung malah buntung" yang sekiranya bukan pengalaman asing di latar budaya mana pun. Hanya saja kearifan lokal yang membuat strip komik ini secara unik terasa Indonesia terdapat pada detail-detailnya. Seperti hendak membawa barang berat dengan motor, dan serba terburu-buru dengan alasan untuk menonton sepakbola. Detail-detail ini yang mendekatkan orang Indonesia kepada komiknya, namun tidak senantiasa menjadi penghalang bagi yang bukan untuk mengerti cerita "mau untung malah buntung" yang hendak disampaikan.


Sekarang marilah kita mengambil contoh dari posisi yang dibalik dengan yang di atas. Kobo-chan merupakan sebuah komik strip empat pane; yang setiap harinya diterbitkan di koran Jepang, tidak jauh berbeda dari Beni dan Mice yang kita miliki di Indonesia. Kesamaan lainnya adalah kontennya yang menceritakan "orang-orang biasa" dalam menempuh kesehariannya, meski pendekatan Kobo-chan lebih pada sekedar humor jenaka daripada humor karikatur yang lazim ditemukan di strip-strip Beni dan Mice.

Strip empat panel di atas menunjukkan salah satu cerita yang familier di Kobo-chan: Kobo yang menunjukkan ketidaksukaannya pada paprika. Bila membacanya begitu saja, hal yang paling melekat pada kita pastinya hanya perubahan sikap yang dimunculkan oleh Kobo terhadap Ibunya begitu sayuran yang dia tidak sukai disebut-sebut. Tidak sulit untuk mengerti nuansa humoris yang diceritakan dalam komik empat panel di atas.

Namun marilah telisik lebih dalam, dan mulai bertanya: mengapa harus paprika? Dulu saya pernah penasaran dengan pertanyaan itu ketika membaca komik strip lain yang menunjukkan ketidaksukaan Kobo terhadap paprika. Karena saya sendiri tidak pernah memiliki kebencian khusus pada sayuran tersebut meski pun jarang menemuinya di balik tudung saji makanan di rumah. Ketidaksukaan Kobo (dan secara implisit anak-anak lain yang menjadi temannya) terhadap paprika merupakan sebuah hal yang sangat janggal bagi saya yang tidak pernah mengalami ataupun mendapatinya dari teman-teman di masa kecil.

Setelah dipikirkan semakin jauh, saya mulai mengambil kesimpulan kalau ketidaksukaan anak-anak pada paprika adalah sebuah fenomena yang unik atau paling tidak lazim terjadi di Jepang. Paprika di Jepang merupakan salah satu sayuran yang biasa digunakan, terutama sebagai penambah gizi dalam masakan oleh para ibu bagi anak-anak mereka yang lagi berkembang. Rasa dan baunya yang menyengat bisa jadi alasan utama kenapa para anak-anak di Jepang sering memasang wajah ogah begitu melihatnya di bekal makanan mereka.

Buat orang Indonesia, paprika jarang sekali ditemukan sebagai bahan dalam masakan. Terdapat alternatif sayuran lain yang lebih lazim digunakan sebagai nutrisi bagi anak-anak. Dan dalam soal rasa dan bau yang menyengat, (daun) bawang menjadi pilihan favorit untuk tidak disukai, ketidaksukaan yang sering dibawa hingga dewasa. Maka konteks budaya yang disiratkan pada paprika di Jepang hanya dapat disampaikan sebagian ketika digantikan oleh (daun) bawang.

Persoalan paprika ini hanya salah satu dari banyak "kearifan lokal" Jepang lainnya yang ditampilkan dalam Kobo-chan. Bahkan cukup banyak strip lain yang memanfaatkan "kearifan lokal" yang lebih mengakar pada konteks budaya Jepang sebagai pembawa ceritanya. Meski pun demikian, Kobo-chan tetap bisa menghibur bagi kita-kita orang Indonesia yang pernah membelinya. Tanpa perlu me-lokal-kan pembawaannya, humor yang hendak disampaikan dalam empat panel strip Kobo-chan tetap dapat tersampaikan.

Dari kedua contoh, terlihat jelas bagaimana kearifan lokal menjadi faktor penting dalam membentuk simbol-simbol yang digunakan cerita. Namun dia tidak pernah menjadi inti dari penceritaan itu sendiri. Pengalaman atau ide-ide yang dituturkan oleh Kobo-chan dan Beni dan Mice didasarkan pada nilai universal yang sekiranya dapat tersampaikan terlepas dari latar belakang pembacanya. Kearifan lokal di sini menjadi sebuah elemen yang membuat setiap cerita unik kepada budaya asal mereka, namun tidak menjadi tembok penghalang bagi siapapun yang bukan dari bagian budaya tersebut untuk menikmatinya.

Memang pada akhirnya ini kembali lagi pada prioritas utama yang saya percayai harus dipegang setiap penutur cerita, yaitu menuturkan cerita itu sendiri. Memang pada prosesnya, setiap insan kreatif akan mendapati motivasi dirinya untuk bercerita dipengaruhi oleh berbagai macam hal, sehingga mempertahankan kemurnian "bercerita" senantiasa sangat sulit untuk dilakukan. Namun terlepas dari apapun motivasi yang mendorong sebuah karya untuk lahir, mengedepankan kualitas cerita itu sendiri merupakan hal terpenting yang harus dicapai oleh setiap insan kreatif.

Tidak ada yang salah memang dari berkeinginan memperkenalkan budaya kita sendiri kepada orang asing, atau bahkan sesama orang Indonesia itu sendiri. Tapi terpatri pada "kearifan lokal" belaka akan menempatkan kita pada sebuah pola pikir kacamata kuda yang senantiasa melupakan intisari dari sebuah cerita itu sendiri. Nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang seharusnya menjadi daya tarik, justru menjadi tembok yang menghalangi khalayak untuk dapat menikmati karya tersebut.

Lagipula, Kobo-chan hanya berniat untuk menceritakan keseharian keluarga Tabata. Hanya kebetulan saja mereka adalah keluarga Jepang yang masih percaya pada nilai-nilai tradisional, Mungkin tidak pernah terpikirkan oleh Ueda Masashi bahwa komik strip buatannya bisa dijual dan juga laku di Indonesia.

Yang dibutuhkan (komik) Indonesia saat ini adalah Kobo-chan, bukan Gatotkaca (lagi).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar