Minggu, 13 November 2016

Dongeng Masyarakat Modern

Artikel ini sebenarnya merupakan salah satu tulisan yang saya buat untuk kepentingan kuliah. Dari awal penulisannya saya sudah meniatkan agar buah pikiran ini bisa hadir di sini. Meski sudah mewanti-wanti diri agar tulisan yang dibikin tidak terlalu kaku, sayang ketakutan nilai buruk sebagai akibat dari bahasa yang kelewat liberal atau ngeblog akhirnya membikin nada tulisan dalam artikel terasa cukup berbeda. Semoga dimaklumi dan selamat membaca.

=============================

Inspiratif. Motivasional. Kedua kata tersebut telah menjadi buzzword yang populer terdengar atau terbaca di sekitar beberapa tahun belakangan. Beberapa, jika bukan banyak, kalangan nampak dengan cerita-cerita sukses di mana orang-orang yang terpinggirkan, para underdog masyarakat dapat meraih keberhasilan dan ketenaran melalui perjuangan dan kerja keras mereka seperti di tetralogi Laskar Pelangi.

Belum lagi talkshow di televisi semacam Kick Andy yang juga menghadirkan para bintang tamu yang memiliki cerita sukses serupa, dan ceramah-ceramah motivasional yang menjanjikan keberhasilan kepada pemirsanya apabila mereka mau mengikuti wejangan sang pengkotbah. Bilamana kisah inspiratif nan motivasional yang begitu banyak jumlahnya dan begitu digandrungi tersebut memang mampu menyukseskan mereka yang mengkonsumsinya, rasanya zaman keemasan akan menyongsong kita semua tidak lama lagi.

Namun tidak banyak berubah. Tidak ada zaman keemasan. Roda kehidupan dan peradaban jalan seperti apa adanya meski cerita inspiratif dan motivasional begitu digandrungi oleh masyarakat luas. Mereka yang begitu gemar dengan kisah sukses nan inspiratif terlalu mabuk untuk merubah diri sendiri. Sementara orang-orang yang sungguh meraih kesuksesan, mereka yang menjadi berhak untuk menulis cerita inspiratif berikutnya, dapat berhasil tersebut karena waktu dan usaha diupayakan segenap tenaga untuk mencapai tujuan mereka masing-masing. 

Kegagalan cerita motivatif dan kisah inspiratif bukan tanpa sebab. Kebanyakan dari mereka hanya menuturkan perjuangan dan kesuksesan yang hanya ingin didengar dan dapat diterima oleh pembacanya. Segala bentuk kenyataan dan sisi lain yang menunjukkan bahwasanya kesuksesan harus diperoleh melalui konflik dan cara tidak mulia disembunyikan atau bahkan tidak disebutkan sama sekali agar cerita-cerita tersebut tanpa cela untuk ditiru. Mereka tidak lebih daripada cerita dongeng untuk memberi tidur nyenyak bagi pendengarnya. 

Bagai kuda troya, niat mulia menjadi kulit luar yang menutupi bahaya yang berada di dalamnya. Cerita fiksi atau non-fiksi yang bertujuan baik tanpa menghadirkan tantangan hanya akan menjadi wish fulfillment bagi pembaca, penonton, atau pendengarnya. Kesuksesan yang dicapai oleh karakter utama dalam cerita-cerita tersebut merupakan katarsis dari ketidaksuksesan diri mereka sendiri. Proyeksi diri pada sosok karakter utama yang sukses tersebut membuat mereka merasa telah atau akan mencapai kesuksesan yang serupa. Namun ketiadaan aspek yang menantang pembaca, penonton, atau pendengarnya tidak benar-benar terdorong untuk berubah, menjebak mereka pada sebuah lingkaran setan status quo dengan rasa pemanis buatan.

Sayangnya kuda troya tersebut tidak hanya membawa bahaya bagi para individu. Kepopuleran cerita motitvatif dan cerita inspiratif membawa kepercayaan bahwasanya sebuah novel, film, atau cerita dalam bentuk apapun harus membawa manfaat ‘riil’ bagi penikmatnya. Cerita yang tidak memenuhi kriteria tersebut dipandang sebelah mata, dianggap tidak layak beli karena tidak ‘bermanfaat’. Tidak berlebihan bila dikatakan kalau kisah fiksi mendapat sebuah beban moral untuk memotivasi atau menginspirasi pembaca, atau penontonnya. Bila tidak  memiliki "nilai-nilai berguna", kisah fiksi tersebut pantas untuk diacuhkan karena hanya menyita waktu kita dari keseharian yang sudah membosankan.

Dengan beban moral tersebut, para insan kreatif akhirnya menjadi lupa tugas utama mereka untuk menuturkan cerita yang bagus. Unsur-unsur inspirasional dan motivasional dimasukkan secara paksa maupun sukarela meskipun narasi yang dituliskan tidak mendapatkan manfaat darinya. Paling buruk, dilakukan perubahan secara besar agar naskah diberikan tidak dapat ditolak oleh penerbit dan berharap mendapatkan kesuksesan yang serupa seperti cerita inspiratif dan kisa motivatif terdahulu. 
Tidak ada yang lebih buruk bagi insan kreatif ketika kebebasan berkarya mereka dikekang oleh sebuah beban moral. Seberapa pun mulia beban moral tersebut kelihatannya secara sekilas, pada akhirnya hasil yang dicapai akan berkebalikan dari tujuan yang diinginkan. 

Ketika seniman tidak diperkenankan memperlihatkan realitas atau cerminan dari insannya sendiri, dia menjadi sekedar propagandis dan karya-karyanya menjadi sekedar kepingan propaganda bagi sebuah tujuan moral ‘mulia’ yang hendak dicapai. Padahal karya-karya yang sesungguhnya dapat memberi inspirasi secara nyata adalah mereka yang secara jujur menghadapkan pembaca, atau penontonnya pada sebuah cermin bernama realitas. Melalui cermin tersebut, pembaca atau penonton akan dihadapkan pada suatu kenyataan yang menantang. Mereka dapat merefleksikan diri pada posisi yang ditempati atau ide yang dipercayai, merubah status quo yang berlangsung. Dapat dikatakan karya-karya seperti merupakan anti-tesis dari cerita inspiratif dan kisah motivasional yang populer dewasa kini. 

Kisah-kisah inspirasional dan motivasional ini akhirnya menjadi sebuah dongeng bagi masyarakat modern. Nilai moral digantikan oleh sifat kerja keras, dan nilai etos kerja lainnya yang dipercayai akan membawa seseorang pada kesuksesan. Dia memberi ketenangan bagi penyimaknya bahwa terdapat kesuksesan dibalik nilai-nilai yang disampaikan. Juga seperti dongeng, dia adalah kisah yang senantiasa dituturkan sebelum tidur, dan kemudian dilupakan seluruhnya di pagi hari. Namun tidak seperti dongeng, dia bukan cerminan masyarakat di saat dongeng tersebut dituturkan.



Munculnya kasus pada salah satu motivator ulung akhir-akhir ini mungkin bisa membangunan masyarakat kita dari ninabobo angan-angan kesuksesan tersebut. sayangnya ketika salah satu peritel buku terbesar di Indonesia menjadi "Inspiratif" sebuah salam, rasanya akan cukup lama bagi untuk terlepas dari dongeng mimpi (buruk) ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar