Minggu, 27 November 2016

GBHN - Garis Besar Haluan Ngawurisme

Piye kabare? Beberapa dari pembaca budiman mungkin penasaran kenapa blog ini yang tadinya lebih sepi dari kuburan pinggir pantai mendadak ramai dan mulai diisi oleh konten-konten baru. Di tahun lalu saya pernah melakukan sesumbar yang persis akan dilakukan di sini. Membacanya lagi cukup malu rasanya karena kedua poin utama yang saya utarakan tidak terpenuhi. Pertama, bahasa blog saya tetap sama kakunya dengan pakaian yang direndam dalam larutan kanji. Kedua, blog berbahasa inggris yang saya sebut masih berupa domain dan angan-angan belaka.

Minggu, 20 November 2016

[Resensi] The Lions of Al-Rassan

Judul : The Lions of Al-Rassan
Pengarang : Guy Gavriel Kay
Penerbit :  Harper Voyage
Tahun : 1995
Genre : Fantasy, Historical
Tebal : 528

Sinopsis
Kaum Ashar, penguasa padang pasir menyebrangi selat dan menguasai hampir seluruh semenanjung Esperana beratus tahun yang lalu. Pernah berjaya sebagai salah satu peradaban paling termashyur di masa-masa keemasannya, Al-Rassan telah pudar kejayaannya dan terpecah-pecah menjadi kerajaan kecil yang saling berkelahi satu sama lain. Sementara itu kaum Jad, mereka yang dahulu kala penguasa asli Esperana, mulai bangkit kembali dan berkehendak mengklaim ulang apa yang dianggap bagian dari warisan leluhur mereka. Waktu terus berubah, dan lebih banyak darah akan tertumpah.

Ulasan

Sekilas genre yang saya berikan di atas nampak begitu janggal: fantasy dan historical. Kedua genre tersebut berdasarkan akal sehat terasa sulit untuk kompatibel satu sama lain. Namun bagi mereka yang sudah mengunjungi blog ini dari waktu-waktu dulu, saya sudah pernah meresensi mahakarya novel historical fantasy sebelumnya. Novel yang dimaksud sebelumnya bisa mendapatkan status mahakarya pada kedua genre tersebut di mata saya berkat kepenulisan dan kemampuan sang penulis di dalamnya. Apakah novel ini serupa dalam hal demikian? Saya jawab saja sekarang: tidak. Bagi yang tertarik alasan mendalam dibalik kekurangan novel jadul nan obskur ini, silahkan teruskan ke bawah. Bagi yang tidak, mungkin ada bacaan lain di blog ini yang lebih menarik.

Rabu, 16 November 2016

Not My Hero dan Pesan Politik

Sudah lewat tiga tahun semenjak tulisan terakhir (dan juga pertama) yang membahas sebuah komik secara spesifik (atau lebih tepatnya kompilasi komik). Setelah sekian lama waktu berlalu dan begitu banyak hal berubah serta berkembang, saya rasa sudah saatnya untuk pindah dari hal-hal besar soal perkomikan dan mulai melihat hal yang lebih kecil.

Tahun 2015 dan tahun 2016 adalah tahun yang saya rasa cukup semarak untuk perkomikan Indonesia. Tapi dari sedemikian banyak komik yang hadir dua tahun belakangan, saya ingin berbicara lebih akan Not My Hero yang diterbitkan oleh Kosmik Bercerita tentang Dimas yang mempertanyakan legitimasi kekuatan (dan kekuasaan) kelompok ranger-nya sendiri, Not My Hero merupakan sebuah cerita dekonstruksi tulen. Dia menyalakan saklar realita bukan hanya untuk keren-kerenan, pamer kematian, darah, dan jeroan manusia di gambarnya. Cerita dan tema yang ditampilkan Not My Hero tidak hanya kesungguhan upaya dekonstruksi atas genre tokusenka, namun juga lecutan komentar dan kritik atas kondisi sosial-politik Indonesia.

Minggu, 13 November 2016

Dongeng Masyarakat Modern

Artikel ini sebenarnya merupakan salah satu tulisan yang saya buat untuk kepentingan kuliah. Dari awal penulisannya saya sudah meniatkan agar buah pikiran ini bisa hadir di sini. Meski sudah mewanti-wanti diri agar tulisan yang dibikin tidak terlalu kaku, sayang ketakutan nilai buruk sebagai akibat dari bahasa yang kelewat liberal atau ngeblog akhirnya membikin nada tulisan dalam artikel terasa cukup berbeda. Semoga dimaklumi dan selamat membaca.

=============================

Inspiratif. Motivasional. Kedua kata tersebut telah menjadi buzzword yang populer terdengar atau terbaca di sekitar beberapa tahun belakangan. Beberapa, jika bukan banyak, kalangan nampak dengan cerita-cerita sukses di mana orang-orang yang terpinggirkan, para underdog masyarakat dapat meraih keberhasilan dan ketenaran melalui perjuangan dan kerja keras mereka seperti di tetralogi Laskar Pelangi.

Jumat, 11 November 2016

Kearifan Lokal - Buah Cerita dan Pengalaman

Sebelumnya saya ingin, bukan, harus meminta maaf terlebih dahulu karena penundaan waktu yang begitu lama atas bagian ketiga dari serial Kearifan Lokal ini. Perkara kehidupan nyata dari skripsi yang akhirnya dapat diselesaikan sampai kemalasan akut menghalangi saya untuk menuntaskan pekerjaan yang telah dimulai beberapa bulan yang lalu. Sekarang saya kembali lagi untuk menjawab harapan dan rasa penasaran bagi yang menantikan artikel terakhir ini.

Pada bagian pertama saya membahas sangat panjang lebar apa itu Kearifan Lokal, definisi, dan ragam tingkatan wujudnya yang didasarkan pada pengamatan saya. Kemudian di kelanjutannya, saya melakukan sebuah diagnosa atas sikap dan obsesi (tidak sehat) insan kreatif Indonesia dalam memperlakukan kearifan lokal itu sendiri. Pada bagian akhir artikel tersebut saya memberikan sebuah saran, atau mungkin solusi lebih tepatnya untuk menjadikan kearifan lokal itu menjadi lebih efektif daripada sekedar upaya murah untuk menarik perhatian khalayak umum. Di artikel ketiga inilah, hubungan antara dua artikel pertama dikaitkan dan solusi tersebut didetilkan.