Sabtu, 20 Februari 2016

[Resensi] Dune

Judul : Dune
Pengarang : Frank Herbert
Penerbit :  Ace Books
Tahun : 1965 (asli), 2005 (edisi 40 tahun)
Genre : Fantasy
Tebal : 528

Sinopsis
Arrakis, sebuah planet tandus yang hanya dipenuhi oleh padang pasir. Air begitu langka sehingga dapat lebih berharga daripada uang. Cacing raksasa menguasai dan berkeliaran di sepanjang padang pasir Arrakis. Satu-satunya planet yang memiliki rempah bernama melange, bahaya dan tandusnya Arrakis tetap membuatnya menjadi perebutan antara klan-klan bangsawan di galaksi. Klan Atreides, menjadi target dari konspirasi antara klan Harkonen dan Kaisar Saddham IV karena telah mengambil Arrakis dari tangan mereka. Sementara itu Paul, penerus dari klan Atreides, menjalani tes spiritual kaum mistis bene gesserit, dan mendapati dirinya sebuah mimpi. Mimpi dimana dirinya menjadi sang messiah bagi kaum fremen dan memimpin mereka pada sebuah perang suci yang akan membakar Arrakis dan seluruh galaksi.

Ulasan
Dune merupakan salah satu karya yang sering disebut sebagai "klasik modern", seperti The Man in The High Castle yang sebelumnya telah saya resensi. Sama juga dengan The Man in The High Castle, Dune karya science-fiction seminal yang merubah dan memberi pengaruh besar bagi genre tersebut hingga masa kini. Namun benarkah demikian? Apabila jeli, pembaca mungkin akan tersadar dan bertanya mengapa saya menulis fantasy di bagian informasi di atas. Saya akan menjawab ini secara detail, disertai kekecewaan saya terhadap Dune.

Jumat, 12 Februari 2016

Kearifan Lokal - Obsesi (Komik) Indonesia

Jumpa lagi dengan saya. Ini post pertama untuk tahun ini dan diharapkan isinya dapat memuaskan serta menjadi cerminan bagi pos-posnya berikutnya. Memang cukup telat saya rasa, hampir dua bulan berlalu semenjak artikel pertama dirilis. Penyakit tarsok saya belum sembuh, dan memang harus segera dibasmi mengingat saya sendiri banyak ide artikel, dan cerita. Ditambah urusan skripsi di depan mata, tidak boleh ada yang ditunda-tunda lagi, dimulai dari artikel ini.

Cukup dengan introduksi panjang dan curhat pendek, saya akan kembali membicarakan persoalan kearifan lokal. Pada artikel sebelumnya memuat pemahaman saya atas apa itu yang disebut sebagai kearifan lokal agar pembaca mendapat pengertian yang sama. Di artikel lanjutannya ini akan saya tulis bagaimana perkara kearifan lokal itu menjadi obsesi tersendiri. Sebuah obsesi tidak sehat yang sebenarnya tidak hanya terdapat pada komik saja, sehingga saya harus meletakkan kurung pada judul di atas.