Kamis, 31 Desember 2015

[Resensi] The Man in the High Castle

Judul : The Man in the High Castle
Pengarang : Philip K. Dick
Penerbit :  The Library of America
Tahun : 1962
Genre : Science Fiction, Alternate History
Tebal : 229

Sinopsis
Di sebuah jalur waktu di mana Kubu Poros memenangkan Perand Dunia II, Amerika Serikat terbagi menjadi dua. Buku I Ching menjadi sama umumnya dengan buku kuning. Di bawah Nazi Jerman, manusia bisa menduduki bulan dan menjelajahi planet Mars. Di sini orang-orang biasa mencoba hidup kembali di dunia pasca perang di mana memiliki darah yang salah akan berujung kematian yang kejam. Sebuah dunia yang menghadapi perang dingin yang bilamana pecah, akan melenyapkan peradaban dari muka bumi.


Ulasan
Alternate history atau sejarah alternatif merupakan sebuah konsep yang pada dasarnya menarik. Dia membiarkan kita berimajinasi atas rangkaian skenario apa-yang-bisa-terjadi setelah dipicu oleh divergensi, kecil atau besar pada sebuah kejadian seminal dalam seminal. Wajah dunia dan sejarah yang sangat berbeda yang dapat muncul dari divergensi tersebut menjadi sebuah hal yang dapat memberi ketakjuban atau bahkan kengerian ketika seseorang sekedar membayangkannya. Tidak mengherankan apabila sejarah alternatif memiliki satu buah forum internasional yang dideikasikan sepenuhnya untuk menampung ide-ide yang muncul di benak para penggila sejarah.

Salah satu sejarah alternatif yang paling sering muncul dalam media adalah sebuah alur sejarah di mana Perang Dunia II dimenangkan oleh kubu yang berbeda. Tidak sulit mencari cerita di mana Nazi Jerman dan/atau Imperium Jepang memerintah di atas dunia, biasanya dalam sebuah penggambaran yang mengerikan melalui deskripsi-deskripsi detil yang dapat membuat bulu kuduk merinding. Sayangnya tidak jarang juga ada yang justru memberi romantika pada jalur sejarah di mana kedua pemerintahan lalim tersebut berkuasa.

Meski jumlah sejarah-alternatif Perang Dunia II banyak jumlahnya, hanya sedikit yang betul-betul diakui kualitas maupun kemasukkalan dari skenario yang dihadirkan. The Man in The High Castle, novel yang ditulis  oleh penulis science-fiction termashyur, Philip K. Dick (PKD), merupakan salah satu yang tidak hanya diakui namun merupakan karya yang seminal dalam sastra populer.

Dalam novel pendek ini PKD tidak mengambil sudut pandang besar yang hanya menceritakan sejarah alternatifnya melalui serangkaian peristiwa penting dituturkan oleh pemegang kekuasaaan. Dia lebih memilih sudut pandang sederhana di mana kisah yang dituliskan menceritakan keseharian orang-orang biasa dalam menempuh hidup mereka dalam dunia sejarah alternatif yang dibuat olehnya.

Maka demikian penggambaran dunia sejarah alternatif yang dihasilkan PKD ini tidak diberikan melalui paragraf-paragraf deskripsi yang kaku, panjang, dan otorittatif. Dunianya dibangun secara perlahan dengan dialog antar karakter di mana mereka hanya menceritakan keseharian yang dihadapi. Pada setiap kesempatan tersebut, PKD memang memberikan paragraf deskripsi namun deksripsi yang diberikan merupakan elaborasi singkkat sebelum narasinya berlanjut pada dialog berikutnya dan memajukan laju cerita. Hal ini yang kemudian menjadikan narasi The Man in The High Castle memiliki sebuah alur yang terasa alami dan melarutkan pembaca kedalam dunia yang dituturkan di dalamnya.

Namun elemen paling esensial dari narasi The Man in The High Castle adalah subtilitasnya. PKD dalam penulisan suatu deskripsi tidak pernah berlebihan dan terlalu berbunga-bunga. Bahasa yang digunakan ringkas, tidak bertele-tele, menghasilkan deskripsi yang hanya memberikan informasi esensial, sementara detailnya diserahkan sepenuhnya pada imajinasi pembaca untuk mengisinya. Sehingga ketika PKD menuliskan apa yang dilakukan Nazi seusai memenangkan perang, keringkasan deskripsinya tersebut menambahkan sebuah rasa angker dan mencekam karena pembaca dengan sendirinya dapat membayangkan apa yang sebenarnya terjadi. Keringkasan informasi tersebut menyiratkan sebuah horor yang karakter maupun narasi  The Man in The Castle itu sendiri tolak untuk didetailkan.

Penulisan PKD yang sebagian besar didasarkan pada keringkasan dan subtilitas tersebut menghasilkan sebuah kualitas narasi yang alami dan tidak dikdatik. Segala horor yang diimplikasikan melalui deskripsi Nazi yang dituturkan dalam novelnya dihadirkan sebagai sebuah hal yang secara alami akan terjadi apabila skenario tersebut berupa kenyataan. Walaupun PKD mengalami trauma mental setelah meneliti Nazi untuk The Man in The High Castle, dia tidak pernah memberikan penghakiman kepada para tokoh Nazi. Dia menggambarkan mereka apa adanya, sesuai dengan deskripsi karakter mereka sendiri di dalam catatan sejarah, menyerahkan penilaian sepenuhnya kepada pembaca.

Subtilitas tersebut tidak hanya terbatas pada deskripsi dan narasi saja. Karakter yang terlibat dalam konflik utama The Man in The High Castle menunjukkan karateristik dan kualitas mereka melalui interakasi yang berwujud sublim. Robert Childan ketika berbicara menggunakan kalimat yang dirangkai dengan kata-kata yang begitu sopan, mengesankan secara implisit bagaimana dia yang mesti mendua perasaannya terhadap Jepang, tanpa sadar sudah berusaha menyerupai penjajahnya.

Di luar dari subtilitas, The Man in The High Castle memiliki kualitas lain yang patut diberi perhatian, yakni elemen meta. PKD menggunakan elemen meta dalam narasi tidak hanya untuk unjuk kecerdikan saja sebagaimana elemen tersebut menjadi bagian yang esensial bagi The Man in The High Castle itu sendiri. Dia membicarakan konsep sejarah alternatif itu sendiri dengan menuliskan sebuah sejarah alternatif lain di narasinya dalam wujud Grasshopper Lies Heavy. Pada salah satu momen, seorang karakter yang hendak membaca novel tersebut berkhayal bagaimana jadinya sebuah dunia di mana Amerika Serikat dan Uni Sovyet menjadi pemenang dari PDII, merefleksikan kenyataan yang terjadi pada dunia nyata. Senggolan tersebut yang kemudian menjadikan saya berpikir bagaimana realita kita ini sendiri bisa menjadi sebuah jalur lain dalam sejarah alternatif.

The Man in The High Castle memang sebuah novel yang singkat. Namun narasi yang disajikan melalui bahasa ringkas yang padat serta mengandung banyak subtilitas di dalamnya menjadi The Man in The High Castle terasa begitu padat, dan berakhir pada panjang yang sesuai. Tidak mengherankan apabila novel ini menjadi sebuah karya sejarah alternatif dan sains fiksi yang seminal. Subtilitas dan elemen meta dalam The Man in The High Castle begitu mantap eksekusinya sehingga saya sangat ragu apabila dia dapat diadaptasi ke dalam medium lain.

(Iya, saya menyarankan agar membaca novelnya daripada menonton adaptasi serial televisinya.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar