Kamis, 03 September 2015

[Resensi] City of Stairs

Judul : City of Stairs
Pengarang : Robert Jackson Bennett
Penerbit :  Random House
Tahun : 2014
Genre : Fantasy, Mystery
Tebal : 452

Sinopsis


Kota Bulikov memegang kekuatan ilahi dan dengannya, menguasai seluruh dunia. Namun pada 80 tahun silam, yang tidak terbayangkan terjadi; para ilahi yang menjadi sumber kekuatan dan kekuasaan Bulikov, mati terbunuh satu-persatu dengan cara yang misterius oleh Kaj Agung, pahlawan bangsa Saypur. Sang penakluk sekarang menjadi yang ditaklukan, dan yang tadinya terjajah menjadi sang penjajah, Saypur menegakkan World Regulation, sebuah rangkaian hukum yang melarang rakyat Bulikov untuk menyembah atau bahkan menyebutkan nama dari ilahi mereka yang telah mati. Hukum tersebut menjadikan ilahi sebagai sesuatu yang profan, melindungi Saypur dari rasa takut akan bangkitnya Bulikov kembali. Namun sebuah pembunuhan atas seseorang, sejarawan Saypur yang mempelajari hal-hal ilahiah terjadi. Konflik lama 80 tahun silam yang dianggap sudah selesai kembali muncul, dan meskipun hanya sedikit, kekuatan ilahi tetap terlibat.


Ulasan
Buku ini mendapat perhatian saya setelah membaca resensi dari seseorang yang saya percayai. Tidak ayal saya langsung memasukkan kedaftar to-read di lemari Goodreads dan merasa cukup hype baik ketika melihatnya di layar, memesan, dan menunggunya tiba. Premis fantasinya mengenai sosok ilahiah yang terlibat langsung dengan kemanuisaan ditambah dengan fokusnya pada aspek misteri dan politik merupakan resep yang terdengar sangat menarik. Ketika City of Stairs datang dengan 5 buku lainnya yang dipesan, buku ini yang langsung segera juga saya baca.

Setelah beberapa minggu (lama karena konsentrasi membaca buku berkurang drastis sejak awal tahun) membacanya, City of Stairs bisa saya selesaikan. Apakah yang saya temukan di dalam buku menjawab dan memenuhi hype yang cukup besar?

Sayangnya, tidak.

Jawaban lebih panjangnya, tidak, City of Stairs tidak sepenuhnya memenuhi ekspetasi saya. Dari apa yang dibaca sebenarnya City of Stairs telah memenuhi premis yang dijanjikannya dengan baik. Hanya saja banyak hal lain, salah satunya pembawaan tema melalui premisnya, yang kemudian menjadikannya cukup mengecewakan karena tidak dilakukan dengan baik dan elegan.City of Stairs memang buku menarik, namun juga tetap mengecewakan pada akhirnya.

Pertama saya akan membicarakan bagian paling menarik sekaligus bagian yang mendapatkan eksekusi cukup baik, yakni elemen fantasinya. City of Stairs membangun banyak, apabila bukan semua, elemen fantasinya melalui hubungan antara sosok ilahian dengan mahluknya. Fokus antara kedua hal tersebut, yakni antara ilahi atau tuhan dengan pengikutnya, memberikan rasa yang kuat dan unik pada elemen fantasi yang dimiliki oleh City of Stairs. Meski di dalam fantasi saya sering melihat agama dan dewa-dewa fiktif menjadi bagian elemen fantasi, anehnya hubungan antara ilahi dengan mahluknya jarang sekali ditampilkan atau kalaupun iya, dalam wujud yang sangat simplisistik. Karenanya, City of Stairs layak untuk dipuji.

Sesungguhnya banyak elemen fantasi di dalam City of Stairs disampaikan melalui narasi eksposisi, dilakukan oleh seorang agen rahasia yang sedang mengobrol dengan gubernur jendral di dalam mobilnya atau menyiapkan makanan karena depresi. Infodump memang salah satu upaya penyampaian ide yang buruk. Namun dalam kasus City of Stairs, elemen fantasi yang disampaikan tetap terasa fantastis, dan bahkan menggiring saya masuk kedalam dunianya. Ini semua dapat terjadi berkat kemampuan menulis Robert Jackson Bennett dalam mengolah prosa dan pilihan kata. Tulisannya yang berkaitan dengan elemen fantasi dapat dia wujudkan dalam sebuah elaborasi yang jelas, indah, dan menarik pembacanya kepada dunia fantastis yang diciptakan. Penulisan dan prosa yang berkaitan dengan elemen fantastis merupakan titik tertinggi dari buku ini.

Robert Jackson Bennett menggunakan elemen serta trope misteri dalam menangani plot dan konflik di City of Stairs. Dapat dikatakan ini sebagai suatu hal yang tidak lazim mengingat premis cerita yang ada melibatkan penjajahan suatu bangsa yang dulu sangat bergantung pada tuhan mereka oleh bangsa lain yang dulunya dijajah dan sekarang melarang mereka untuk menyembah (sisa) dari tuhannya. Premis tersebut dengan mudah memanfaatkan elemen dan trope dari genre lain terutama yang lebih lazim di fantasi seperti epik perang. Namun Jackson Bennett menggunakan misteri, menjadikan karakter yang terlibat lebih sedikit sehingga konflik yang ada terasa lebih personal. Tidak hanya itu, penggunaan  elemen misteri yang efektif dan kemampuan Jackson Bennett dalam memanfaatkan foreshadowing secara baik menjadikan konflik yang terjadi plot cerita berjalan terasa menarik dan mengagumkan untuk disimak. Memang elemen misteri yang digunakan semakin berkurang di akhir cerita sehingga pada akhirnya sebagai buku misteri, City of Stairs terasa kurang baik, tapi baik penggunaan dan eksekusinya dia tetap salah satu bagian dari buku yang saya puji.

Apakah baru saja saya menyebutkan kekurangan? Ya, saya menyebutkan soal kekurangan dan berikutnya seusai paragraf ini, saya akan menuliskan banyak kekurangan dari City of Stairs yang pada akhirnya jadi mengecewakan.

Perhatikan baik-baik ketika saya memuji penulisan Robert Jackson di atas. Secara spesifik saya mengatakan "Tulisannya yang berkaitan dengan elemen fantasi". Ditulis demikian karena penulisannya di luar hal-hal fantastis Robert Jackson Bennett kehilangan sentuhan magisnya. Prosanya terasa seperti bercampur aduk. Tidak ada konsistensi yang muncul dalam prosa non-fantastisnya untuk dapat menciptakan atmosfir keberlainan dari dunia fiktif yang diciptakan. Apabila bukan karena kemampuannya dalam menyuguhkan elemen fantastisnya dengan begitu magis, kualitas City of Stairs sebagai fantasi tidak akan lebih baik dari trilogi The First Law dan Mistborn.

Inkonsistensi prosanya ini meluber ke persoalan lain. Salah satu yang bagi saya penting bagi sebuah karya fantasi adalah adamya rasa solid dari periode waktu di mana setting cerita tersebut digunakan. Ketika suatu kisah fantasi menggunakan setting era abad pertengahan, maka saya akan mengharapkan seorang prajurit rendahan untuk tidak menggunakan kata investasi. Ketika mengambil setting di era pseudo-victoria, saya harapkan karakter bangsawannya untuk menggunakan setiap istilah saintifik yang dapat ditemukan pada era tersebut. Penggunaan kosa kata yang membentuk prosa di luar dialog pun sama pentingnya di sini, karena digunakannya kata yang kelewat dari masanya akan membuat pembaca membayangkan versi modern dari apa yang kata tersebut maksudkan.

Pada kasus City of Stairs, ada beberapa kata yang digunakan memberikan kesan setting yang digunakan menyerupai era Victoria. Kata-kata yang dimaksud ialah seperti gas lamp, dreadnought, dan telegram. Penekanan atas pentingnya rel kereta api sebagai infrastruktur semakin memperkuat setting yang hendak ditampilkan. Sayangnya kata modern seperti car malah digunakan ketika automobile lebih lazim untuk digunakan. Headline dan judul artikel koran yang ditampilkan dalam cerita tersusun dan terbaca seperti berita pagi yang ditemui di koran (Amerika) setiap pagi harinya. Ini sangat berbeda jauh dengan Alloy of Law yang dengan sangat cantik dapat menyusun judul berita yang rasanya seperti diambil langsung dari era Victoria. Hal-hal tersebut membuat City of Stairs gagal memiliki setting waktu yang terasa konsisten sepanjang cerita berjalan. Begitu saya merasa ceritanya berlatarbelakang di era Victoria, cerobong mengniupkan asap yang membumbung tinggi, pejalan kaki yang senantiasa berpakaian rapi menggunakan kemeja, suspender, jas, topi tophat, atau poorboy berlalu lalang menembus kesibukan kota untuk mencari penghidupan. Semua bayangan tersebut buyar ketika kata car digunakan karena apa yang terbayang adalah mobil modern yang menggunakan mesin diesel dan bukan monopoli kaum kaya belaka. Kalau misal dikatakan latarbelakangnya pada era modern, kenapa kota Bulikov masih menggunakan gas lamp dan mengapa dreadnought masih merupakan simbol kekuatan angkatan laut Saypur?

Ketika saya bilang inkonsistensi ini meluber kemana-mana, masalah ini memang menyangkut ke berbagai hal karena prosa tidak menyangkut latar belakang secara fisik, namun juga yang lebih subtil seperti budaya dan perilaku masyarakatnya. Di resensi tulisan Luz yang saya tautkan di atas, beliau memuji penggunaan setting pseudo-rusia/pseudo-asia tengah/pseudo-india-nya yang unik. Kalau secara kasat mata, yakni nama karakter dan kota mungkin iya. Sayang seperti yang saya tulis sebelumnya, ada lebih dari latarbelakang dari sekedar nama saja. Budaya lebih memainkan peran besar dalam membangun latarbelakang yang solid, dan perilaku serta adat istiadat yang menjadi salah satu bagiannya, merupakan hal esensial apalagi mengingat premis adanya penjajahan yang berlangsung.

Sebelumnya saya mengatakan penggunaan elemen misteri menjadikan City of Stairs secara skala dan cakupan menjadi lebih personal. Demikian benar adanya karena memang lebih banyak hal yang ditunjukkan pada tingkat interaksi antar karakter. Penjelasan yang diberikan demikian adanya pun lebih memfokuskan pada aspek keilahian dan hubungan mereka dengan pengikutnya di masa lalu. Singkat kata, ruang diberikan untuk memperlihatkan bagaimana budaya yang dimiliki serta perilaku masyarakat yang terlibat, begitu sedikit.

Tapi penunjukkan suatu budaya dan perilaku masyarakat tidak hanya dilakukan secara makro. Dia juga dapat diperlihatkan secara mikro alias pada tingkat karakter. Apakah hal tersebut sudah dilakukan Jackson Bennett? Saya rasa dilihat dari caranya saya terus menggerutu, jawabannya jelas tidak. Tidak ada sama sekali perilaku yang ditunjukkan para karakternya sebuah perilaku atau bahkan kebiasaan kecil saja yang menunjukkan asal-usul mereka. Semua tindakan yang dilakukan terasa terlalu familier, menjadikan nama-nama asing yang dimiliki sekedar kosmetik belaka.

Pada kata "asing" dan "familier", saya merujuk pada siapa? Tentu saja pada Robert Jackson Bennett, seorang penulis Amerika Serikat. Saya tidak akan mempermasalahkan asal-usul penulis apabila latarbelakang dirinya tidak merembes masuk kedalam cerita dan menimbulkan disonansi yang menggangu. Tidak masalah apabila suatu fantasi tidak menunjukkan masyarakat fiktifnya memiliki budaya sendiri yang unik, seperti di Mistborn misal yang menurut saya cukup steril pada bidang tersebut. Orang-orang di buku tersebut tidak menggunakan skema budaya tertentu yang diambil dari dunia nyata. Penamaan mereka masih sejalan dengan latarbelakang nuansa pseudo-eropa. Antara karakter dan latarbelakang, tidak ada disonansi terjadi.

Menjadi masalah (bagi saya) begitu muncul disonansi antara budaya yang digunakan sebagai dasar refrensinya dengan perilaku karakter atau masyarakat yang ditunjukkan. Saypur dari penamaan dan deskripsi fisiknya jelas diambil dari kebudayaan India atau wilayah Asia Selatan. Namun dari sekali lihat saja dapat dilihat mereka berperilaku seperti orang Amerika Serikat, yang modern pula. Dapat ditengok pada cara bagaimana Shara Komayyid berinteraksi dengan bibinya, Vinya Komayyid. Selain itu yang menurut saya lebih jelas, karakterisasi Mulagesh sebagai seorang prajurit yang stereotipnya sangat spesifik sering digambarkan pada karakter dari Amerika Serikat; santai, sering mengumpat menggunakan kata shit dan fuck (di sini saya menyadari betapa penting kata umpatan dalam membangun latarbelakang yang solid, seperti yang dilakukan Mieville dalam novel-novelnya), tidak peduli dengan protokol, dan meneriaki bawahan prajuritnya dengan kata soldier. Dari semua stereotip karakter prajurit yang ada, mengapa harus ini yang diambil? Pertanyaan itu mengiang-ngiang di kepala.

Dari premis yang hadir, sekilas nampak bahwa City of Stairs akan mengambil masalah imperialisme atau penjajahan sebagai salah satu temanya. Dan memang, pada bagian awal-awal cerita hal ini banyak disinggung dan seolah akan menjadi bagian besar yang akan menentukan bagaimana konflik dan penyelesaiannya dibungkus. Sayang tiba-tiba saja masalah penjajahan itu tidak pernah disinggung lagi, hilang, lenyap, dilupakan. Sampai kemudian muncul kembali menjelang buku berakhir di mana persoalan penjajahan ini ditutup dengan tidak memuaskan dan sudut pandang yang begitu naif bagaimana setelah 80 tahun menjajah, memeras, dan mematikan budaya, Saypur dan Bulikov dapat bersama-sama menyongsong masa depan sebagai pihak yang setara.

Presentasi karakter pada umumnya telah dieksekusi dengan baik. Hanya saja ada satu karakter yang perilakunya terasa inkonsisten dengan penggambaran yang dituliskan pada narasinya, dan karakter tersebut adalah Shara Komayyid, si karakter utama. Apa yang saya maksud dengan inkonsisten? Narasi memberitahu bagaimana Shara adalah agen veteran sekaligus yang terbaik dalam bidangnya. Dia memiliki pengalaman kurang lebih selama belasan tahun untuk membuktikannya, juga diberitahu melalui narasi. Tapi pada praktiknya, banyak hal kecil (aspek yang menurut saya paling menentukan solid tidaknya suatu karakter) yang dilakukan oleh dia tidak menunjukkan profesionalitasnya. Shara, yang dalam penyamaran, memanggil Vohannes dengan panggilan akrab. Di tempat publik atau ketika di mana orang lain bisa dengan mudah mendengarkan apa yang mereka katakan. Dia juga terlalu mudah memberikan informasi yang diperoleh begitu saja karena larut dalam antusiasmenya sendiri. Memang ini dilakukan pada Mulagesh, tapi masalahnya ada orang lain pada saat itu yang hadir bersama mereka. Ketika membicarakan seorang agen veteran yang profesional pada bidangnya, saya membayangkan seseorang yang bisa menjaga jarak dengan kenalan masa lalu, meyimpan informasi penting, atau tidak sebelum dia dapat menimbang manfaat yang akan diperoleh.

Masih berhubungan dengan Shara Komayyid, sebenarnya ada konflik internal pada dirinya yang memiliki potensi. Sebagai agen dia harus menyimpan informasi yang diperoleh dan hanya diperuntukkan bagi negara terutama ketika informasi tersebut membahayakan kepentingannya. Namun Shara memiliki ketertarikan pribadi dan rasa penasaran yang serupa dengan sejarawan. Dengan seorang panutannya adalah sejarawan, dia merasa apa yang ditemukannya tidak patut untuk disembunyikan dan harus diberitahu pada masyarakatnya yang berhak mengetahuinya. Sayang kedua aspek pada diri Shara tersebut yang saling bertentangan tidak dikembangkan secara lebih mendalam untuk menjadikan dirinya karakter yang lebih kompleks.

Satu hal lagi yang sangat mengganggu, dan kali ini berhubungan dengan plot. Pada satu bagian menjelang akhir, faksi reaksioner Bulikov mengimpor berton-ton besi pada batas aman dari inspeksi kementrian Saypur selama bertahun-tahun untuk membangun enam kapal terbang yang memiliki meriam sekelas kapal dreadnought. Kemudian Sigurd menyusup masuk kedalam pabrik pembuatannya, membajak salah satu kapal, menghancurkan sisanya, lalu sendirian berlayar menuju Bulikov di udara dan mengakhiri perjalanannya dengan menembak dan menabrakkan kapalnya ke seorang dewa.

Tidakkah hal tersebut terdengar bodoh? Jangankan persoalan bagaimana satu orang bisa mengawaki kapal dreadnought sendirian tanpa masalah, membangun enam dreadnought tanpa negara terkuat dalam dunianya tidak sadar itu sangat konyol. Ada alasan mengapa Jepang setelah melalui proses reformasi dan industrialisasi selama kurang lebih 40 tahun tidak dapat membangun dreadnought mereka sendiri. Terdapat banyak faktor lain terlibat dalam proses pembangunan kelas kapal yang pada masa merupakan terbesar dan simbol kekuatan negara. Apakah mungkin suatu faksi reaksioner yang belum bisa memegang penuh dukungan warga Bulikov memiliki teknisi dan tukang kapal yang mampu membangun enam dreadnought sekaligus? Mungkin, mungkin saja itu terjadi namun tidak ada narasi yang cukup peduli untuk memberikan penjabaran hal itu, mengesankan bahwa membangun dreadnought semudah merakit mobil VW kodok. Pada akhirnya ini saya rasa tidak sampai membuat sebuah plothole tapi tetap saja sebuah hal bodoh untuk ditulis.

Terakhir, benar-benar terakhir, sebagai sebuah novel yang menggunakan elemen misteri, intrik, dan konspirasi, City of Stairs benar-benar terpleset dalam menangani big bad-nya. Volka Votrov kehadirannya begitu mendadak dan tiba-tiba. Saya sadari memang sebenarnya sudah ada foreshadowing sebelumnya bagaimana saudara Vohannes tersebut tidak pernah ditemukan mati dan hanya menghilang. Namun ditimbang dari posisinya dan kemunculannya dalam plot, foreshadowing yang diberikan terasa ala kadarnya. Karakterisasinya pun terasa tipikal fanatik yang tidak dapat berpikir panjang dan hanya bertindak atas dorongan nafsu balas dendam dan dengki belaka, ditunjukkan dari tindakannya mengorbankan politisi pendukungnya yang merupakan pion sangat berharga. Nasib akhirnya di mana dia disihir menjadi batu karena bertindak tidak patut di hadapan dewa Kolkan pun terasa seperti tipikal yang dialami bigbad seperti dirinya. Dapat dimengerti apabila dia tidak mengetahui bahwa dalam menghadap Kolkan ada prosesnya tersendiri karena world regulation yang telah berlangsung selama 80 tahun membuat dia tidak dapat mengakses material yang dibutuhkan. Tapi untuk seseorang yang dari narasi dikatakan selalu selangkah lebih maju daripada Shara Komayyid, seorang agen berpengalaman selama belasan tahun, saya berharap lebih dari sekedar seorang fanatik yang tidak memahami tuhannya sendiri.

Setelah sedemikian panjang saya menulis, harus diakui kali ini begitu banyak faktor subyektif yang mempengaruhi penilaian atas City of Stairs. Pribadi, saya begitu terganggu dengan perilaku ala Amerika Serikat yang dibawa di balik nama-nama India oleh orang-orang Saypur, Namun selain itu juga saya rasa banyak kekurangan lainnya yang bersifat lebih obyektif seperti masalah penulisan Robert Bennet Jackson dalam membangun latarbelakang yang solid melalui pemilih prosa non-fantasinya. Meski begitu banyak kekurangan yang saya tuliskan dengan detail, titik tertinggi City of Stairs dalam perihal elemen fantasinya sedemikian bagus hingga saya tetap memiliki penilaian yang positif pada akhirnya. Maka apabila pembaca tidak terganggu dengan kekurangan yang saya tuliskan, atau/dan mencari sebuah buku misteri yang dipenuhi elemen fantastis yang begitu menawan berkat prosanya, City of Stairs akan menjadi pengalaman yang menakjubkan bagi anda.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar