Rabu, 27 Mei 2015

Tentang Komik Indonesia, Bagian 2: Sudah Berbedakah Komik Indonesia?

Kali terakhir saya membicarakan tentang definisi "komik Indonesia". Saya mendapatkan beberapa respons yang menarik, di antaranya adalah bahwa sebenarnya berdebat pedantik tentang definisi adalah tidak penting. Ya dan tidak. Memisahkan antara kata komik dan label geopolitik tetap perlu untuk meluruskan banyaknya kebingungan yang terjadi. Tapi pertanyaan-pertanyaan mendasar lain tidak boleh dinafikan seraya kamu menghilangkan identitas negara dalam membuat komik sesuai kesukaanmu.

Yakni, sudahkah komik lokal beridentitas lebih dari sebatas mengikuti tren yang ada? Bagaimana kalau sebagai komikus kamu ingin mencari jalur berbeda dari aliran-aliran yang dominan sekarang?

Tenang saja, saya di sini bukan untuk memaksa komikus mengikuti suatu jalur yang sama. Saya tidak mewajibkan kamu menggambar wayang, tidak memaksamu untuk berkarya tanpa dibolehkan melakukan hobi lain (menyuarakan pandangan politik misalnya), tidak juga menjejalimu dengan motivasi kosong yang tidak menyentuh pokok permasalahan. Mari kita maju ke pertanyaan pertama, yang lebih sering dibahas.

Jawabannya: sebagian besar belum. Santai, ini bukan menghujat kalian yang membuat komik. Kenyataannya, terlepas dari nasionalisme dan semacamnya, saya sendiri melihat adanya kebutuhan untuk sebuah gaya gambar baru. Stop. Tidak ada debat tentang gaya gambar Indonesia seperti apa yang ujung-ujungnya berputar-putar, ya. Bagi saya kebutuhan akan gaya gambar yang baru ini lebih kepada urusan perluasan pasar dan lokalisasi komik. BUKAN nasionalisme. Karena kenyataannya meski masyarakat awam tahu akan Naruto, Conan Edogawa, Batman, dan Avengers, tidak banyak di antara mereka yang mau membeli komik lokal yang terlalu mirip dengan budaya pop yang seperti di atas tadi. Siapa di antara mereka yang tahu Volt atau Tiap Detik? Bagaimana bisa melakukan riset pasar menyeluruh kalau semua komik lokal memancing di empang kecil yang itu-itu saja isinya, yang bahkan saya bisa kira-kira seleranya dari barang sehari memantau grup-grup komunitas di Facebook dengan segala segmentasi dan selera tak umumnya itu?

TAPI membuat gaya gambar baru memang tidak mudah. Sebagian dari ini akan dibahas di Bagian 3, mengenai komunitas dan industri. Mau tidak mau saya pun memaklumi itu, apalagi karena belajar menggambar komik, terutama otodidak, jauh dari kata instan. Ditambah lagi seperti saya utarakan di Bagian 1, gaya gambar tidak perlu sama semua untuk menjelaskan pesan yang berbeda-beda. Maka jawabannya adalah, membuat gaya gambar baru adalah sebuah keniscayaan (terutama karena teknologi berjalan terus dan kemajuan harus terus dibuat di manapun) namun belum realistis.

Kebanyakan debat tentang kelokalan komik lokal berhenti di sekitar titik itu, tentu dengan tingkat kewarasan beragam. Ada satu hal yang sering sekali mereka lupakan. Cerita. Karakter, plot, konflik, latar. Bingung kenapa komik humor seperti Benny & Mice atau Si Juki relatif lebih laku dibanding komik-komik lokal lain?

Si Juki oleh Faza Meonk
Tiap Detik oleh Renato Reimundo Jr.
Kesampingkan selera. Lihat mana yang lebih punya kemungkinan dikenali orang awam. Dan bukan, bukan dari mata besar dan hidung peseknya. Kedua komik dimaksudkan untuk bertempat di Indonesia dan berkarakter orang Indonesia. Mana yang lebih mirip orang Indonesia? Yang lebih penting lagi, mana yang dialognya lebih Indonesia? Sekali lagi, ini BUKAN nasionalisme. Kalau Si Juki ternyata berlatar tempat di Saigon, Vietnam 1967 juga saya akan memprotes kenapa tidak ada teror dan perang. Ini berhubungan dengan verisimilitude. Apakah dialog, karakterisasi, dan konflik berkorelasi dengan latar dan sudut pandang?

Bagi saya itulah masalah sesungguhnya komik lokal masa kini. Dan itulah yang saya kurang suka dari mengikuti tren baik Jepang maupun Amerika: banyak yang jadi tidak klop dengan realita di Indonesia. Bukan, bukan dengan sebuah komik mengadopsi gaya gambar luar negeri otomatis komik itu hilang rasa lokalnya. Untuk meluruskan saya beri contoh komik lokal bergaya gambar manga dengan lokalitas yang dominan.

He Is Gynophobic oleh Nao Julyan
Bandingkan lagi dengan dua di atas. Saya pribadi menganggap contoh terakhir ini paling terasa lokal dan Indonesia-esque. Dan bagi saya sebenarnya level segini sudah cukup beridentitas. Kesimpulan? Seperti poin terakhir di Bagian 1, kalau ingin membuat "komik Indonesia" dengan "rasa Indonesia" beri fokus pada identitas kultural. Buatlah karakter dengan trope lokal dan konflik yang mencerminkan masalah lokal di dunia nyata. Tapi tunggu dulu, tak ada keharusan untuk menjadi seperti ini. Jangan terkungkung batas negara atau merasa punya obligasi untuk membuat "komik Indonesia". Kamu bebas membuat komik apapun sesuai kesukaanmu.

Kalau kamu tidak puas dengan sekedar membuat komik dan ingin menciptakan sesuatu yang lebih, mari bedah pertanyaan kedua. Pertama-tama saya ingatkan (lagi!) bahwa arus utama komik lokal berkiblat pada Jepang dan Amerika. Alasannya? Jelas karena komikus-komikus ini masa kecilnya penuh dengan komik-komik dari kedua negara tersebut. Dan alasan kenapa komik lokal masa kini cukup banyak jadi derivatif adalah karena orang menulis berdasarkan apa yang mereka tahu, percayai, dan suka. Itu sudah jadi kredo baku dalam dunia kepenulisan. Saya percaya mereka bukannya tidak mencoba untuk menjadi unik dan orisinil.

Hanya saja, selama ini saya mendapat kesan bahwa yang komikus lokal lakukan adalah "asal berkarya". Alasannya ketika sudah cukup jam terbang orisinalitas dan ide unik akan datang dengan sendirinya. Ya, boleh saja, tapi menabrak tembok dengan kepala berkali-kali tak akan membuat temboknya runtuh. Kepalamu pecah duluan. Orisinalitas bukanlah sesuatu yang muncul dari ruang hampa. Dia muncul dari gabungan beberapa hal berbeda yang belum tentu berhubungan satu sama lain. Makin banyak hal berbeda yang kamu ketahui, makin banyak "bahan" untuk membuat karya orisinil. Pendek kata, makin luas wawasan seseorang, makin besar kemungkinan baginya untuk membuat sesuatu yang baru.

Jadi sudah jelas kan? Baca. Tonton. Dengar. Mau membuat kisah anak SMA di Bandung? Baca teenlit. Fantasi di dunia jamur? Baca buku-buku tentang karakteristik jamur. Perang Irak? Tonton dokumenter tentang perang tersebut. Baca komik-komik eksperimental (ini penting apalagi kalau ingin bereksperimen dalam detail-detail kecil-tapi-penting seperti paneling). Kalau belum cukup, amati tingkah laku orang di dunia nyata. Ambil unsur-unsur dari orang yang kamu kenal untuk karaktermu. Lihat dunia lebih luas. Lebarkan pandangan. Belajar mengambil macam ragam sudut pandang untuk menyikapi sesuatu.

Lalu kenapa komik-komik lokal dengan rasa lokal kuat seperti 1SR6 tetap kurang sukses? Akan saya bahas di Bagian 3.

1 komentar: