Kamis, 31 Desember 2015

[Resensi] The Man in the High Castle

Judul : The Man in the High Castle
Pengarang : Philip K. Dick
Penerbit :  The Library of America
Tahun : 1962
Genre : Science Fiction, Alternate History
Tebal : 229

Sinopsis
Di sebuah jalur waktu di mana Kubu Poros memenangkan Perand Dunia II, Amerika Serikat terbagi menjadi dua. Buku I Ching menjadi sama umumnya dengan buku kuning. Di bawah Nazi Jerman, manusia bisa menduduki bulan dan menjelajahi planet Mars. Di sini orang-orang biasa mencoba hidup kembali di dunia pasca perang di mana memiliki darah yang salah akan berujung kematian yang kejam. Sebuah dunia yang menghadapi perang dingin yang bilamana pecah, akan melenyapkan peradaban dari muka bumi.

Selasa, 22 Desember 2015

Kearifan Lokal - Definisi dan Wujudnya


Kearifan lokal. Frasa ini sepertinya sering didengar belakangan ini, utamanya di dunia perkomikan. Dia seperti mesias atau juru selamat, selalu dicari karena keberadaannya dianggap akan melindungi kita dari marabahaya. Kehadiran kearifan lokal dianggap dapat menyelamatkan industri komik nasional dari kepelikan-kepelikan nan membelit. Alhasil, komikus seolah diberi beban moral untuk melahirkan mesias-mesias baru agar zaman keemasan menyongsong industri komik Indonesia.

Ketika membicarakan kearifan lokal, wayang acap kali dijadikan contoh. Entah ada berapa ilustrasi penggambaran ulang dari sosok klise bernama Gatot Kaca, seolah-olah hanya karakter itu saja dalam epos Mahabharata yang bisa diangkat sebagai subjek. Sekarang wayang sudah tidak lagi dianggap sebagai satu-satunya elemen kearifan lokal yang dapat diterima pembaca. Namun, subjek kearifan lokal lain saya rasa tidak bakal jauh-jauh dari budaya "fisik" yang memunyai wujud visual.

Apakah benar kearifan lokal hanya berupa pakaian, tarian, atau mitos? Budaya, yang sebenarnya bagian utama dari kearifan lokal yang dimaksud tentu tidak sedangkal itu. Dengan demikian, pada artikel pertama dari serial Kearifan Lokal ini saya akan mendefinisikan apa itu 'kearifan lokal'.

Kamis, 03 Desember 2015

Tentang Komik Indonesia, Bagian 3: (Akan) Ke Mana Komik indonesia?

Di bagian-bagian sebelumnya saya sudah bicarakan mengenai definisi komik Indonesia dan masalah identitas yang inheren dalam karya-karya yang menjadi bagiannya. Dan dengan sangat ngaret akhirnya kita tiba pada penutup serial artikel ini.

Akan ke mana komik Indonesia, setidaknya dalam satu dekade ke depan? Bertahan hidup seadanya? Redup lagi? Mati? Makin jaya?

Ada alasan untuk semua argumen, karena perkembangan industri komik lokal kita makin hari makin menunjukkan optimisme serta tantangan baru. Mari kita kupas.


Kamis, 05 November 2015

[Resensi] Leena's World Map

Judul : Leena's World Map (Seizuyomi no Leena)
Pengarang : Tsukasa Kawaguchi
Penerbit :  Shining Rose Media
Tahun : 2014
Genre : Fantasy, Adventure
Tebal : 410

Sinopsis

Leena merupakan seorang putri raja. Namun dia tidak suka berdiam di dalam istananya. Dia juga tidak memiliki mimpi untuk sekedar menunggu pangeran idaman untuk menikahi dan memberi kemakmuran bagi kerajaannya. Mimpi yang ingin dicapai olehnya bukan sebuah impian yang sering ditemui pada orang biasa, apalagi seorang putri seperti Leena. Mengikuti petuah mendiang ibunya yang selalu tergiang dalam kepalaya, Leena bermimpi untuk menggambar sebuah peta, sebuah peta yang tidak hanya mencakup satu benua namun seluruh dunia.

Rabu, 14 Oktober 2015

[Resensi] Chiru'un: Disciple of Luan

Judul : Chiru'un: Disciple of Luan
Pengarang : Tasfan (Nafta S. Meika)
Penerbit :  Divapress
Tahun : 2012
Genre : Fantasy
Tebal : 542

Sinopsis


Chiru'un merupakan seorang bocah yang perilakunya lebih mirip anak laki-laki daripada perempuan. Lincah, badung, dan tidak kenal takut, dia bermimpi untuk menjadi pemburu mengikuti kedua kakak laki-laki dan ayahnya daripada menenun seperti ibunya. Namun dibalik perilakunya yang urakan, Chiru'un menyimpan sebuah bakat terpendam, potensi akan luan yang akan membawa dirinya pada sebuah jalan hidup berlainan sama sekali dengan keinginan dia. Bersama delapan saudari satu perguruan, Chiru'un bersama mereka menempuh berbagai ujian untuk menguasai luan dan menjadi Penguasa, sekelompok tetua yang memimpin suku-suku padang selatan dengan kebijaksanaan mereka.

Kamis, 03 September 2015

[Resensi] City of Stairs

Judul : City of Stairs
Pengarang : Robert Jackson Bennett
Penerbit :  Random House
Tahun : 2014
Genre : Fantasy, Mystery
Tebal : 452

Sinopsis


Kota Bulikov memegang kekuatan ilahi dan dengannya, menguasai seluruh dunia. Namun pada 80 tahun silam, yang tidak terbayangkan terjadi; para ilahi yang menjadi sumber kekuatan dan kekuasaan Bulikov, mati terbunuh satu-persatu dengan cara yang misterius oleh Kaj Agung, pahlawan bangsa Saypur. Sang penakluk sekarang menjadi yang ditaklukan, dan yang tadinya terjajah menjadi sang penjajah, Saypur menegakkan World Regulation, sebuah rangkaian hukum yang melarang rakyat Bulikov untuk menyembah atau bahkan menyebutkan nama dari ilahi mereka yang telah mati. Hukum tersebut menjadikan ilahi sebagai sesuatu yang profan, melindungi Saypur dari rasa takut akan bangkitnya Bulikov kembali. Namun sebuah pembunuhan atas seseorang, sejarawan Saypur yang mempelajari hal-hal ilahiah terjadi. Konflik lama 80 tahun silam yang dianggap sudah selesai kembali muncul, dan meskipun hanya sedikit, kekuatan ilahi tetap terlibat.

Senin, 24 Agustus 2015

Saatnya Bangkit Dari Kubur

Sepi, berdebu, dan mati

Di lihat dari tanggalnya, tahun ini saya belum sama sekali ngepos review, ulasan, atau resensi. Tahun di 2014 saya masih aktif membaca. Target 50 buku yang dibaca pun tercapai (meskipun ada sedikit curang dengan memasukkan komik). Tapi hanya ada beberapa yang kelar ditulis resensinya. Beberapa tidak ditulis karena bukunya memang bukan material resensi untuk blog ini, dan beberapa lagi karena kemalasan serta ketarsokan saya dalam menulis. Meski tidak seproduktif tahun 2013, tahun lalu merupakan tahun yang bagus untuk kegiatan baca dan menulis resensi.

Rabu, 27 Mei 2015

Tentang Komik Indonesia, Bagian 2: Sudah Berbedakah Komik Indonesia?

Kali terakhir saya membicarakan tentang definisi "komik Indonesia". Saya mendapatkan beberapa respons yang menarik, di antaranya adalah bahwa sebenarnya berdebat pedantik tentang definisi adalah tidak penting. Ya dan tidak. Memisahkan antara kata komik dan label geopolitik tetap perlu untuk meluruskan banyaknya kebingungan yang terjadi. Tapi pertanyaan-pertanyaan mendasar lain tidak boleh dinafikan seraya kamu menghilangkan identitas negara dalam membuat komik sesuai kesukaanmu.

Yakni, sudahkah komik lokal beridentitas lebih dari sebatas mengikuti tren yang ada? Bagaimana kalau sebagai komikus kamu ingin mencari jalur berbeda dari aliran-aliran yang dominan sekarang?

Selasa, 19 Mei 2015

Tentang Komik Indonesia, Bagian 1: Apa Itu Komik Indonesia?

Akhirnya.

(bukan, bukan akhirnya gue posting lagi setelah tahunan ga nongol)

Akhirnya masalah yang sudah lama meradangi benak ini dikeluarkan juga. Komik. Indonesia. Atau komik "Indonesia". Atau komik, Indonesia. Nanti dijelaskan kenapa di kalimat-kalimat tadi dua kata itu saya pisahkan, padahal di judul tidak.

Belakangan ini memang sedang cukup ramai isu #KemanaKomikIndonesia di lingkaran-lingkaran sosial media saya, berawal dari satu keluhan orang yang kurang puas dengan komik lokal yang "bukan komik Indonesia" dan merambat kesana kemari, menyentuh problema makin beragam. Harus diakui, terlepas dari kontroversi pernyataan pemicunya, tren kecil-kecilan ini menunjukkan bahwa ada masalah mendasar dalam skena komik lokal.

Tunggu. Komik Indonesia itu apa ya?