Senin, 17 November 2014

[Resensi] Max Havelaar

Judul : Max Havelaar
Pengarang : Multatuli (E.D. Dekker)
Penerbit : Qanita
Tahun : 1860 (Asli), 2014 (Qanita)
Genre : Historical, Classic
Tebal : 475

Sinopsis
Batavus Droogstoppel, seorang makelar kopi yang tinggal di Amsterdam bertemu dengan Sjaalman, seorang pesakitan masyarakat sekaligus penulis yang dimana dia berhutang budi di masa lalu. Menemukan banyak tulisan Sjaalman yang membahas soal kopi, Droogstoppel setuju mempublikasikan tulisan-tulisannya dengan niat awal untuk keuntungannya sendiri. Namun diantara kertas-kertas tulisan Sjaalman yang berisikan artikel, ide-ide radikal, dan perihal kopi, terdapat sebuah kisah yang menarik dan kejam. Multatuli, atau Eduard D. Dekker, mendasarkan kisah ini pada pengalaman hidupnya selama 18 tahun sebagai makelar kopi di Hindia Belanda, menuliskan sebuah cerita yang jujur, ironis, kejam dan penuh amarah.


Ulasan
Max Havelaar. Sebuah judul begitu yang pasti tidak asing buat kita yang tinggal di Indonesia, terutama mereka yang memperhatikan pelajaran guru sejarah. Kita diberitahu bagaimana Max Havelaar merupakan sebuah buku yang luar biasa. Mengisahkan kekejaman penjajahan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial atas bumiputera. Memprotes ketidakadilan yang dibiarkan merajalela di atas tanah Hindia Belanda. Bagian yang paling hebatnya, Max Havelaar ditulis oleh anak bangsa van Oranje sendiri, Eduard D. Dekker, seolah menandakan sebuah ironi yang terjadi dalam penjajahan yang dilakukan Kerajaan Belanda.

Meski dijunjung tinggi dalam buku sejarah, pasti hanya sedikit diantara kita yang pernah membacanya. Berbeda dengan negara-negara lain dimana buku-buku berpengaruh dijadikan bacaan wajib bagi siswa SD hingga SMA, di Indonesia, terimakasih pada sistem pendidikan yang luar biasa, lebih memilih untuk mengarjakan cara berpacaran yang sehat daripada membaca buku yang turut andil dalam kelahiran politik etis. Akhirnya Max Havelaar, berdasarkan pengalaman pribadi, hanya menjadi sebuah materi yang dihafal untuk -biasanya pilihan ganda- ujian tengah semester, atau sebuah relik sejarah yang keramat, tidak terbayangkan serta memiliki daya kekuatan yang luar biasa.

Selalu percaya dengan sampul yang lebih keren
Itu pelajaran yang saya dapat setelah salah pilih yang kanan

Tanpa ada angin apa-apa, bukan dalam rangka memperingati ulang tahun Eduard D. Dekker maupun penerbitan pertama kalinya, tiba-tiba Max Havelaar hadir dalam terbitan baru, dua terbitan baru dari penerbit yang berbeda bahkan!

Jelas saya senang ketika melihat kedua buku ini tampil di rak toko buku (entah dicetak sedikit atau terlalu laku, sekarang sudah tidak terlihat lagi) karena telah mendapat kesempatan untuk membaca dan menjajal Max Havelaar, untuk melihat apa yang membuat buku ini menjadi sedemikian kuat hingga memiliki andil dalam melahirkan politik etis. Saya tidak perlu lagi membeli buku ini dalam bahasa asing, ketika semestinya dia harus bisa dibaca dalam bahasa Indonesia. Max Havelaar tidak perlu lagi menjadi sebuah relik keramat yang terasa jauh dan hanya menjadi objek hafalan semata.

Tapi berkata jujur saja, saya cuku khawatir ketika memegang Max Havelaar di tangan meski menginginkannya sejak lama. Di luar dari buku sejarah, saya belum pernah buku ini disebut sebagai buku klasik. Mungkin ini sekedar dari pengetahuan yang masih sempit. Tapi tidak terlepas kemungkinan kalau ternyata Max Havelaar dijunjung tinggi karena pengungkapan eksploitasi bumiputera belaka, bukan dari nilai sastranya. Ini bermasalah karena tidak ada yang lebih menjemukkan daripada membaca racauan agenda seseorang yang dia samarkan sebagai karya sastra.

Paruh awal dari Max Havelaar membuktikan hal yang saya khawatirkan. Begitu banyak aspek kepenulisan yang membuat saya mengernyitkan dahi. Awal-awalnya dia hanya berupa dialog yang tidak alami. Tapi kemudian berkembang menjadi paragraf eksposisi panjang yang menjelaskan situasi mengenai Hindia Belanda (meski kemudian saya merasa netral untuk hal ini mengingat mayoritas masyarakat Belanda pada saat itu memang tidak mengetahui banyak mengenai Hindia Belanda kecuali yang sudah dicuci putih). Paling parah ketika sosok Max Havelaar, yang saya rasa merupakan self-insert bagi Multatuli di dalam buku ini, digambarkan bagai sosok begitu sempurna. Tidak cukup mengatakan dirinya cerdas, sering berpikir tidak konvensional, dan memiliki simpati yang besar,   kebaikah hatinya itu dijadikan sebuah kelemahan pribadi Max Havelaar. Kenaifan yang memang seharusnya merupakan kelemahan, seolah menjadi aset bagi dirinya karena penulisan Multatuli begitu berbunga.

Keanehan dari struktur frasa dan dialog dalam Max Havelaar semakin diperparah dengan kualitas penerjamahan yang patut dipertanyakan. Bukan dari penerjamahannya itu sendiri, melainkan prosesnya yang membuat saya skeptis meskipun ketika membelinya saya berprasangka baik akan diterjemahkan dengan ketelitian mengingat ini sebuah karya yang sangat monumental dan berpengaruh bagi sejarah Indonesia. Nyatanya tepat di bagian pendahuluan oleh penerbit, langsung diberitahu bahwa Max Havelaar terbitan 2014 ini, diterjemahkan dari versi terjemahan Inggris pada tahun 1860-an, bukan dari versi Belandanya. Usaha saya untuk berprasangka baik bahwa terjemahannya akan berlangsung menjadi sia-sia ketika penerjemah merubah sebuah bagian dengan padanan yang memang lebih dimengerti oleh pembaca Indonesia, namun sangat anakronistik ketika dilihat dari konteks dan setting berlangsungnya narasi dalam Max Havelaar. Proses penerjemahan yang malas dengan memilih versi bahasa inggris, bukannya Belanda ditambah ketidakpekaan penerjemah dalam melakukan pekerjaannya, mengurangi bobot sastra Max Havelaar secara signifikan.

Kesan-kesan yang saya tulis sejauh ini memang sangat negatif, mungkin hingga mengesankan sebuah reputasi kosong. Untungnya setelah terus membaca, kualitasnya meningkat di paruh akhir, yang mungkin terjadi karena struktur frasa dan kepenulisannya yang menjadi sederhana. Paragraf eksposisi Belanda semakin berkurang, beriringan dengan bertambahnya narasi yang penggambarannya terasa lebih hidup, bukan sekedar deskripsi yang dingin. Dalam beberapa dialogpun, saya bisa merasakan ada beberapa percakapan cerdik terjadi yang tentu saja hilang melalui proses penerjemahan, memberikan sebuah bayangan bahwa Max Havelaar asli berbahasa belanda memang memiliki sebuah bobot sastra tersendiri (hal yang membuat saya semakin jengkel dengan keputusan malas tidak menerjemahkan langsung versi bahasa belandanya). Puncak kualitas Max Havelaar ditunjukkan pada bagian kisah "Saidjah", yang dituliskan dengan keindahan ironi penyayat hati.

Tapi yang membuat Max Havelaar semakin bukan sekedar kepenulisan itu belaka, sebagaimana dibaliknya ternyata merupakan usaha Multatuli dalam membuat karyanya lebih jujur menunjukkan maksud utamanya. Kesulitan dan keanehan frasa yang ada di paruh awal diakui di narasi dalam bentuk tulisan Sjaalman, memang dilakukan untuk menantang pembacanya. Segala kesempurnaan yang dimiliki Max Havelaar  perlahan jadi jelas maksudnya bahwa dia merupakan sebuah sosok ideal dalam bayangan benak orang Belanda. Akhir hayat dari Max Havelaar yang tragis, sementara kemunafikan Droogstoppel yang terus berlanjut dan menjadi sikap terhormat merupakan kontras satiris yang sangat kuat mengkritik masyarakat Belanda pada masa tersebut. Bahkan di akhir cerita, Multatuli melakukan intervensi secara langsung, dan dengan gamblang mengatakan tujuan dirinya menulis Max Havelaar tanpa ada ruang kompromistis yang terbuka bagi pembaca untuk melakukan kontemplasi tersendiri.

Kejujuran inilah yang membuat Max Havelaar yang meskipun pada dasarnya merupakan author fillibuster, dan diisi dengan agenda, sebuah novel yang sangat kuat. Dari setiap kata, setiap paragraf, terutama di paruh akhir cerita terasa bahwa Multatulis memberikan bobot emosional dalam tulisannya. Emosional dalam tulisannya terasa begitu tulus, begitu asli, sehingga ketika membacanya dapat terasa kemarahan yang harus dipendam Multatuli ketika dia menyaksikan kekejaman atas rakyat bumiputera oleh pemimpinnya sendiri, yang dibiarkan atau bahkan dibudidayakan oleh pemerintahan kolonial dengan mengatasnamakan raja dan kemajuan perabadan. Memang Multatuli memiliki agenda dalam tulisannya, namun agenda itu tidak lebih daripada sebuah tujuan humanis yang digerakkan oleh nuraninya sebagai seorang manusia yang berhati baik. Tidak mengherankan apabila Max Havelaar yang sulit untuk dibaca pada paruh awal (dengan kesengajaan), menjadi sebuah karya yang begitu kuat hingga mempengaruhi baik sejarah Belandan maupun Indonesia.

Kegamblangan dan kekuatan emosional dalam Max Havelaar memiliki signifikansi yang sangat khusus dan personal bagi Indonesia. Melihatnya tidak menjadi bacaan wajib di sekolah Indonesia laksana melupakan kepingan sejarah terpenting bagi bangsa ini, tidak bermanfaat apa-apa kecuali melestarikan kebutaan sejarah. Bahkan kebutaan sejarah ini melestarikan sifat priyayi bumiputera yang Multatuli kritik dengan keras. Tidak hanya itu, Max Havelaar yang sepantasnya memberikan sudut pandang yang berbeda pada penjajahan Belanda atas Indonesia, ketika dikeluarkan dari diskursus sejarah membuat bangsa Indonesia dipaksa untuk mengenakan kacamata kuda dalam melihat sejarah penjajahannya sendiri. Sejarah penjajahan yang tidak membuka ruang bahwa penjajahan yang terjadi dilakukan sepenuhnya oleh Kerajaan Belanda, tanpa ada bantuan atau kerelaan bumiputera di baliknya.

Jika memang suatu hari Max Havelaar menjadi bacaan wajib tidak hanya di Belanda (ironis kan?), namun juga di Indonesia, saya berharap edisi Max Havelaar yang digunakan bukan versi terjemahan tangan kedua, melainkan terjemahan langsung dari versi belandannya seperti hasil terjamahan HB Jassin.  Apabila ini terjadi (semoga demikian), bangsa ini mungkin bisa melepas kacamata kuda atas sejarahnya, dan bisa berubah menuju pengertia yang lebih baik dan bermartabat atas dirinya sendiri.


2 komentar:

  1. Terimakasih,
    Habis baca review ini jadi pingin beli, daripada beli novel abg, :-) mending baca novel ini, belajar sejarah juga.

    BalasHapus
  2. Selalu ingin baca bukunya Multatuli setelah baca tetralogi pulau buru (sering disebutkan disana), nice review :)

    BalasHapus