Sabtu, 02 Agustus 2014

[Resensi] Mistborn, Shounen Dalam Bentuk Novel

Amerika Serikat dan sampulnya, inilah
alasan mengapa saya bela-belain
cari novel Mieville versi Inggris
Judul : Mistborn: The Final Empire
Pengarang : Brandon Sanderson
Penerbit : Tor Fantasy
Tahun : 2007
Genre : Fantasy
Tebal : 657

Sinopsis
1000 tahun sudah berlalu semenjak Lord-Ruler berkuasa, memberikan kebangsawanan bagi mereka dan keturunannya yang telah membantu dirinya, dan memperbudak yang lainnya. Tidak ada yang pernah terpikirkan Lord-Ruler akan pernah lengser dari singgasana abadinya. Setiap usaha pemberontakan selalu digagalkan oleh pelayannya yang setia dan sama-sama abadi. Sampai seorang pesintas dari kekejaman Lord-Ruler terbangunkan jatidirinya sebagai mistborn dan menjalakan rencananya sendiri. Sebuah rencana gila untuk menjatuhkan tuhan dari singgasana abadinya. Meskipun dia gagal, akan orang lain yang meneruskan harapannya, harapan sebagai yang tertindas, dan seorang mistborn.


Ulasan
Mereka yang menghabiskan masa kecilnya pada era tahun 90-an hingga 2000-an awal pasti akan cukup familier dengan hal yang bernama anime dan manga dari Jepang, terutama serial shounen yang ditujukan untuk anak-anak laki-laki. Cobalah tanya tentang Dragonball, Kungfu Boy (Tekken Chinmi), atau Samurai X (Ruruoni Kenshin), mereka pasti akan menjawabnya penuh dengan rasa nostalgia dan penuh sukacita. Generasi yang lebih muda mungkin akan tumbuh bersama dan akan mengingat seri seperti One Piece, Naruto, atau Hunter X Hunter.  Tapi saya jamin apabila mereka yang generasi lebih tersebut membaca seri shounen tua terutama Dragonball pasti akan menyukainya. Saya bisa berkata begitu karena shounen terlepas dari setting, karakter, plot spesifik, dan pengarang yang berbeda, mereka memiliki persamaan substansial yang dapat kita temukan didalamnya. Lantas, apa hubungannya shounen dengan novel fantasi dari Amerika Serikat?

Jawabannya jelas: Mistborn adalah shounen dalam bentuk novel.  Hal ini saya katakan bukan untuk berkelakar atau berniat mengejeknnya (walaupun ada saja yang menganggap sebagai hinaan, saya sendiri masih menyukai cerita shounen). Membaca tiap halaman Mistborn memberikan rasa familier yang sama ketika saya membaca serial shounen dari Jepang. Meskipun Mistborn ditulis oleh seorang berkebangsaan Amerika Serikat, Brandon Sanderson, tidak akan ada yang menyadari asal muasal negaranya semisal Mistborn mendapat adaptasi manga.

Nampaknya untuk bisa mendapatkan ‘rasa’ shounen dari sebuah novel itu suatu hal yang cukup janggal. Mistborn merupakan sebuah novel, medium tertulis sedangkan shounen merupakan sebuah label yang biasa digunakan pada manga atau anime, keduanya medium visual. Akan tetapi, meskipun terdapat perbedaan medium, Mistborn masih merupakan sebuah fiksi. Begitu juga dengan shounen yang masih memerlukan plot untuk ditulis, tropes untuk dieksekusi, dan karakter untuk diberikan peran. Disinilah yang membuat Mistborn memberikan ‘rasa’ yang mirip dengan shounen: dia menggunakan tropes dan plot yang biasa ditemukan didalam shounen. Tidak akan lama untuk menemukan tropes shounen dalam Mistborn apabila kamu familier dengan shounen.

Mungkin saya terkesan aneh untuk menuliskan kesan bagaimana Mistborn memiliki ‘rasa’ yang persis sama dengan manga shounen. Namun bagi saya, kesan itu menjadi kuat karena novel-novel fantasi yang saya baca sebelumnya tidak ada satupun memberikan rasa yang sama dengan Mistborn. The Scar, The King of Elfland’s Daughter, dan Jonathan Strange and Mr. Norrel yang sangat berbeda satu sama lain masih memberikan resonansi, sebuah rasa yang saya rasakan dari novel fantasi. Bahkan trilogi The First Law yang sering saya kritik karena penulisan prosanya yang kerap dipolusi dengan kata-kata modern masih memberikan resonansi yang persis. Mistborn tidak seperti itu. Dia tidak memberikan resonansi yang sama seperti tiga novel yang saya sebutkan diawal, tidak juga dengan The First Law.  Malahan, Mistborn justru beresonansi dengan manga shounen yang saya kerap baca di waktu senggang.

Menuliskan kesan singkat saya bagaimana Mistborn sebagai sebuah novel shounen di beberapa forum internet, saya mendapatkan tautan kesebuah artikel menarik. Setelah membacanya, saya mendapatkan gambaran bagaimana kesan terhadap Mistborn tersebut begitu mencolok bagi saya, namun tidak bagi pembaca lain yang pernah saya temui, terutama mereka yang berasal dari Amerika Serikat. Secara singkat, artikel tersebut memperjelas bagaimana Mistborn dan novel sejenisnya merupakan jenis novel fantasi yang selama ini dihindari dan dikritik oleh Keely Grab. Mengingat bagaimana saya begitu sering mengutip tautan ulasan Keely, serta mencoba untuk membaca setiap buku dalam daftar bacaannya, jelas dia akan terasa asing karena Mistborn berlawanan dengan apa yang saya baca selama ini.

Kesan terhadapat Mistborn tersebut semakin diperkuat bukan hanya dari segi naratif (yang tidak akan saya detilkan karena kebijakan saya), namun juga dari salah satu nilai jual Mistborn yaitu sistem sihirnya, yang disebut didalam novelnya sebagai allomancy. Sejak dari awal saya sebenarnya sudah tidak sreg dengan kata ‘sistem sihir’. Hal tersebut sangat berlawanan dengan apa yang saya percayai bagaimana sihir dalam suatu fiksi terutama fantasi harus digambarkan dan diperlakukan. Namun setelah membaca langsung allomancy yang dimaksud, kata sihir sama sekali tepat untuk mempresentasikannya. Walaupun dia memang sebuah sistem, allomancy tidak menyerupai sihir dari penggambaran, apalagi penggunaannya. Daripada ‘sihir’ (magic), kata kekuatan (power) atau kemampuan (ability) lebih tepat untuk menggambarkan allomancy.

Tidak ada usaha sama sekali dari Sanderson untuk menyembunyikan paradigma utilitarisnya atas konsepsi sihir. Allomancy diperlakukan sepenuhnya sebagai alat di dalam Mistborn. Sama sekali allomancy tidak memiliki pergerakan sendiri selayaknya sihir dalam konsepsi sebagai kekuatan alam. Dia muncul dari manusia, dan hanya ketika mengkehendakinya untuk digunakan, yang tidak jauh sebagai senjata belaka. Hanya sekali saja Sanderson menuliskan bagaimana allomancy terkesan magis seorang karakter yang tidak familier dengan kekuatan tersebut. Namun yang berikutnya ironis, dan menunjukkan bagaimana sihir diperlakukan sebagai alat belaka sebagaimana karakter tersebut merasa biasa saja melihat allomancy setelah dia mengetahui cara kerjanya.

Meskipun sistem "sihir" Sanderson memiliki landasan yang sangat berlawanan dengan konsepsi sihir yang saya pribadi percayai sempat membuat saya merasa "meh", dan begitu kritis terhadap Mistborn, sebagai sebuah fiksi paling tidak dia menghibur. Memang ada beberapa hal klise yang terasa canggung seperti percintaan remaja yang dimasak setengah matang. Namun setidaknya Sanderson memiliki kemampuan menulis deskripsi yang cukup baik. Sanderson dapat membuat bagian yang sebenarnya mengandung banyak info tidak terasa seperti infodump. Daripada meletakkan semua info dalam satu atau dua paragraf berturut-turut, Sanderson memecah kedalam paragraf yang diselingi dengan dialog antar karakter, biasanya berkisar pada subjek yang sama namun diperluas. Bagi saya gaya penulisan Sanderson ini memberikan tulisannya rima tersendiri, yang lebih dapat dirasakan daripada The First Law Trilogy.

Sanderson memang pantas dipuji atas teknik menulisnya dalam hal deskripsi. Akan tetapi nampaknya dia tidak bisa menghindari kesalahan penulis fantasi kontemporer dalam pembendaharaan kata. Seperti The First Law Trilogy, Mistborn pun banyak dicemari oleh kata-kata modern serta penggunaannya yang sangat merusak atmosfir dan mood fantasi. Padahal hal tersebut sangat penting dalam fiksi fantasi. Bukan untuk persoalan imersif, namun untuk verisimilitude  sehingga dunia yang digambarkan di dalam sebuah fiksi fantasi terasa konsisten. Ketika sebuah fantasi memiliki latar pseudo-medieval Eropa, tidakkah kita akan merasa aneh begitu kata "ekonomi" atau "produk" dilontarkan oleh seorang karakter seolah itu kata sehari-hari? Dan apakah saya sudah mengatakan kalau kata-kata seperti ini dikeluarkan oleh prajurit dan maling jalanan dalam bukunya masing-masing? Membangun sebuah dunia fiksi yang baik bagi saya tidak hanya melalui deskripsi yang berisi saja, namun juga dari perilaku dan kata-kata yang digunakan oleh karakter ketika berdialog.

Berbicara soal karakter, Mistborn memiliki serangkaian karakter yang menarik dan dapat dikatakan sebagai salah satu alasan mengapa Mistborn masih bisa dinikmati terlepas dari kekurangannya. Saya katakan gamblang saja, banyak, jika tidak semua, karakternya klise. Meskipun klise, interaksi antar karakter terjadi dengan cara yang cukup menghibur, dan tidak sepenuhnya hal-hal yang menghibur tersebut disia-siakan dalam cerita.

Sayangnya dalam mengolah karakternya ini, Sanderson mengulangi kesalahan yang secara fundamental persis dengan kesalahannya dalam pembendaharaan kata: karakter dalam Mistborn (karakter utamanya sebenarnya) sering bertindak dan bertutur hal yang diluar kapasitasnya sebagai seorang karakter pada waktu itu. Sama seperti dengan pembendaharaan kata yang salah, hal ini merusak verisimilitude yang dibangung dan cenderung menciptakan inkonsistensi atas pengetahuan internal sang karakter. Bayangkan saja, seorang bekas maling yang jarang membaca buku, ketika membaca buku yang sulit dia bertanya dengan entengnya mengapa buku yang dia baca begitu kritis.

Mistborn bukan lah novel fantasi yang istimewa. Dapat dikatakan kalau Mistborn bisa digunakan untuk menelisik apa yang salah dengan novel fantasi kontemporer, terutama novel fantasi yang sejenis. Untungnya, kemampuan menulis Sanderson tidak begitu buruk sehingga proses untuk menelisik kesalahan-kesalahan tersebut tidak menjadi proses yang menyakitkan bagi otak. Bahkan di beberapa kesempatan saya merasakan Mistborn cukup baik untuk sebuah fiksi yang tujuannya menghibur. Seperti shounen kebanyakan, Mistborn akan mengisi waktu dengan serangkaian aksi dan karakter yang menghibur. Namun di luar itu, jangan berharap banyak dari Mistborn untuk memberikan sesuatu yang baru dan menarik.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar