Kamis, 28 Agustus 2014

[Resensi] The Well of Ascension

Meskipun saya membaca sampai habis
sulit mengatakan apakah pertarungan
disampul ada atau tidak
Judul : Mistborn: The Well of Ascension
Pengarang : Brandon Sanderson
Penerbit : Tor Fantasy
Tahun : 2008
Genre : Fantasy
Tebal : 796

Sinopsis:
Vin dan rekan-rekannya berhasil melakukan hal yang mustahil, tidak pernah diramalkan maupun terbesit dibenak siapapun akan terjadi. Mereka menumbangkan sesosok yang maha kuat laksana tuhan, membebaskan dunia dari cengkraman tiraninya. Namun itu hanyalah upaya paling awal dalam perjuangan mereka, sebagaimana tantangan yang sebenarnya baru terjadi ketika peradaban dan mulai berubah. Tiga pasukan dari tiga panglima berbeda berdiri dihadapan mereka, seraya sebuah ancaman dari masa lampau mulai merangkak bangkit.


Ulasan
Buku pertama Mistborn, yang saya juluki sebagai novel shounen (dan begitu juga dua buku berikutnya) mendapatkan julukannya karena begitu banyak kemiripan dalam struktur narasinya. Poin narasi yang menguatkannya dapat dilihat dari premis  dasar dalam buku pertama: seorang nobody terlibat atau ditugaskan dalam upaya menjatuhkan seorang tiran atau penguasa kegelapan (meskipun premis ini, seperti di artikel yang saya catut di ulasan sebelumnya, juga sering ditemui dalam fantasi mainstream kontemporer). Premis seperti ini meletakkan sebuah sosok maha kuat menjadi target atau tujuan bagi protagonis untuk dia taklukan. Biasanya untuk serial buku atau trilogi, dia hanya bersifat pengenalan, dan barulah si penguasa kegelapan akan dikalahkan oleh protagonis. Disinilah Sanderson mencoba formula yang berbeda, dan usahanya yang mengejutkan itu yang membuat saya dapat membentuk opini yang lebih baik atas karyanya.
Penguasa kegelapan atau tiran abadi yang muncul di Mistborn adalah Lord-Ruler, dan dia berhasil dibunuh di akhir buku pertamanya (dalam rangkaian peristiwa yang kurang memuaskan karena terkesan terburu-buru). Sebuah konklusi yang cukup mengejutkan untuk buku pertama, terutama bagi mereka yang terbiasa dalam genre ini karena sebagaimana terbiasanya kiat untuk melihat sang penguasa kegelapan baru akan berhasil dibunuh setelah ratusan halaman. Twist  yang Sanderson ambil dalam bukunya patut diapresiasi, karena usahanya yang mencoba untuk keluar dari formula. Meskipun demikian, twist itu sendiri tidak akan cukup untuk membawa sebuah narasi atau trilogi buku pada kasus ini, kepada keunggulan karena twist tersebut harus diperhatikan dalam gambaran yang lebih besar. Dengan matinya Lord-Ruler dalam waktu yang singkat (buku pertama Mistborn adalah yang paling tipis di dalam triloginya), akan dibawa kemana dan bagaimana cerita ini berlanjut?
Jika sinopsis diatas belum cukup jelas dan spoiler, The Well of Ascension mengambil fokus pada usaha untuk mempertahankan apa yang para tokoh utama sudah capai dangun. Lebih jelas dan singkat, setelah Lord-Ruler mati, Vin dan kawan-kawannya, terutama Ellend mencoba untuk membangun masyarakat demokratis, hanya untuk kemudian terancam dengan tiga pasukan (yang datang bergantian) yang mengepung kota mereka. Ketiga pasukan itu dipimpin oleh panglima perang yang bangkit dan berhasil memenangkan perebutan kekuasaan yang terjadi di wilayah mereka. Fokus baru ini yang membuat The Well of Ascension menjadi jauh lebih menarik untuk dibaca. Sanderson menghidangkan sebuah tematik yang sebenarnya tidak baru, namun masih basah karena jarang dieksplorasi yakni kejatuhan masyarakat dan pergantian peradaban pasca pergantian era atau kejatuhan penguasa kegelapan.
Banyak fiksi fantasi baik itu di buku maupun video game tidak mengacuhkan dampak akibat dari kejatuhan pangeran kegelapan secara lebih jauh. Mereka beranggapan bahwa kedamaian senantiansa (kembali) menyelimuti bumi. Padahal duduk perkaranya tidak seharusnya semudah itu. Bahkan ketika misalnya pangeran kegelapan tersebut bangkit kembali, bukan berkuasa dalam tirani seperti Lord-Ruler, perubahan pada masyarakat dan perabadan sebagai akibat peristiwa dengan skala yang besar tersebut (terkadang skala benua, atau bahkan dunia). Jangankan masyarakat dan peradaban, para penulis kerap sekali melupakan nasib para pengabdi pangeran kegelapan yang ditinggalkan oleh tuannya, seolah mereka tidak pernah ada sebelumnya.
Sanderson memberikan perhatian pada kenyataan yang sering dilupakan tersebut. Sanderson pada buku pertamanya memberikan gambaran yang cukup detil atas para pengabdi Lord-Ruler dan hubungan mereka dengan sang tuan abadi. Di The Well of Ascension, Sanderson menunjukkan reaksi alami yang dilakukan oleh para pengabdinya. Tergambarkan dengan baik bagaimana masyarakat dan peradaban yang telah berlangsung sedemikian rupa selama 1000 tahun dibawah kuasa Lord-Ruler, jatuh bersama dirinya,
Memang Sanderson telah mengambil sebuah tema menarik yang sering dilupkan, namun apakah dia sudah melakukannya dengan baik? Saya memujinya bukan karena sekedar usaha saja karena memang Sanderson mampu menampilkan temanya dengan baik. Tidak hanya bagaimana dia bisa menuturkan serangkaian peristiwa yang terjadi pasca kejatuhan Lord-Ruler dengan alamiah dan menarik melalui narasi, Sanderson menunjukkan perubahan tersebut melalui perilaku masyarakat yang menjadi sumber konflik dalam narasinya. Dari konflik yang dihadapi para karakter tersebut ditunjukkan bagaimana justru banyak masyarakat, tidak terkecuali mereka yang sebelumnya ditindas oleh Lord-Ruler mengkehendaki untuk kembali pada kondisi lama karena merasa tidak nyaman dengan segala kepastian yang ada. Ini merupakan sebuah ironi yang ditunjukkan bagaimana suatu hal yang diinginkan oleh suatu pihak, ternyata tidak dianggap baik oleh masyarakat itu sendiri.
Sejauh ini saya telah memuji bagaimana Sanderson telah menghadirkan sebuah tema yang kerap dilupakan, lengkap dengan penuturan yang baik. Meskipun demikian, sulit rasanya bagi saya untuk menjadikan The Well of Ascension sebagai sumber rujukan bagi penulis yang hendak mengkesplorasi premis dan tema yang serupanya. Keraguan ini didapat dari bagaimana Sanderson menangani hal yang tidak terkait maupun yang terkait dengan tema dalam The Well of Ascension.
Terdapat beberapa keputusan yang diambil Sanderson dalam narasinya  patut diragukan. Keraguan itu muncul karena keputusan tersebut nampak tidak beralasan, dan meskipun beralasan, pastinya sangat lemah dan pada akhirnya terjadi karena didasarkan pada author appeal. Salah satu keputusan yang saya ragukan dari Sanderson adalah bagaimana dia memilih Ellend, kekasih Vin, sebagai raja baru. Padahal faktanya adalah masih ada karakter lain yang lebih pantas untuk mendapatkan posisi tersebut, dan ini semakin diperkuat apabila kita memasukkan peristiwa di menjelang akhir buku pertama kedalam perhitungan. Kurangnya alasan yang jelas mengapa Ellend yang pada buku pertamanya pun yang hanya menjelang akhir baru tergabung dalam perjuangan kelompok Vin bisa menjadi pemimpin bagi mereka, seolah menggamblangkan bahwa dirinya mencapai posisi yang penting hanya karena statusnya sebagai kekasih karakter utama.
Ada yang ganjal karena meskipun Sanderson telah melakukan sebuah keputusan yang tidak beralasan, dia nampak seperti menyadarinya. Ellend ditampilkan sebagai seorang sosok pemimpin canggung, yang tidak dihormati oleh siapapun bahkan sekutunya sendiri. Hal ini kemudian dikembangkan oleh Sanderson kesebuah konflik dimana Ellend dengan bantuan karakter lainnya berupaya merubah dirinya agar menjadi pemimpin yang lebih baik. Lucunya disini adalah bagaimana sepanjang konflik ini berlangsung, tidak jarang beberapa karakter sentral yang mempertanyakan Ellend sebagai pemimpin secara gamblang melalui sikap mereka namun pada akhirnya tidak terjadi apa-apa yang berarti berkaitan dengan ketidakpuasan mereka, seolah-olah tidak ada hal yang dapat dilakukan. Padahal, beberapa karakter secara politis dalam konteks narasinya memiliki daya tawar yang lebih tinggi, lebih baik dalam memimpin, dan lebih berkapabilitas daripada Ellend, dengan kesemua faktor tersebut dibuktikan sendiri dalam buku pertama.
Beberapa konflik sentral yang terjadi dalam The Well of Ascension menguatkan perpesepsi bahwa Ellend harus menjadi penting karena dia adalah kekasih dari karakter utama. Dia ingin menjadikan kekasih karakter utamanya berada di posisi penting di narasi, lalu memberikan kesempatan baginya untuk berkembang dengan cara merusak konsistensi logis dalam ceritanya sendiri. Namun disaat yang bersamaan, Sanderson tidak menutup-nutupi keputusannya tersebut melalui karakter lain. Hal ini menjadi sangat absurd, menciptakan disonansi yang membuatnya menjadi sulit untuk diterima oleh pembaca yang jeli.
Permasalahan The Well of Ascension tidak berhenti hanya pada disonansi antara konsistensi logika narasi dan keputusan Sanderson sebagai penulis saja, namun bagaimana Sanderson terlalu sering larut dalam tulisannya sendiri. Diantara dua buku lainnya, The Well of Ascension memiliki jumlah halaman yang paling tebal. Sayangnya dibalik ketebalan tersebut terlalu banyak hal tidak penting yang ditulis oleh Sanderson. Mulai dari konflik cinta setengah matang, hingga sebuah sesi belanja ditulis sepanjang satu bab. Kesemua ini hanya mempertebal The Well of Ascension secara sia-sia sekaligus banyak merusak tona narasi yang Sanderson sendiri hendak bangun di dalam bukunya, sebuah komplain yang sudah saya utarakan pada ulasan buku pertama.
The Well of Ascension terasa lebih lengkap dan lebih menghibur untuk dibaca daripada buku pertama. Ini dapat terjadi karena Sanderson mencoba mengambil sebuah fokus yang kerap kali dilupakan oleh penulis fantasi lain. Namun, dalam gambaran yang lebih besar terlalu banyak permasalahan penulisan secara logis untuk bisa menjadikan The Well of Ascension sebagai karya rujukan yang solid. Seperti komik shounen, The Well of Ascension hanya pantas menjadi hiburan di waktu luang tidak perlu dipikirkan terlalu serius oleh kita.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar