Minggu, 23 Maret 2014

[Resensi] The First Law: Last Argument of Kings

Judul : The First Law: Before They Are Hanged
Pengarang : Joe Ambercrombie
Penerbit : Orion
Tahun : 2008
Genre : Fantasy
Tebal : 536

Sudah hampir 4 bulan berlalu semenjak blog ini terakhir kali diisi dengan post baru. Bukannya saya berhenti membaca buku atau ganti hobi, tapi lebih karena penyakit lama (baca: tarsok) kambuh ketika selesai membaca buku ini. Bukannya langsung menulis ulasannya seperti biasa, malah lanjut baca buku berikutnya atau main game Tearaway. Semoga saja setelah ini, saya (dan mungkin rekan saya juga) bisa kembali mengisi blog ini dengan ulasan yang penuh gairah! 

Sinopsis
Perjalanan ke barat tidak memberi apa-apa bagi Logen, dan ini adalah saatnya dia kembali ke kampung halamannya di utara, untuk menumpahkan darah musuhnya lebih banyak lagi. Glokta terperangkap di dalam perang yang berbeda dari yang dihadapi kawan lamanya, Kolonel West di utara. Perang yang dipenuhi tipu muslihat dan perebutan kekuasaan, perang yang membuatnya memiliki dua tuan yang harus dijilat oleh pengabdian dirinya. Sementara itu, Bayaz, Sang Magi Pertama nampak terlalu bahagia untuk seseorang penyihir yang gagal mendapatkan harapan terakhirnya di ujung dunia, seolah masih memiliki rencana lain.


Ulasan
Sebelumnya di ulasan buku kedua dari trilogi The First Law, telah dijabarkan secara cukup panjang lebar bagaimana buku trilogi(dan –logi lainnya) terjerembap kedalam jebakan yang menyebabkan sebuah trilogi tidak dapat dinilai bukunya secara satu persatu, melainkan hanya dapat dinilai apabila sudah membaca buku lainnya. Hal ini terefleksikan ketika buku pertama dan kedua suatu trilogi (apalagi seri buku yang lebih panjang) dikritik karena lemah, lalu para pendukungnya memberi argumen bahwa ceritanya akan membaik di buku yang kesekian. Seperti yang sudah dituliskan bahwa seharusnya setiap buku, terlepas dia termasuk kedalam trilogi atau seri apapun harus dinilai melalui kualitas yang berdiri sendiri.

Lantas muncul pertanyaan, hal apa yang menghindarkan penulis dari jebakan tersebut apabila mereka ingin cerita dalam skala besar? Salah satu poin yang telah dikemukakan adalah menulis cerita sebagai narasi yang terdiri atas arc yang berbeda bagi tiap buku. Hal ini yang membawa The First Law Trilogy terasa lebih memuaskan sebagai sebuah cerita trilogi karena setiap bukunya dapat dinilai diatas kualitas mereka sendiri sebagai satu buku, dan dikukuhkan secara lebih mantap lagi melalui  buku konklusi yang juga merupakan buku terbaik, Last Argument of Kings.

Last Argument of Kings sebagai satu buku yang berdiri sendiri, dia memiliki narasi yang solid dan kukuh. Seperti dua buku sebelumnya, narasi yang diceritakan berupa arc yang berdiri sendiri, kecuali satu arc yang merupakan kesinambungan langsung dari buku sebelumnya. Namun secara kualitas premis arc cerita itu sendiri saja, tidak ada perbedaan yang begitu mencolok antara buku kedua dan buku ketiga. Lantas, apa yang membuat Last Argument of Kings menjadi buku yang terbaik adalah bagaimana dia sebagai buku ketiga, menutup setiap arc cerita yang ada dari buku pertama dan buku kedua dengan memuaskan. Dia tidak melupakan foreshadowing  yang diletakkan dari buku pertama dan memunculkannya pada momen yang tepat di buku ketiga. Mampu menyampaikan narasi arc-nya itu sendiri disaat yang sama dengan menyimpulkan konklusi dari arc  lain dan juga mewujudkan foreshadowing yang ada menjadikan Last Arguments of King buku terbaik dari First Law Trilogy.

Setelah membaca Last Argument of Kings, sempat terpikirkan apakah yang saya tulis di ulasan buku sebelumnya menjadi invalid, karena sempat terpikir bagaimana salah satu arc cerita di buku tersebut nampak seperti buang-buang waktu belaka. Memikirkannya lebih lanjut, pemikiran sesaat itu yang justru salah dan menyadarkan saya satu hal yang membuat Last Argument of Kings sekaligus Before They Are Hanged terasa sebagai buku yang jauh lebih kuat dari The Blade Itself. Satu hal yang dimaksud adalah bagaimana kedua buku memiliki ide sentral yang di eksplorasi oleh Abercrombie.

Di Before They Are Hanged, Abercrombie menelusuri ide atas heroic quest yang biasa kita temui di buku fantasi kontemporer. Bagaimana arc tersebut dieksekusi oleh dia nampak tidak berbeda dengan cerita klise yang dimaksud. Namun Konklusi yang mengakhiri arc tersebut di buku yang sama menjadikannya semacam ironi bagi heroic quest. Sayangnya, Abercrombie tidak memfokuskan bukunya pada satu ide ini, dan mengeksplorasi ide-ide lain yang terasa lebih lemah dan tidak terasa sehingga kesan yang dimunculkan tidak kuat.

Ide yang dieksplorasi Abercrombie di Last Argument of Kings terasa lebih ambisius. Abercormbie mengambil sebuah ide yang sebenarnya cukup dasar, yaitu kekuasaan atau power. Tidak hanya terdapat dalam satu arc cerita saja, ide tersebut tercakup di seluruh narasi. Tapi berbeda dengan buku sebelumnya dimana dia hanya mengeksplorasinya melalui cerita, kekuasaan ini dia tampilkan di konflik intra dan interpersonal para karakter yang terlibat dalam narasi.  Begitu kuat ide yang Abercrombie telusuri dan eksekusi dengan baik ini sehingga karakter yang sudah ditampilkan dari satu atau dua buku sebelumnya, menjadi sangat berbeda atau terlihat sangat berbeda. Namun Abercrombie melakukannya secara sempurna melalui, Bayaz, sebagaimana keterlibatan dirinya di trilogi ini menjadi sangat berbeda karena ide kekuasaan yang diperlihatkan di Last Argument of Kings, menjugnkir balikkan trope tertentu yang ditempelkan pada dirinya di dua buku sebelumnya.

Abercrombie memang telah mengeksekusi narasi cerita, dan konklusi yang baik. Tidak hanya itu, dia pun bisa secara lebih solid menelusuri ide tertentu di Last Argument of Kings yang menjadikan buku tersebut memiliki nilai intrisik yang lebih. Namun, sayangnya setelah dua buku, penulisan Abercrombie secara umum tidak berubah banyak. Tona cerita tetap terasa inkonsisten dan sayangnya tidak mampu menimbulkan rasa fantastis baik melalui deskripsi dan prosanya. Abercrombie pun kerap sekali menulis paragraf deskripsi kelewat panjang, menambah jumlah halaman yang tidak perlu bagi trilogi yang sebenarnya secara keseluruhan dapat diceritakan lebih singkat. Untungnya saja, kebiasaan itu tidak sampai membuat narasi cerita terasa molor dan pace yang ada masih tetap terasa solid.


Di ulasan buku pertama sudah dituliskan mengenai gritty fantasy yang muncul sebagai upaya keluar dari fantasi romantisis yang terlalu dipengaruhi oleh Tolkien dan C.S. Lewis. Sayangnya A Song of Ice and Fire merupakan upaya yang sangat buruk untuk sebuah gritty fantasy karena pada substansinya dia tidak menawarkan apapun yang benar-benar berbeda. Dari dulu sebenarnya sudah ada gritty fantasy yang pantas direkomendasi bagi yang mencarinya, seperti Broken Sword oleh Poul Anderson. Namun, apabila harus merujuk pada buku yang lebih kontemporer, maka First Law Trilogy merupakan buku gritty fantasy yang lebih dari layak untuk dibaca. Tidak ada kekerasan yang muncul tanpa alasan. Dia tidak melepas romantisisme dan tidak menggantikannya dengan apa-apa, melainkan menggantinya dengan ide yang ditelusuri secara secara kukuh melalui narasi. Tidak hanya itu, First Law hanya berupa trilogi, dan walaupun punya halaman setebal 500 halaman setiap bukunya, kita tidak perlu membaca lima buku setebal 700-1000 halaman hanya untuk melihat pertumpahan darah tanpa makna yang pasti akan tertutup dengan tidak memuaskan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar