Rabu, 06 November 2013

[Resensi] Rencana Besar

Judul : Rencana Besar
Pengarang : Tsugaeda
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun : 2013
Genre : Thriller
Tebal : 384

Sinopsis
Lenyapnya uang 17 miliar rupiah dari pembukuan Universal Bank of Indonesia menyeret tiga nama itu ke dalam daftar tersangka. Seorang penghancur, seorang pembangun, dan seorang pemikir dengan motifnya masing-masing. Penyelidikan serius dilakukan dari balik selubung demi melindungi reputasi UBI. Namun dengan berjalannya waktu, penyelidikan menyingkap bahwa yang dilindungi disini bukan hanya sekedar reputasi milik UBI, namun hal lain yang lebih besar dan serius.


Ulasan
Genre thriller cukup identik dengan detektif, polisi, pembunuhan (berantai), dan penculikan. Elemen suspensi dan ketegangan yang ada hadir melalui penyibakan misteri identitas si pembunuh, pengungkapan fakta-fakta, dan pergulatan psikologis dalam diri pelaku, protagonis, atau antar karakter. Ini bisa kita lihat di contoh yang paling umum untuk membuktikan yaitu Silence of the Lambs-nya Thomas Harris serta serangkaian karya penulis thriller lain yang terpengaruh olehnya. Bahkan The Girl With The Dragon Tattoo yang memiliki banyak hal lain diluar dari thriller-nya masih mengandalkan hal tersebut sebagai pembangun utama bagi elemen ketegangan yang dihadirkan.

Hal tersebut memuncul pertanyaan di benak saya, apakah bisa membangun ketegangan tanpa melibatkan pembunuhan? Bisakah suspensi menjadi menegangkan kalau taruhannya bukan nyawa? Sudah ada sebenarnya yang namanya corporate thriller atau legal thriller yang dipopulerkan oleh John Grisham, yang saya belum sempat baca karena kurangnya ulasan yang cukup memuaskan bagi saya untuk membelinya. Maka saya taruh harapan ini pada Rencana Besar, yang menurut kata-kata yang saya dengar dan baca dari sinopsisnya sendiri memiliki latar bank, sebuah korporat, sebuah premis yang menarik untuk thriller. Tapi premis sendiri tidak cukup untuk menjadikan suatu fiksi masuk ke genre terkait. Semua jatuh kedalam eksekusi atas elemen-elemen pembangun cerita.

Rencana Besar melalui sinopsis sudah mengesankan hal tersebut. Hal itu untungnya terbukti ketika saya membaca halaman-halaman awal. Penulis mengelaborasikan dengan cukup detil bagaimana suatu kejahatan korporatisme bank terjadi, dan bagaimana hal tersebut harus dianggap penting oleh pembaca. Semua istilah perbankan, atau korporat bank dijelaskan dengan bahasa awam yang mudah dimengerti, namun juga untungnya tidak disimplifikasikan sampai dia kehilangan makna asli, yang membuatnya sedikit memiliki bobot di cerita.

Kesan positif ini terus bertahan sepanjang cerita berlangsung. Satu persatu misteri korporat tersibak melalui penyelidikan atas sejarah dan personil yang terlibat di dalamnya. Nuansa corporate thriller sudah terbangun semakin baik setiap halaman dibalik. Namun ada satu hal yang mengganjal saya. Walaupun cerita sudah berlangsung lama, nyaris setengah halaman dari seluruh buku telah dibalik, belum ada stakes atau pertaruhan nampak di cerita. Saya mulai khawatir bahwa akan terjadi ‘perbelokkan’ tidak terduga yang akan merubah kesan saya pada buku ini seluruhnya tidak lama lagi.

Nampaknya saya benar, karena kekhawatiran terjawab sudah diparuh tengah buku ketika Rencana Besar terjerembab kedalam tumpukan klise yang bisa dipikirkan dari genre thriller. Nuansa corporate thriller hilang seketika begitu karakter utama mendapatkan pertaruhannya, pertaruhan yang saya tunggu sedari paruh awal novel, yaitu nyawa, baik nyawanya sendiri dan orang lain.

Kita tahu bahwa suspensi dan ketegangan dalam sebuah fiksi thriller muncul serta-merta tidak hanya karena itu menegangkan, tapi karena adanya pertaruhan yang melekat pada karakter-karakter yang terlibat di cerita. Pertaruhan ini sebenarnya bisa apa saja, namun kita paling sering melihatnya di novel thriller sebagai nyawa, baik nyawa karakter utama atau karakter lain. Nyawa sebagai pertaruhan sudah (terlalu) biasa kita lihat di novel thriller terutama crime thriller, dan seperti yang saya ungkap sebelumnya, saya ingin melihat ketengan dihasilkan tanpa harus melibatkan nyawa sebagai pertaruhan.

Pertanyaannya mungkin, apa yang lantas menjadi pertaruhan dalam  sebuah thriller tanpa melinatkan nyawa? Banyak, apalagi apabila kita membicarakan corporate thriller atau legal thriller. Pertaruhan ini bisa mulai dari reputasi profesi, pribadi, keuangan, atau sebuah rahasia hidup. Semua dapat menyebabkan seorang karakter jatuh kedalam status yang lebih parah dari kematian, mendekati kondisi ‘hidup segan mati tak mau’. Bisa dikatakan sebenarnya The Girl With The Dragon Tattoo menggunakan banyak pertaruhan reputasi atau nama baik di sebagian besar cerita, dan pertaruhan ini sudah diletakkan semenjak awal. Ketika cerita bergerak, dan nyawa menjadi pertaruhan, ini tidak terasa begitu besar dampaknya sampai merusak nuansa cerita, apalagi pertaruhan yang terjadi hanya berlangsung sesaat, dan pertaruhan yang sebenarnya tetap berjalan.

Saya menjadi heran, mengapa di tengah latar perbankan yang sudah dibangun sedemikian rupa, pertaruhan yang muncul tetap nyawa. Bahkan pertaruhan reputasi profesi dan pribadi sudah ada dan dibuktikan sendiri akibatnya didalam Rencana Besar itu sendiri, suatu hal yang membuat saya semakin heran. Akhirnya bagi saya latar perbankan yang ada di Rencana Besar hanya jatuh sebagai latar belakang saja. Premis yang bagus terbuang percuma dalam pelaksanaannya.

Tapi hal yang benar-benar merusak bukan masalah pertaruhan tersebut, melainkan munculnya klise didalam cerita yang sebenarnya sama sekali tidak diperlukan. Tidak hanya tanpa tujuan selain memberikan rasa ketegangan dan suspensi instan, klise yang muncul merusak kesan karakter, karena tindakan mereka terasa sangat tidak sesuai  dengan kesan yang telah diberikan di paruh awal buku. Tidak hanya membuat karakter terasa keluar dari kesan mereka, unsur pembangun klise yang ada sendiri pun bermasalah. Unsur pembangun ini terasa berada diluar dari tempat latar yang ada. Kalau boleh sedikit mendetail, yang menurut saya bermasalah adalah penggunaan senjata laras panjang. Latar sudah jelas terjadi di Indonesia, dan berbeda dengan Amerika Serikat, senjata api tidak dijual disini. Bahkan akses senjata api paling sederhana seperti pistol pun sangat sulit, dan biasa yang beredar di masyarakat adalah senjata rakitan. Ini mengesankan klise dihadirkan karena harus berada disana, karena memang biasanya seperti itu, secara tanpa sadar merusak kesan cerita yang sudah dibangunnya sendiri dari awal.

Rencana Besar menunjukkan premis-premis yang menarik. Bahkan di bagian paruh akhir buku, ketika cerita terjerembab jatuh akibat tumpukan klise besar, dia masih menunjukkan elemen-elemen yang membuat corporate thriller terdengar jauh lebih menarik daripada thriller biasa. Elemen yang dimaksud seperti politik korporasi, sindikasi kriminal, dan kejahatan kerah putih lainnya yang cenderung dilakukan lebih samar, lebih berseni daripada kejahatan biasa sehingga pengungkapan atas kenyataannya pun akan terasa lebih memuaskan daripada elemen thriller biasa. Namun nampaknya Rencana Besar menjadi terlalu ambisius akan ide-idenya sendiri. Antara premis ini terlalu dimasak setengah matang, atau diganggu oleh adegan klise yang terus menghantui paruh akhir buku ini.

Terlepas dari hal-hal tersebut yang benar-benar mengurangi kesan positif pada Rencana Besar, ada satu aspek yang membuat saya terkesan, yaitu penulisan. Memang penulisannya dari segi prosa atau diksi sebenarnya tidak ada yang istimewa, namun juga tidak buruk karena diksi yang digunakan berada pada konteks dan minim repetisi. Tapi dari segi penulisan lain, seperti dialog, struktur plot, hingga narasi dilakukan dengan sangat rapi dan baik.  Tidak ada penjabaran detil berlebihan yang menganggu alur berjalannya narasi cerita, walaupun sebenarnya sedikit detil ditambahkan tidak akan melukai siapapun.

Menambah jumlah buku bergenre thriller asli dari Indonesia, Rencana Besar mencoba hadir dengan memberikan premis yang berbeda. Namun pada akhirnya dia tetap jatuh kedalam thriller yang biasa saja, tanpa ada kesan berlebih karena premis yang ditampilkan diawal hanya menjadi latar. Selain itu, tidak ada tema lain yang dieksplorasi di buku selaiknya The Girl With The Dragon Tattoo dengan cuplikan atas gambaran jurnalisme ekonomi melalui narasinya. Rencana Besar setidaknya mampu memberikan kesan cukup positif, dan secara keseluruhan bukan bacaan buruk.

2 komentar:

  1. Hmm, kalau boleh meminta sedikit spoiler, sebenarnya klise macam apa yang terjadi di pertengahan sampai paruh akhir cerita? Ak jadi tertarik sama buku ini, tapi khawatir kalau ternyata klisenya bikin ceritanya jatuh. Thanks~

    -Ivon-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya lupa karena udah baca setahun yang lalu, tapi klisenya itu ngebuat cerita di novelnya banting ssetir jadi ada adegan laga macam film hollywood.

      Hapus