Selasa, 26 November 2013

[Resensi] Negeri Para Bedebah

Judul: Negeri Para Bedebah
Pengarang: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2012
Genre:  Thriller
Tebal: 433

Kalau mengikuti blog ini pasti sudah tahu sekuel Negeri Pada Bedebah diulas lebih dulu, dan mendapatkan penilaian yang jauh dari positif. Cerita yang terlalu mengikuti buku pertamanya bahkan secara alur dan elemen. Bahkan sampai munculnya bond villain di akhir. Ini tentu menempatkan Negeri Para Bedebah berada di posisi yang tidak menguntungkan karena saya sudah memiliki penilaian negatif terlebih dahulu yang melekat pada si penulis (sikap anti kritiknya hanya memperkeruh penilaian). Saya kesulitan membaca bagian awal buku ini, berharap dapat mengungkap kesalahan yang sebenarnya tidak pantas disebut. Tapi pada akhirnya jiwa saya tidak bisa dibohongi, dan memang nampaknya Negeri Di Ujung Tanduk hanya anak haram yang harus dilupakan agar Negeri Para Bedebah bisa berdiri sendiri diatas kualitasnya.


Sinopsis
Thomas, seorang ekonom ternama tanpa nama keluarga harus berpacu dengan waktu ketika harga diri keluarga dan dirinya kembali diancam oleh hantu masa lalu yang menyebabkan dia kehilangan nyaris segalanya. Berhadapan dengan kekuatan besar penegak hukum itu sendiri, Thomas mencari pion dari pusaran kekuasaan yang lebih berpengaruh untuk menyelamatkan harga diri masa lalu yang dia satu-satunya miliki semenjak puluhan tahun, tidak peduli apakah itu akan membawa negaranya yang harus menanggung kerugian atau tidak.

Ulasan
Di kehidupan bernegara kita tidak akan lepas dari yang namanya skandal pemerintahan. Selalu ada tanah kotor yang diungkap oleh para jurnalis atau pembocor informasi ke publik agar masyarakat bahwa sesuatu yang salah pernah terjadi. Skandal itu bisa berupa espionase yang dilakukan negara pada warganya sendiri, atau menyelewengkan bantuan internasional untuk memperdalam pundi kroni-kroni mereka yang berkuasa. Skandal-skandal ini ketika diketahui oleh publik, tidak mengherankan bisa terpatri dalam  halaman sejarah ketika melibatkan orang-orang berpengaruh di masanya terjadi.

Dalam fiksi kita tahu bahwa suatu kejadian sejarah adalah subjek yang sering dipilih oleh penulis sebagai  tema atas apa yang mereka tulis. Walaupun sejarah bisa saja berdasarkan oleh fakta, itu tidak menghentikan insan kreatif untuk mengangkat suatu peristiwa sejarah sebagai inti dari cerita yang mereka tulis. Suatu sejarah mungkin sudah terjadi sedemikian lama, atau dimanipulasi rezim kekuasaan sehingga suatu kebenaran dalam sejarah menjadi kusam dan kabur. Seorang penulis bisa jadi merasa tidak puas dengan apa yang tertulis di buku sejarah, ketika dia mengetahui lebih dari apa yang tertulis disitu entah karena pengalaman pribadi atau pengalaman orang lain yang dibagi kepadanya. Fiksi menjadi medium untuk memberikan perspektif baru atas suatu kejadian sejarah yang kusam dan buram, suatu usaha yang mungkin dapat membuatnya lebih jelas dan mengungkapkan kenyataan. Kita sering melihat fiksi sejarah seperti ini di Indonesia, fiksi sejarah yang bertemakan Peristiwa G30S. Sebegitu gelapnya kejadian sejarah tersebut terpatri dalam bangsa kita. Mana yang fakta dan rekaan tidak jelas karena sejarah dimanipulasi oleh pemenang. Tidak mengherankan apabila banyak penulis yang ingin mengungkap friksi kenyataan dibalik peristiwa besar tersebut.

Sebagaimana bagian sejarah, skandal yang cukup besar untuk bisa tercatat di buku sejarah juga dapat menjadi subjek bagi fiksi. Misal saja di Amerika Serikat kita mengetahui adanya Skandal Watergate yang menyebabkan jatuhnya seorang presiden karena skandal pertama kali. Sebuah film thriller politik yang berpengaruh lahir berkat adanya skandal tersebut. Maka disini kita mendapatkan sebuah novel yang mendasarkan dirinya pada skandal besar yang terjadi di Indonesia 5 tahun silam, walaupun ada fiktisasi di beberapa bagian untuk menghindari kontroversi yang tidak diperlukan. Skandal yang ditenggarai menyebabkan kerugian triliunan rupiah serta melibatkan jajaran tinggi pemerintahan. Dengan kenyataan yang ada dibalik kejadian tersebut masih buram, tidak jelas siapa yang bertanggung jawab atas hilangnya uang rakyat, Tere Liye mencoba memberikan visinya atas apa yang terjadi dibalik skandal itu melalui fiksi tulisannya, Negeri Para Bedebah.

Negeri Para Bedebah merupakan fiksi pertama yang mengangkat Skandal Bank Century sebagai tema sentralnya. Mengingat besarnya skandal tersebut di media, tidak mengherankan apabila suatu saat nanti akan muncul fiksi yang didasarkan padanya. Tapi Negeri Para Bedebah menghadirkan suatu cerita fiksi yang sangat baik atas tema yang diambilnya. Ini bukan serta-merta karena premisnya saja, yang berlatar dunia perbankan (yang nampaknya masih jarang menjadi ranah fiksi), namun dari bagaimana Tere Liye bisa memberikan perspektif yang benar-benar berbeda dari apa yang mungkin bisa kita ekspetasi dari fiktisisasi skandal tersebut.

Cerita dihadirkan melalui perspektif seseorang yang memiliki kepentingan terhadap keselamatan Bank Century (atau Bank Semesta didalam bukunya). Diperlihatkan bagaimana perjuangan karakter utama melakukan segalanya untuk mencapai hal tersebut, bahkan ketika itu menggunakan taktik kotor atau melupakan fakta bahwa upaya penyelamatan tersebut akan menghabiskan uang negara. Tapi didalam eksekusinya, Tere Liye mampu menuliskan hal tersebut nampak bukan sebagai hal yang negatif dari narasinya. Eksekusi dilakukan secara cermat sehingga hal yang biasanya kita pandang negatif, nampak seperti hasil kecerdasan dari tindakan karakter utama, pilihan yang terbaik yang dapat dia lakukan pada situasi tersebut bukan sesuatu yang dilakukan serta merta karena kurangnya integritas karakter.

Penulis yang lebih ‘ambisius’ mungkin ingin menghadirkan skandal ini secara berbeda. Mungkin mereka akan menghadirkannya melalui perspektif bagaimana hal tersebut terjadi sekaligus mengapa hal tersebut seharusnya kita anggap salah. Narasi akan ditempatkan di luar, melalui karakter yang tidak memiliki kepentingan atau ikatan pribadi atas skandal tersebut agar bisa diberikan penghakiman. Negeri Para Bedebah menghindari hal tersebut. Tere Liye tidak melakukan fillbustering, membiarkan apa yang terjadi didalam ceritanya begitu saja melalui narasi tanpa disusupi nilai-nilai yang dipercayai. Mengingat tendensi penulis Indonesia untuk melakukan political correctness, ini menjadi hal yang paling berkesan dari Negeri Para Bedebah bagi saya.

Namun Negeri Para Bedebah tidak akan bisa meninggalkan kesan yang kuat apabila bukan karena eksekusi premisnya yang baik sebagai sebuah fiksi thriller. Seperti yang saya tuliskan di ulasan sebelumnya mengenai thriller, Negeri Pada Bedebah bisa memberikan pertaruhan yang lebih dari sekedar nyawa. Ketika nyawa misalnya menjadi pertaruhan, itu hanya berlaku untuk konflik yang terjadi pada saat itu dan memiliki keterkaitan kuat dengan keseluruhan plot cerita, sangat sesuai dengan cakupan atau scope serta perspektif yang dinarasikan. Hal ini terwujud karena Negeri Para Bedebah memadukan secara baik antara premis dengan tema. Unsur thriller yang ada digunakan sesuai pada tempatnya. Tidak ada unsur thriller yang serta merta digunakan hanya karena merasa “hal tersebut biasanya ada disitu”, bahkan ketika sebenarnya ada ruang terbuka untuk menggunakannya. Tapi tidak karena penulis tahu itu akan tetap berasa di luar tempat dan merusak keseluruhan narasi serta tema yang dibangun.

Harus diakui memang unsur thriller yang digunakan disini semuanya adalah klise, bukan sesuatu yang baru atau berbeda. Tidak berlebihan apabila dikatakan kalau semua poin konflik di Negeri Para Bedebah memiliki resolusi mirip dengan film Hollywood. Namun saya adalah orang yang percaya bahwa klise tidak sepenuhnya buruk, selama mereka dieksekusi dengan baik. Maka terlepas dari banyaknya klise yang digunakan dalam Negeri Para Bedebah itu mengurangi kesan yang dibangun. Malah ini membuat kesan yang lebih kuat karena walaupun klise yang digunakan berjumlah banyak, hampir semuanya dieksekusi dengan baik. Tidak hanya itu, mereka berbalut pas bersama dengan narasi sehingga terasa alami seperti menjadi bagian dari cerita keseluruhan.

Walau keseluruhan ceritanya ditulis dengan rapat dan baik, premis dengan tema  dibalut menjadi satu, terdapat kesalahan fundamental dalam memberi landasan dari premis yang ada. Negeri Para Bedebah merupakan fiksi thriller yang mengambil Skandal Bank Century sebagai tema sentralnya. Maka dari tema tersebut kita mendapatkan dunia perbankan sebagai salah satu premis utama. Ini berarti penulis harus memberi landasan yang kokoh agar premis bisa dieksekusi dengan baik. Dapat diakui kalau landasan premis yang dibangun sudah kokoh, hanya saja bagaimana cara melakukannya itu yang menjadi berupa kesalahan. Banyak istilah sulit mengenai perbankan serta ekonomi yang digunakan dalam Negeri Para Bededah. Ini tidak akan menjadi masalah apabila istilah tersebut muncul tepat pada waktunya dan dijelaskan sedikit sehingga pembaca bisa mendapatkan gambaran arti atas istilah tersebut. Tapi penulis melakukannya dengan ceroboh. Istilah muncul tidak tepat pada waktunya sehingga penjelasan yang ada menjadi infodump yang panjang. Tidak hanya menyeret narasi, penjelasan yang ada malah berpotensi membingungkan pembaca. Beruntung istilah yang muncul tidak memainkan peran yang begitu krusial terhadap plot.

Anugrah Sastra Khatulistiwa (penghargaan sastra indonesia dengan nama dalam bahasa inggris seolah menunjukkan kerendahan diri bahasa kita sendiri) merupakan suatu anugrah sastra yang cukup bergengsi, karena kita sebenarnya tidak memiliki terlalu banyak atas pernghargaan yang serupa. Cerita-cerita yang masuk kedalam nominasi 10 besar anugrah ini merupakan karya sastra yang mengambil tema yang secara relatif lebih berat, dan lebih dekat pada unsur kemanusiaan itu sendiri. Negeri Para Bedebah memiliki genre yang dipandang sebagai cerita pulp atau hiburan, tentu masuknya dia kedalam nominasi nampak sebagai sebuah anomali. Namun dengan melihat sendiri bagaimana Tere Liye mampu membungkus isu atau skandal serius dengan balutan fiksi pulp secara menghibur namun tanpa harus mengurangi keseriusan dari isu sendiri, semua dibawakan melalui perspektif yang tidak disangka, tidak mengherankan apabila Negeri Para Bedebah masuk nominasi bagi Anugrah Sastra Khatulistiwa terlepas dari genre dan kontennya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar