Senin, 07 Oktober 2013

[Resensi] Re:ON

(Catatan : Ini merupakan ulasan dari Re:ON volume 1 dan 2 sekaligus)

Saya harus membuka ulasan ini dengan kata-kata "pamungkas" : Re:ON adalah kristalisasi komik Indonesia kontemporer. Tidak, ini bukan pujian, bukan pula kritikan apalagi cacian. Pernyataan tadi merupakan pernyataan netral. Tapi bukan berarti itu artinya komik Indonesia secara keseluruhan bisa disamaratakan nilainya menjadi hanya 2 bintang.



Maksud saya dengan pernyataan tadi adalah, bahwa majalah komik ini, entah secara kebetulan atau tidak, merepresentasikan situasi komik Indonesia saat ini. Ya, bahkan meskipun Re:ON secara fisik hanya mewakili sisi timur komik Indonesia, karena dalam tingkatan yang lebih tak kasat mata baik sisi timur maupun barat punya masalah sama. Dan saya di sini bukan mau mengoceh panjang lebar soal masalah-masalah yang sudah klise, atau sekedar berandai-andai, atau mustahil diselesaikan secara instan seperti prospek komersil-finansial (sebelum ada yang tanya, tenang saja, mau buruk atau bagus saya tetap langganan Re:ON kok sampai habis) dan isu 'keindonesiaan komik Indonesia'. Sudah lelah saya dijejali itu, dari yang berargumen kredibel sampai yang bullshit.

Masalah murni terletak pada aspek penting dalam unsur dasar sedasar-dasarnya komik yang sering terlupakan. Cerita. Termasuk di dalamnya karakter, humor, latar, dan sebagainya. Dari dulu, saya punya semacam kegalauan terpendam tentang ini. Saya biasa berteriak pada diri sendiri, "Seribu orang! Seribu orang bisa menggambar! Tapi hanya satu dari seribu di antara mereka yang bisa menulis cerita baik!". Tanpa bermaksud berlebihan atau sok retoris, begitulah kenyataannya.

Dari puluhan, bahkan ratusan komik lokal yang muncul 'mengintip' (sedih sekali rasanya menggunakan kata itu) di rak-rak toko buku besar negeri ini, yang dalam segi gambar bagus banyak. Banyak sekali. Tapi cerita? Hanya segelintir. Dan saya bukan hanya menggeneralisir komik berformat 'biasa' dengan cerita 'serius'. Bahkan komik-komik komedi, satir, dan humor pun terasa begitu jayus, begitu garing, bahkan dalam satu kasus terasa seperti ceramah dibanding humor!

Dan begitulah pula Re:ON. Mari kita mulai berurutan, dari The Grand Legend : Ramayana karya Is Yuniarto. Ini salah satu titik terang (kalau tidak bisa disebut satu-satunya) dari majalah komik muda ini. Ilustrasi, tidak usah ditanya lagi karena Is memang salah satu komikus terbaik Indonesia dalam segi ini. Latar yang disajikan pun (semestinya) menarik. Ceritanya sendiri belum terlalu menunjukkan inti, dan saya menebak roman-romannya tidak akan menjadi fokus komik, mirip di Garudayana yang punya fokus berat pada adegan laga.

Tapi saya malah tergelitik untuk mengajukan satu pertanyaan. Kenapa wayang? Kenapa wayang lagi? Kenapa bukan leak Bali, misal? Atau jangan jauh-jauh deh, Reog Ponorogo? mitos Dayak? Sunda? Jujur, meski saya tetap memuji karya Is dan yang lainnya, saya (dan beberapa gelintir teman-teman yang sama-sama mengikuti perkembangan komik lokal kontemporer) sudah bosan. Setiap tema lokal, hampir pasti wayang! Ah, ini mungkin bukan kritikan, melainkan lebih ke tantangan. Bisakah bikin lagi komik berbau lokal yang bukan mengangkat pewayangan?

Berpindah ke komik kedua, Lay Lay Cat karya Andik Prayogo dan Sheila Rooswitha. Komik ini punya potensial cukup besar, asli, dan bikin saya gemas karena potensi itu belum benar-benar terpenuhi. Latarnya punya banyak potensi. Konsepnya punya banyak potensi. Karakternya punya banyak potensi. Tapi, seperti yang tadi saya jabarkan, komik ini jatuh ke dalam kategori komik humor lokal yang masih kurang lucu. Mungkin ini agak sok tahu, tapi sejauh pengamatan saya banyak komik humor lokal kontemporer yang kurang mengerti apa itu comic timing. Padahal, bukan hanya di TV, di komik pun timing merupakan salah satu kunci komedi yang baik. Untung suasana slice-of-life di komik ini sejauh ini bagus sekali.

Komik ketiga, Platina Parlour karya Angie dan Kate Yan, jelas bukan komik yang dimaksudkan untuk orang dalam rentang usia dan gender seperti saya. Tapi tenang saja, begini-begini saya dulu baca cukup banyak komik shoujo. Masalah utama komik ini sendiri banyak. Cukup banyak. Soal karakter yang arketipal saya bisa memaklumi karena konsep komik ini berdasarkan butler cafe yang memang sengaja dibikin arketipal. Soal cerita pun begitu. Sayang, lagi-lagi unsur humornya jayus. Untung kali ini masalah bukan pada timing, dan saya lumayan tertawa juga membaca salah satu lawakan di volume 2 (meski sambil mengernyitkan dahi), melainkan pada esensi lawakannya sendiri yang sebagian besar klise. Sudah sering dilakukan dan mudah sekali ditebak, padahal dalam komedi faktor kejutan bisa menjadi andalan.

Maju ke komik keempat, Lemon Leaf karya Rii Wels. Sulit untuk mengkritik komik ini. Lidah saya getir, tangan saya kaku, serius. Karena memang sampai volume 2 komik ini masih terlalu kurang di hampir semua aspek. Ilustrasi masih okelah, meski setiap adegan aksi cepat kurang enak. Ceritanya? Karakternya? Sangat, sangat, sangat klise. Oke, mungkin ini pertanyaan yang benar-benar sudah sering terucap (dan saya sendiri sebenarnya tidak mau menanyakan ini), tidakkah terpikir bikin komik tentang remaja Indonesia?

Sedangkan Hyper Fusion Cyborg Idol Rinka karya Hendri, Kaari, & Vino ini komik paling aneh. Paling banyak orang yang mengerjakannya, tapi sekaligus jadi komik yang terasa paling sedikit dikerjakan. Dari penggambaran latar yang terasa paling 'kosong', adegan laga yang masih kurang enak dilihat, sampai cerita dan karakter yang paling -meminjam istilah teman saya- "template" alias jiplakan. Ini sudah bukan klise lagi, tapi amat sangat generik dari berbagai sisi. Terlalu generik bahkan untuk genrenya.

Malahan, salah beberapa titik terang Re:ON datang dari komik Galauman yang sampai saat ini baru ada beberapa halaman, oneshot Invasi 17 Agustus yang setidak-tidaknya komedinya mengena, atau bahkan 'omake' dari C. Suryo Laksono di volume pertama.

Kesimpulan, masalah laten tentang cerita dalam komik ini harus segera dibenahi. Saya yakin ada penulis yang tertarik berkolaborasi, toh kalau harus muluk-muluk ada Seno Gumira Ajidarma yang kalau tidak salah menggilai Panji Tengkorak. Unsur lokalitas pun tidak mesti dan tidak perlu dari budaya tradisional, apalagi yang itu-itu saja, bisa menggunakan tema kontemporer seperti 1SR6 atau Cermin Putih. Terakhir, kalau sudah jelas komik lokal (di luar upaya bersama seperti Re:ON) belum bisa menghasilkan banyak uang, kenapa tidak menulis cerita terbaik yang diinginkan saja? Toh hasil komersialnya akan 'sama saja', nothing to lose, amirite?

3 komentar:

  1. Saya sendiri tidak terlalu berharap banyak dengan majalah komik terbitan Indonesia. Dan saya tahu, memang tak bisa secara tiba-tiba hadir dan langsung bagus. Perlu banyak proses untuk setidaknya mendekati majalah-majalah komik di Jepang, misalnya, yang memang sudah jadi industri sejak puluhan tahun silam. Karena sudah begitu banyaknya komik di negeri itu, persaingan menjadi semakin ketat. Ini menimbulkan suasana kompetitif yang memaksa komikus untuk selalu memberikan yang terbaik, yang terunik, dari cerita dan segalanya. Karena itulah selalu ada tema-tema baru, yang seolah bisa datang dari manapun.
    --
    Berbeda di Indonesia, industri komiknya masih suram. Untuk melawan jajahan asing, mungkin yang pertama kali diperlukan adalah banyaknya jumlah. Ada dulu, soal kualitas bisa belakangan. Syukur-syukur kalau di antara yang ada itu, satu-dua sudah menunjukkan kualitas. Suatu saat nanti (entah kapan), mungkin saja industri komik Indonesia sudah bisa mendapat tempat yang setidaknya setara dengan industri novel Indonesia. Ada, dan mungkin berkualitas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. well, soal kuantitas sekarang udah ga bisa dibilang sedikit. mungkin yang ngaco distribusinya, tahu lah g******a keak apa. jadi kuantitas? banyak! tapi soal ada atau tidak di toko buku? nah, itu.... :/

      apalagi komik online yang mulai ngetren sekarang. udah bejibun. makin banyak komikus baru, ditambah ilustrator yang loncat pagar jadi komikus juga. baik di komikoo, situs-situs lain, atau bahkan di facebook. justru karena bejibunnya jumlah komik lokal online yang kualitasnya subpar itulah gue jadi tertarik menumpahkan kegalauan ini. :v

      Hapus
  2. dalam pembuatan komik maupun anime menurut ku kualitas itu sangat penting. ya paling enggak kualitasnya standart dah untuk bisa dinikmati. Soalnya klu dari segi kualitas dibawah standart orang yang menikmati komik juga akan malas untuk membacanya

    BalasHapus