Sabtu, 12 Oktober 2013

[Resensi] The First Law Trilogy: The Blade Itself

Judul : The First Law: The Blade Itself
Pengarang : Joe Ambercrombie
Penerbit : Orion
Tahun : 2006
Genre : Fantasy
Tebal : 517

Sinopsis

Tiga orang yang sangat berbeda satu sama lain, Logen Ninefingers seorang barbar yang mulai redup masa jayanya, Sand dan Glokta, seorang inquisitor cacat yang senantiasa curiga, dan Jezal dan Luthar, seorang kapten muda sombong egois yang ingin memenangkan kontes berpedang untuk kejayaan dirinya sendiri, terjebak dalam sebuah konspirasi kekuasaan yang menggerogoti Union yang rapuh. Sementara itu, intrik kuno yang sudah menjadi mitos kembali muncul, dan mulai menyelimuti seluruh dunia dalam konflik.


Ulasan

Fantasi, setidaknya di belahan dunia barat mengalami saturasi yang cukup parah akibat terlalu besarnya pengaruh Tolkien. Begitu banyak cerita fantasi memunculkan elf, orc, dwarf, dan/atau plot monomyth sampai kesemua tropes tersebut seolah menjadi perwujudan dari genre fantasi itu sendiri. Tidak heran apabila Tolkien sering disebut sebagai bapak dari genre high fantasy walaupun pada kenyataanya sudah ada yang datang sebelum dia.

Ingin melepaskan dari kejenuhan fantasi tersebut, kita tahu siapa yang paling terkenal atas usahanya (setidaknya di kalangan umum) adalah George R.R. Martin dengan serial A Song of Fire and Ice miliknya. Dia mempreteli tropes umum yang dimiliki high fantasy, membuang plot monomyth, dan menggantikannya dengan konflik politik machiavellian, anti-heroik yang Martin akui sebagai sebuah karya tanpa karakter yang benar-benar “putih”. Karena usahanya tersebut ini, Martin dipuja dan menjadi mercusuar bagi gritty fantasy. Padahal, sesungguhnya semua pujian itu berlebihan karena dia tidak sebaik yang orang duga, dan karya dia terlalu gersang dari elemen fantasi.

Sebenarnya sudah ada yang datang sebelum dia, yaitu Michael Moorcock (Elric of Melnibòrne), Poul Sanderson (The Broken), atau Robert E. Howard (Conan The Barbarian) yang menuliskan fiksi gritty fantasy. Dibandingkan dengan Anderson saja, dia sudah membawakan ceritanya lebih baik disertai elemen fantasi yang lebih kaya dan penulisan yang indah. Maka tidak heran apabila China Mièville yang hadir setelah Martin, namun mendapat pengaruh dari Moorcock dapat menuliskan sebuah gritty fantasy yang begitu menakjubkan sehingga karyanya tersebut seolah mengembalikan kata ‘fantastis’ kembali keasalnya.

Sebelum membaca The First Law Trilogy: The Blade, saya membawa ekspetasi bahwa ceritanya akan sama seperti Martin. Apalagi sinopsis yang tertulis pada belakang bukunya semakin memperkuat dugaan saya tersebut .Setelah membaca Anderson dan  Mièville, tentu saja ekspetasi tersebut seolah menurunkan minat saya pada buku ini sebelum membaca. Namun saya tetap berharap bahwa ekspetasi saya salah, dan The Blade Itself menjadi buku pertama menarik yang benar-benar menghidup kata ‘fantasi’ dari gritty fantasy dengan penulisan dan premisnya, tidak hanya karena sekedar bersettingkan di tempat khayali rekaan si penulis.

Bagaimana saya dikecewakan dari halaman pertama karena dari penulisan, jelas Abercrombie gagal membangkit nuansa fantasi. Struktur prosanya terlalu modern dan kering, yang bahkan tidak dapat dibandingkan dengan Prosa Mièville yang tetap modern namun mampu membangkit atmosfir aneh dan rasa asing dalam tulisannya, apalagi bila dibandingkan dengan Anderson atau Dunsanny. Penyusunannya tidak menimbulkan tone yang dapat membangkitkan suasana atmosferik. Sering sekali kalimat yang tidak penting menyisip, merusak tone yang sudah dibentuk melalui beberapa kalimat metaforis yang sebenarnya tidak begitu buruk.

Kekurangan dalam penulisan saya rasa tidak hanya karena penggunaan kalimatnya saja, namun juga penggunaan kosa kata. Banyak saya temukan kosa kata yang terlalu modern, sehingga ceritanya terasa terlalu anakronistik atau modern, melenceng dari kesan abad pertengahan yang cerita ini hendak munculkan. Baiklah, ini memang fantasi, dan dunianya pasti memiliki perkembangan yang berbeda sehingga sangat memungkinkan untuk muncul kata-kata tersebut dalam keseharian. Namun, apakah masih bisa terasa immersif apabila seorang prajurit menggunakan kata "investment"? Tapi yang paling menganggu saya adalah bagaimana kalimat “You have to be realistic about these things” dijadikan semacam kata sakti yang hampir selalu muncul dalam bab narasi Logen Ninefingers yang kita tahu sebagai orang barbar. Dia memang cukup pintar dari orang barbar yang kita tahu kebanyakan, namun kata "realistic" tetap terlalu beradab baginya. Ini semakin terasa aneh ketika di narasi karakter lain ditunjukkan Logen menanyakan arti atau penggunaan kata tersebut kepada teman barunya yang memang lebih beradab.

Walaupun kesan saya pada penulisan Abercrombie terkesan sepenuhnya negatif, saya memiliki beberapa kesan positif yang cukup bagi saya untuk membacanya. Narasinya mengalir dengan baik, transisi antar adegan terasa dinamis, dan adegan aksi sendiri pun dilakukan dengan pas, tidak terlalu detil hingga memboroskan halaman namun cukup bagi pembaca untuk membayangkan apa yang terjadi. Abecrombie juga menggunakan metafora dalam ceritanya yang saya rasa menjadi salah satu bagian terbaik. Penulisannya cukup untuk membuat saya tetap membaca, namun sayangnya sangat kurang untuk menciptakan nuansa fantasi dan mengesankan.

Sadar dengan penulisannya yang tidak mungkin akan menciptakan atmosfir fantasi, maka saya melihat arah lain yaitu pada premis dan ide yang ditawarkan di dalam The Blade Itself. Pada awalnya tidak banyak elemen fantasi yang muncul, hanya ada beberapa seperti mahluk liat dan berbahaya bernama shanka dan kemampuan Logen untuk memanggil serta berbicara pada arwah-arwah kuno. Tidak banyak yang muncul setelah itu karena narasi berfokus pada elemen non-fantastis melalui konflik konspirasi yang ditangani oleh Glokta dan persiapan Luthar untuk melakukan pembuktiannya. Namun untungnya elemen fantasi semakin menampakkan diri, utamanya sihir setelah kemunculan Bayaz. Hal ini menjadi cukup mengesankan karena elemen fantastis yang muncul tidak hanya menjadi plot device atau sekedar muncul tapi semakin menampakkan dirinya sebagai salah satu dari pusat konflik yang berkembang. Tidak hanya itu, penggambaran sihir yang dilakukan oleh Abercrombie cukup baik untuk membuatnya terasa seperti sihir melalui kelangkaan dan kemaha-kuatan yang ditunjukkan dalam narasi, walaupun tidak begitu menunjukkan rasa misterius yang memadai.

Abercrombie dapat memadu karakternya dengan cukup baik sehingga mereka bisa dibedakan satu sama lain. Suara mereka cukup kuat, dengan sifat-sifat yang senantiasa tidak hanya menjadi tempelan, namun benar-benar mempengaruhi tindakan mereka dalam menyelesaikan konflik. Sayangnya, banyak dari konflik yang dihadapi para karakter ini, terutama dalam bab Jenzal dan Luthar terasa terlalu klise. Klise memang bukan berarti hal yang buruk, namun itu bila ada sesuatu yang lain dalam memasukkannya. Tapi Abecrombie menggunakannya begitu saja sehingga terasa seperti cara cepat dan mudah untuk menempatkan karakter-karakternya dalam sebuah konflik, lalu menunjukkan sedikit bagian dari masa lalu mereka.  Abercrombie seharusnya mampu membuat konflik klise tersebut setidaknya terasa berbeda sehingga tidak terlalu nampak seperti klise.

The Blade Itself memang sebuah trilogi, dan memang nampaknya sudah di rencanankan demikian sedari awal penulisannya. Namun The Blade Itself memiliki konklusi yang cukup memuaskan atas plot yang terjadi didalamnya, serta tidak ada konflik yang diselesaikan secara menggantung sehingga cerita benar-benar terasa telah ditutup. Tidak hanya itu, di bagian akhir The Blade Itself kita diberikan secuplik konflik yang cukup baik sebagai awal bagi konlik berikut yang akan menjadi fokus buku kedua dan senantiasa membuat penasaran.

The First Law Trilogy memberikan kesan yang cukup baik bagi saya melalui buku pertamanya, The Blade Itself. Saya harapkan buku berikutnya, Before They Are Hanged memberikan cerita yang lebih baik dari yang pertama tanpa perlu terkena kutukan buku kedua dari sebuah trilogi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar