Kamis, 19 September 2013

[Resensi] Life of Pi

Judul : Life of Pi
Pengarang : Yann Martel
Penerbit : Mariner
Tahun : 2001
Genre :  Sea-Story
Tebal : 319

Sinopsis

Piscinne Palitor Matel, seorang laki-laki muda 16 tahun dari India yang haus akan keimanan mengalami bencana yang menghilangkan seluruh keluarga di tengah lautan. Dengan hanya pakaian di badan dan barang-barang keselamatan di atas rakit, Pi harus berbagi kapal pada seekor zebra, orang utan, hyena, dan harimau Bengal bernama Richard Parker.


Ulasan

Laut sudah menjadi bagian kehidupan manusia dari awal peradaban. Pesona yang ditawarkan oleh laut tiada habisnya menjadi sumber inspirasi baik bagi para seniman, pujangga, maupun novelis. Banyak karya-karya klasik para penulis terdahulu seperti Robinson Cruose oleh Daniel Defoe dan Odyssey milik Homer.  Di era Victoria kisah laut seperti Nostromo-nya Joseph Conrad, Moby Dick dari Herman Melville, atau Twenty Thousand Leagues Under the Sea oleh Jules Verne menjadi suatu hal yang umum karena romansa akan penjelajahan dan imperialisme yang melanda Eropa pada masanya.  Terlepas dari masanya, kita dapat melihat satu tema yang mengulang dari kisah-kisah laut ini, bahkan ketika kita melihat pada kisah yang lebih modern seperti The Old Man and The Sea milik Ernest Hemmingway. 

Di dalam kisah lautan kita dapat melihat bagaimana laut menjadi simbol jerih hambatan yang harus dilalui dengan jerih payah bagi manusia. Yann Martel melalui Life of Pi yang ditulisnya tidak jauh dari hal tersebut ketika mempresentasikan laut di dalam kisahnya. Dia memang terdampar diatas sebuah perahu kecil bersama seekor harimau, namun apa yang memberinya jerih payah dan hambatan tidak lain adalah laut itu sendiri. Laut menjadi sumber penderitaan dalam bagian kehidupan Pi tersebut. Dia kehausan di tengah air yang tidak dapat diminum olehnya. Di tengah siang, panas membakar Pi sedang malam hari akan memberinya kegelapan pekat yang meresahkan. Namun di saat yang sama laut juga yang membiarkan Pi tetap hidup. Dia mendapatkan ikan dari laut dibawahnya, sebagaimana juga hujan  turun berasal. Suatu ironi yang disadari oleh Pi sendiri sepanjang pengalamannya menempuh ketelantaran dirinya di tengah lautan.

Kisah dari Pi bukan hanya tentang laut, atau penderitaannya dalam mengarunginya dalam serba keterbasan. Melalui simbolisme laut, Yann Martel mencoba menarik sebuah gari paralel antara Tuhan dengan peran laut dalam kisah hidup Pi. Laut menjadi sumber kehidupan, juga kesengsaraan. Dia kadang memberikan keindahan yang dapat menenangkan jiwa dan raga, namun dalam sekejap dapat berubah menjadi badai mengamuk yang merusak. Air laut tidak dapat diminum, namun dia memberi kehidupan bagi banyak nyawa yang di muka bumi. Laut menjadi suatu entititas yang maha besar, dan sulit dimengerti selayaknya Tuhan. Mungkin melalui garis paralel tersebut, Yann Martel dalam narasinya berani mengatakan bahwa kisah dari Pi adalah sebuah kisah yang akan membuat orang percaya akan tuhan.

Dua premis yang di tarik paralelnya melalui satu makna simbolisasi yang sama tersebut sayangnya tidak terasa terjahit dengan baik oleh Yann Martel. Saya merasa demikian karena Tuhan dan keimanan menjadi satu tema sentral yang penting disini dan kata sakti yang muncul di bagian prolog, yaitu “Aku menceritakan padamu cerita yang akan membuatmu percaya pada Tuhan” tidak terasa bobot atau secara kasar, tidak terbukti di epilog. Perjuangan Pi dalam ketelantarannya di tengah laut memang sebuah pengalaman yang luar biasa, namun pengalaman tersebut lebih menggambarkan perjuangan Pi dalam mempertahankan kemanusiaannya, bukan keimanan. Mungkin kita bisa berdalih bahwa apa yang dimaksud dari kata sakti tersebut adalah cerita dari pengalaman Pi, bukan pengalamannya itu sendiri. Saya rasa memang demikian, sayangnya eksekusi epilog atau bab-bab terakhir yang buruk menjadikan kata sakti tersebut tanpa bobot.

Bagian terburuk dari buku ini adalah bagaimana kita harus memaksakan diri membaca 100 halaman sebelum kita masuk kedalam cerita yang menjadi bagian terbaik. 100 halaman tersebut saya katakan buruk karena penulisan Yann Martel itu sendiri dipenuhi oleh kelebihan detil dan informasi yang tidak sangkut pautnya pada cerita, atau setidaknya pada tema sentral yang sudah ditetapkan, sehingga menambah jumlah halaman yang tidak perlu. Ini terasa semakin menjenuhkan karena prosa Yann Martel tidak memiliki keistimewaan, terlalu biasa, walaupun tidak buruk dan penulisannya atas “suara” cukup baik.

Untungnya setelah menempuh 100 halaman yang begitu buruk itu kita langsung masuk kedalam bagian terbaik buku ini. Kita tidak lagi diberikan kelebihan informasi dan detil yang tidak berguna. Setiap narasi yang diucapkan Pi terasa maknanya dengan perjuangan yang dia hadapi pada saat itu. Kita bisa merasakan perjuangan Pi mempertahankan kemanusiaannya, pergulatan perasaannya, dan hubungan emosional dirinya pada Richard Parker dengan apik karena kecakapan Yann Martel dalam menuliskan “suara” Pi dalam cerita. Bagian ini merupakan bagian terbaik yang bisa memberikan pengalaman hingga saya melupakan 100 halaman buruk yang ada sebelumnya.

Life of Pi memang buku yang memberikan sebuah kisah perjuangan yang tidak terlupakan, walaupun sayang kualitas yang sebenarnya ternyata tidak cukup  untuk memenuhi reputasi yang cukup besar sebagai “klasik modern”. Buku ini memang layak baca, dan seharusnya memang dibaca apabila kita mencari sebuah kisah-laut dengan perjuangan yang apik. Hanya jangan berharap untuk bisa mendapat pengalaman spiritual ketika membacanya sesuai dengan reputasi yang ada atas buku ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar