Senin, 30 September 2013

[Resensi] The City and The City

Judul : The City and The City
Pengarang : China Mièville
Penerbit : Pan-Macmillan Books
Tahun : 2010
Genre : Thriller, Crime, Mystery, Detective, New-Weird, Science-Fiction
Tebal : 373

Buku ini sebenarnya sudah lama saya baca, tapi baru sempat bikin ulasannya sekarang. Kita kembali lagi mengulas buku dari pengarang botak favorit saya ini. Kesulitan saya temukan disana-sini ketika menulisnya karena saya sudah agak lupa apa saja yang bisa saja bisa bedah dari buku tersebut. Tapi ya ini dia.

Sinopsis

Inspektur Tyador Borlù seorang anggota dari Satuan Pemberantas Kriminal Ekstrim menemukan sebuah konspirasi dibalik sebuah pembunuhan yang nampak biasa. Dari kota Bezsel yang suram dan pudar, dia bergabung dengan Quassam Dhatt di kota yang penuh warna kaya, Ul Qoma, dan keduanya bergelut menyelidiki dunia bawah tanah di kota yang satu, namun berbeda. Nasionalis ingin menghancurkan kota yang lain, sedangkan unifikasionis ingin membuyarkan “batas” diantara keduanya.


Ulasan

Genre thriller, crime, dan detective sering bersinggungan satu sama lain sehingga kita sering melihat buku yang dapat dikategorikan sebagai tiga genre itu sekaligus. Namun sebuah persamaan dapat kita perhatikan pada buku-buku seperti ini, yaitu kebiasaan untuk menggunakan tropes prosedur polisi atau cerita detektif. Perbedaan yang biasanya tampak hanya setting, karakter, dan modus operandi para pelaku kejahatan masing-masing buku. Namun secara substansial, mereka semua melakukan hal yang sama. Genre ini, yang sekarang kita sebut sebagai detective story, menjadi sebuah ranah cerita fiksi yang menjenuhkan karena dipenuhi hal sama secara terus-menerus.

China  Mièville mencoba ambil bagiannya sendiri dalam ranah genre detective story. Kita mengetahui dirinya sebagai seorang penulis yang tidak biasa, selalu berekperimen dalam buku-bukunya baik dalam hal setting, premis, atau struktur ceritanya itu sendiri. Melalui The City and The City, dia berhasil menghadirkan sesuatu yang baru pada genre detective story, sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh dia.

Kalau kita lihat sekilas memang cerita China Mièville memegang premis yang sama seperti detective story lainnya dengan sedikit bumbu tambahan konspirasi politik didalamnya. Secara prosedural dan tropes yang digunakannya pun sama persis dengan yang lain. Namun satu hal yang menjadikan The City and The City sangat berbeda dengan detective story adalah setting, dan bagaimana Mièville menggunakannya pada cerita sehingga tidak hanya berakhir sebagai detective story di tempat eksotis. Setting disini menjadikan detective story dalam The City and The City sebuah cerita unik yang mustahil untuk direplikasi oleh cerita lainnya.

Ul Qoma dan Bezsel adalah dua kota yang berbeda, namun satu. Keduanya  berada di lokasi yang sama persis, hanya dimensi dan persepsi para penghuninya yang menjadi pemisah diantara mereka. Konsep tersebut memang sangat aneh, dan tidak masuk akal, namun kita bisa membayangkannya bagai seseorang yang kepribadian ganda. Dua kepribadian berbeda satu sama lain, dan keduanya tidak akan pernah bisa bertemu sama lain walaupun mungkin ada sifat yang bersinggungan diantaranya. Hanya saja dalam Ul Qoma dan Bezsel, kata yang tepat bukannya “tidak akan pernah” melainkan “tidak seharusnya”. Kosenkuensi berat akan menimpa mereka yang berani melanggar norma tidak tertulis yang berjalan pada kedua kota tersebut selama berabad-abad, membentuk perilaku penduduknya menjadi paranoid pada saat tertentu. Dia menjadi sebuah elemen science-fiction tanpa melibatkan teknologi masa depan yang canggih dan bersifat spekulatif. Hal ini tidak pernah dijelaskan dan memang tidak perlu, karena itu akan menghilangkan makna dari kota Bezsel dan Ul Qoma. Kebudayaan dan kebiasaan  penduduknya menggambarkan Kota Bezsel dan Ul Qoma sebagai simbolisme atas “perpecahan” dan rasa takut atas suatu kekuatan yang tidak bisa dimengerti.
Setting yang begitu aneh, asing, dan tidak masuk akal yang diciptakan oleh China Mièville tersebut muncul secara alami sepanjang kasus. Karateristik kedua kota tersebut dijelaskan secara mengalir melalui narasi tanpa ada infodump yang merusak kelajuan atau memperpanjang cerita secara artifisial. Setiap misteri yang dipecahkan memberi kita gambaran baru terhadap kota tersebut dengan senantiasa memberi suatu misteri baru dan petunjuk yang menyegarkan.

Sepanjang saya membaca buku-buku China Mièville sebelumnya, saya melihat dia lebih terbiasa menggunakan perspektif orang ketiga dalam narasinya. Bahkan dalam kumcernya sekalipun, hanya ada satu cerita yang menggunakan perspektif orang pertama. Melalui The City and The City, China Mièville mencoba keluar dari zona nyamannya dan menggunakan perspektif orang pertama, dan dia menggunakan kesempatan itu dengan sangat baik. Prosa sekarang lebih sederhana buku-buku sebelumnya sehingga lebih nyaman dibaca. Percakapan antar karakter juga terasa alami dan mengalir dengan suara satu karakter satu sama lainnya mudah dibedakan. Tapi satu pencapaian yang perlu dicatat adalah bagaimana Mièville bisa
Memang saya rasa ulasan ini seolah memberikan gambaran bahwa The City and The City nampak seperti cerita detective story yang sempurna. Tapi sebenarny ada ganjalan yang membuatnya tidak sempurna. Kasus yang ada memang unik, tapi secara substansi sebenarnya sama saja dengan kasus yang biasa kita temukan dalam detective story kebanyakan. Memang ada unsur politik didalam motifnya, namun itu hanya bumbu belaka karena itu ternyata tidak mempengaruhi kasus secara signifikan. Selain itu epilog yang ada terasa antiklimatis dan melemahkan tema-tema yang telah muncul sepanjang cerita.


The City and The City menambah panjang daftar bacaan unik dari China Mièville bagi mereka yang mencari sesuatu yang benar-benar baru dan aneh. Sungguh sayang tapinya cerita China Mièville satupun belum ada yang diterjemahkan ke bahasa indonesia, dan itu mungkin akan menjadi hambatan serta alasan terbesar untuk tidak membaca ceritanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar