Minggu, 29 September 2013

[Resensi] Katarsis

Judul : Katarsis
Pengarang : Anastasia Aemilia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2013
Genre :  Thriller, Pyschological
Tebal : 264

Jadi ini satu novel lokal baru yang saya ulas setelah beberapa bulan beturut-turut ini membaca buku luar. Tidak begitu puas, tapi masih layak baca. Kalau mau tahu lebih lanjutnya, bisa dibaca mengapa dibawah ini apa yang membuat novel thriller ini tidak mengena pada saya.

Sinopsis
Tara Johandi, gadis berusia delapan belas tahun, menjadi satu-satunya saksi dalam perampokan tragis di rumah pamannya di Bandung. Ketika ditemukan dia disekap di dalam kotak perkakas kayu dalam kondisi syok berat. Polisi menduga pelakunya sepasang perampok yang sudah lama menjadi buronan. Tapi selama penyelidikan, satu demi satu petunjuk mulai menunjukkan keganjilan.


Ulasan

Thriller sebagai genre memiliki usia yang cukup muda, walaupun begitu dia sudah memiliki cukup banyak sub-genre yang cukup berbeda. Satu tema yang sering ditemui di buku thriller terlepas dari sub-genre adalah melibatkan seorang korban yang tidak bersalah atau innocent, entah sebagai karakter utama atau sampingan,  menghadapi berbagai cobaan gila, atau aneh. Namun thriller berkembang, tidak lagi hanya menempatkan seorang korban innocent sebagai karater utama atau perspektif narasi  cerita. Clarice Starling dari Silence of the Lamb misalnya, tidak bisa disebut innocent apalagi “korban” apabila kita mengingat peran dan keterlibatan dirinya dalam cerita. Bahkan dalam Silence of the Lamb sudut pandang narasi senantiasa berpindah pada Buffalo Bill atau Hannibal Lecter, memberikan kita perspektif yang berbeda, dengan rasa menegangkan dan suspensi yang sama atau bahkan lebih daripada ketika kita melihat cerita dari perspektif narasi Clarice Starling.

Katarsis mencoba memberikan suatu premis yang berbeda dalam menghadirkan ceritanya. Dia tidak sekedar menggunakan sudut pandangan seorang korban, karena dia memberikan twist padanya sehingga bisa dikatakan kata innocent tidak lagi berlaku disini. Tentu saja ini merupakan suatu premis yang menarik dan menjanjikan, apalagi mengingat Katarsis merupakan cerita psychological thriller, berarti dengan sudut pandang seseorang yang sudah “rusak”, dia bisa memberikan serangkaian peristiwa nampak tidak semesti, memberi ruang bagi penggunaan tropes lain, memelintirnya, atau cukup memberi rasa baru.

Sayangnya ditengah premisnya yang sedemikian menjanjikan, eksekusi atas twist tersebut tidak berjalan dengan baik.  Karakter yang saya maksud ini, Tara, hendak digambarkan sebagai sosok yang rusak, , dan psikopatik. Intinya, dia adalah bukan korban yang pantas dikasihani. Namun penulis justru melakukan apa yang menjadikan niatnya menciptakan karakter Tara ini sebagai seorang karakter yang non-simpatetik tidak tercapai dengan perkosaan yang menimpa dirinya. Pemerkosaan ini sesungguh tidak diperlukan apalagi setelah si penulis sedari awal sudah menekankan seberapa psikopatiknya Tara. Akhirnya pemerkosaan hanya seperti sebuah jalan pintas dan alasan bagi Tara untuk melakukan perbuatan kejam berikutnya.

Tara merupakan seorang psikopat, yang penulis menggambarkan dirinya sebagai seorang psikopat introvert yang sudah memilikinya sedari lahir. Entah mengapa si penulis seolah menjadikan kondisi dirinya sebagai penyebab bagi Tara untuk membenci beberapa hal seperti namanya sendiri atau sebagai sumber alasan untuk melakukan hal-hal yang kejam. Kondisi piskopatiknya menjadi sebuah sumber, bukan sebuah hasil dari yang semestinya demikian seperti yang kita temukan pada orang-orang dengan latar belakang psikopat kebanyakan. Memang ada beberapa penelitian menarik yang mengatakan bahwa sangat mungkin seseorang lahir sebagai seorang psikopat walaupun dia tumbuh besar di keluarga yang baik-baik. Namun perlu diingat seseorang menjadi psikopat karena dia mempunyai cara pandang realitas yang berbeda dari orang kebanyakan. Seorang psikopat membutuhkan suatu nilai, apapun itu yang bisa berasal dari pengalaman hidupnya, sebelum memelintir hal tersebut dengan cara pandangnya dan menghasilkan perbuatan yang kita anggap sebagai psikopatik. Tapi tidak bagi Tara yang sudah psikopat dari lahir dan itu sudah menjadi alasan yang cukup untuk membenci nama dan orang tuanya sendiri sebagaimana saya tidak menemukan dirinya mendapatkan suatu pengalaman dalam hidup untuk berbuat demikian. Padahal nilai tidak muncul dari kehampaan dan ini menjadikan karateristik psikopat Tara begitu cacat.

Untungnya setelah seratus halaman kecacatan karakter Tara, perspektif berganti dan memberikan angin segar. Disini penulis bisa memberikan suara karakter yang jauh lebih baik dan solid daripada Tara. Karakter ini juga psikopat, sebagaimana sesuai dengan foreshadowing yang diberikan, tapi yang jauh membedakan dirinya dengan Tara adalah dia mempunyai serangkaian alasan yang membuat karakteristik psikopatnya menjadi tidak cacat. Petunjuk samar disebarkan sepanjang cerita yang memberikan landasan yang lebih solid atas karateristik tersebut. Itu yang menjadikan dia terasa lebih baik sebagai karakter yang ditulis dengan baik.

Dari segi penulisan tidak ada yang dapat dikatakan istimewa selain dari penulisan beberapa suara karakter yang terasa sangat baik. Prosa yang ada biasa saja bahkan di beberapa titik terasa repetisinya. Terdapat kesalahan lain seperti detil tidak penting berlebih yang untungnya tidak diulangi. Tapi ada satu masalah penulisan yang cukup menganggu, yakni kurangnya rasa pelacakan waktu. Beberapa bagian cerita terasa menjadi membingungkan karena kurangnya penanda waktu, atau kapan hal tersebut terjadi. Ini menjadi masalah karena cerita menggunakan sudut pandang orang pertama, dan disitu seharusnya ada perbedaan antara suara seorang psikopat yang sudah dewasa dengan yang masih kecil.


Katarsis salah satu dari sedikit psychological thriller yang ditulis oleh penulis Indonesia, tapi itu serta menjadikan saya langsung puas dengannya. Dia mencoba membawa ide baru, yang sayangnya ambisi tersebut malah menjatuhkan dirinya sendiri karena eksekusinya yang kurang. Untungnya premis biasa itu dibawakan dan dieksekusi dengan sangat baik sehingga memberikan harapan pada saya bahwa penulis akan membawakan novel yang lebih kedepannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar