Sabtu, 24 Agustus 2013

[Resensi] Taiko

Judul : Taiko
Pengarang : Yoshikawa Eiji
Penerjemah: Hendarto Setiadi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 1944 (asli), 2006
Genre : Historical-Fiction, History, Drama
Tebal :1142


Sinopsis

Kinoshita Hiyoshi, atau kelak yang akan dikenal dengan nama mashyurnya, Toyotomi Hideyoshi hanya seorang anak yatim miskin yang berasal dari keluarga samurai rendahan. Berbekal semangat dan tekad yang didapatkan dari kata-kata terakhir sang mendiang ayah, Hideyoshi menanjaki tampuk kekuasaan dengan penuh kecerdikan dan caranya yang tidak pernah terpikirkan oleh kaum samurai pada umumnya.

Ulasan

Ada perbedaan yang mencolok antara buku sejarah dengan fiksi-sejarah, walaupun mungkin tidak semua orang menyadarinya. Buku sejarah mengedepankan fakta gamblang, objektif dan akurat. Sedangkan fiksi-sejarah mendasarkan cerita yang ada di dalamnya pada fakta yang terdapat pada sejarah. Fiksi-sejarah dapat menampilkan peristiwa sejarah dengan bumbu dan sentuhan pribadi yang berbeda sehingga cenderung akan lebih dapat dinikmati dalam proses membacanya. Keakuratan bukan hal yang mutlak dalam fiksi-sejarah karena fungsi mereka adalah untuk memberi hiburan, bukan mencerahkan atau menjaga selayaknya buku sejarah biasa. Namun, bukan berarti senantiasa fiksi-sejarah serta-merta membuang fakta yang ada demi membentuk sebuah fiksi yang sesuai dengan visi si penulis. Fiksi-sejarah yang menjaga tradisi ini akan dapat bertahan sebagai klasik, sebagaimana yang bisa kita lihat dari buku War and Peace, Romance of the Three Kingdoms, dan The Hunchback of Notre Dame. Taiko yang ditulis oleh Yoshikawa Eiji meneruskan tradisi fiksi sejarah ini, walaupun bagi saya bukan tanpa cacat dalam proses menikmati tulisannya menampilkan sejarah.

Yoshikawa Eiji membawakan kisah Toyotomi Hideyoshi, seorang figur terkenal dalam sejarah Jepang yang memiliki banyak pesona karena dirinya yang berhasil menanjaki tampuk kekuasaan dari seorang anak petani, menjadi pemimpin bagi Jepang pada abad-16. Sosok Toyotomi Hideyoshi ini pada dasarnya sudah populer dalam budaya Jepang. Begitu banyak kisah akan kehidupan dirinya ditulis berulang kali sepanjang jaman berlangsung, baik cerita yang mendekati kisah nyata, maupun yang begitu fiktif. Pada kesempatannya, Yoshikawa Eiji memilih untuk menampilkan Toyotomi Hideyoshi dalam cara yang mendekati kisah nyata. Tidak ada peristiwa atau penggambaran populer yang saya ketahui mengambil tempatnya pada Taiko karya Yoshikawa Eiji. Dia menuliskannya dengan keakuratan selayaknya buku sejarah. Walaupun demikian, bukan berarti Taiko milik Yoshikawa Eiji menjadi sebuah buku fiksi kering yang hanya menceritakan peristiwa sejarah dengan dialog-dialog antar tokoh terkemuka.

Karakter dan interaksi antar mereka merupakan unsur utama yang membangun Taiko menjadi seperti ini, yaitu sebuah cerita fiksi-sejarah yang epik. Sepanjang hidupnya, tentu Hideyoshi berinteraksi dengan berbagai macam orang. Malah, interaksi Hideyoshi dan cara dia melakukannya adalah suatu hal yang membawakannya pada posisi tersebut. Setiap interaksi senatiasa selalu diramu terlebih dahulu sebelum mencapai puncaknya, dengan misalnya melakukan penyelaman atas pola pikir si karakter dan apa yang telah membuatnya dapat memiliki pola pikir tersebut. Ini menjadikan karakter dalam Taiko bertindak bukan tanpa alasan, karena Yoshikawa Eiji tidak pernah lupa menuliskan sebuah tujuan atau capaian yang seorang karakter hendak dapat pada akhir interaksi mereka. Setiap intrik terasa unik satu sama lain berkat penggambaran karakternya walaupun kekuatan pendorong dibalik terjadinya intrik tersebut sama dengan intrik yang ada di bab lain.

Dengan karakter yang begitu banyak, sudut pandang senantiasa silih berganti antara Hideyoshi ke-karakter lain yang biasanya akan menjadi pusat perhatian bagi Hideyoshi berikutnya. Ini tidak hanya menjadikan cerita tetap segar, namun juga memberikan pendalaman karakter yang lebih matang sehingga ketika plot mencapai klimaksnya, dampak emosional yang dialami oleh sang karakter akan jauh lebih terasa dan berdasar. Tapi, tidak begitu banyak karakter yang sebenarnya menarik mendapat perlakuan serupa sehingga walaupun mereka dengan penampilan yang seadanya sudah bisa membuat kita menggenggam buku, disana terasa ada sesuatu yang kurang.

Sayangnya, kekuatan yang menjadikan buku Taiko ini terangkat merangkap sebagai salah satu kelemahan yang turut menjatuhkan. Karakter terus datang silih berganti sepanjang peristiwa di hidup Hideyoshi. Banyak dari mereka yang hanya sekedar muncul beberapa halaman untuk membantu dia di satu pertempuran, ada juga yang senantiasa menjadi pusat konflik dalam salah satu bab. Masalah yang terjadi adalah ketika Yoshikawa Eiji sering melupakan nasib atau keterusan dari karakter tersebut selepas peran mereka dalam satu bab. Hal yang sama turut terjadi apabila mereka kembali mendapat peran dalam bab yang baru. Mereka sering muncul dan hilang tiba-tiba, meninggalkan nasib mereka dalam tanda tanya. Ini tidak menjadi masalah apabila karakter tersebut hanyalah karakter sampingan yang muncul dalam beberapa halaman saja, namun ini terasa tidak menyenangkan apabila karakter tersebut memiliki peran yang cukup penting dan ketika peran mereka berakhir, ditinggalkan begitu saja.

Sebagai sebuah novel pemimpin suatu negara, tentu Taiko tidak terlepas dari bagian pergerakan pasukan dan penggambaran perang. Dalam hal ini, Yoshikawa Eiji tidak memiliki kecemerlangan yang sama ketika dia mengolah interaksi antar karakter. Walaupun tidak buruk, penggambaran pergerakan pasukan yang dituliskan oleh Yoshikawa Eiji terasa terlalu singkat. Sehingga ketika perang terjadi dan berkecamuk, sulit membayangkan mengapa pasukan tertentu dapat memperoleh kekuatan atas pasukan musuhnya. Tidak hanya itu, tidak banyak dari perang yang digambarkan oleh Yoshikawa Eiji menampilkan tipu muslihat dan strategi yang menarik, sehingga setiap bagian peperangan dalam buku terasa sebagai rutinitas yang membosankan. Ini mungkin ada kaitannya dengan karakter Hideyoshi itu sendiri, namun seperti yang sudah dituliskan sebelumnya bahwa fokus dalam Taiko senantiasa berganti, jadi tidak ada alasan bagi Yoshikawa Eiji untuk melewatkan peperangan yang dipenuhi oleh strategi dan tipu muslihat, tidak hanya adu berani, kekuatan, dan tekad para kaum samurai saja.

Salah satu bagian paling tersulit disini adalah menemukan sesuatu yang positif dalam penulisan Taiko. Ketika menuliskan karakter, Yoshikawa Eiji memang bisa dengan mumpuni membawakannya secara menarik satu sama lain. Namun di luar itu, yang kebanyakan dari isi Taiko adalah deksripsi, prosa yang dituliskan terasa sangat hambar, kaku, dan tumpul. Hanya sedikit dari ratusan paragraf yang ada memiliki kalimat dengan susunan yang menarik, atau indah, apalagi keduanya. Deskripsi berusaha lurus menjelaskan sesuatu hal, namun terkadang terselip metafora atau susunan prosa yang menggunakan pengandaian. Ini menjadikan Taiko tidak cukup lurus dan sederhana untuk dimengerti, dan juga tidak cukup indah dan menawan untuk dinikmati.

Akan tetapi rasanya tidak adil apabila penilaian sekeras itu serta merta diberikan atas penulisan Yoshikawa Eiji itu sendiri. Dari penulisannya, secara samar dapat dirasakan bahwa Yoshikawa Eiji memiliki pengaruh kuat dari cerita-cerita klasik Jepang maupun Cina, utamanya Romance of the Three Kingdoms. Hal menjadikan Yoshikawa Eiji pasti menggunakan penulisan yang mengandalkan bentuk aksara dan gramatika lainnya yang hanya dapat dicapai melalui bahasa Jepang atau Bahasa Cina. Berbeda dengan penulisa satu generasi sebelum dia, Natsume souseki, yang mendapat pengaruh lebih kuat dari tulisan-tulisan Eropa sehingga dia lebih mengutamakan permainan kata serta substansi dalam suatu cerita. Ini menjadikan tulisan Natsume souseki tidak kehilangan banyak daya tariknya dibandingkan dengan Yoshikawa Eiji. Tanpa adanya susunan aksara tersebut, keindahan penulisan Yoshikawa Eiji yang seharusnya terdapat disana berubah menjadi kalimat tumpul yang tidak menarik.

Tapi permasalahan ini tidak hanya itu karena penerjemahannya pun bermasalah. Banyak kata-kata modern yang terselip sehingga muncul rasa canggung ketika membacanya. Namun kesalahan spesifik yang paling fatal adalah ketika muncul kata “plastik” dalam cerita epik perang abad 16 ini, sebuah kesalahan yang jelas tidak dapat dijatuhkan pada Yoshikawa Eiji. Selain itu Taiko diterjemahkan bukan dari bahasa aslinya, yakni bahasa Jepang melainkan diterjemahkan dari versi bahasa Inggris. Sebuah kesalahan yang menyebabkan penulisan dalam Taiko terasa begitu kaku karena bahasa Inggris dan bahasa Indonesia memiliki struktur kebahasaan yang berbeda. Banyak kalimat atau kata yang berasal dari bahasa Inggris cocok untuk sebuah cerita fiksi namun begitu terjemahkan menjadi kaku dan hambar. Sangat disayangkan ini terjadi karena sebenarnya melalui perbedaan struktur tersebut bisa jadi dalam bahasa Indonesia terdapat padanan kata yang lebih baik guna menerjemahkannya dari bahasa Jepang sehingga kehilangan penulisan yang terjadi dapat dibuat sekecil mungkin.

Sebuah novel fiksi-sejarah yang epik, diisi dengan intrik antar karakter yang menarik, Taiko mengalami kegagalan pada bagian yang seharusnya dapat dilakukan lebih baik. Kegagalan ini menjadi hambatan terbesar dalam menikmati cerita epik sejarah kehidupan Hideyoshi sehingga setiap halaman terasa tidak begitu layak dibaca secara cermat karena memang tidak adanya penulisan yang menawan. Kegagalan ini bukan dari Yoshikawa Eiji sendiri, melainkan dari pihak lain yang berada diluar kendali dirinya, sehingga akan sangat tidak adil apabila penilaian yang sangat keras diberikan pada Taiko. Walaupun begitu, Taiko tetap pantas meneruskan tradisi klasik bagi fiksi-sejarah dunia literatur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar