Minggu, 14 Juli 2013

[Resensi] Charlie and The Chocolate Factory

Judul : Charlie and The Chocolate Factory
Pengarang : Road Dahl
Penerbit : Puffin
Tahun : 1964 (asli), 2007
Genre : Children, Humor, Fantasy
Tebal : 154

Sinopsis
Charlie Bucket,  adalah anak tunggal dari keluarga Bucket yang sangat miskin. Tinggal bersama keempat kakek-nenek dan kedua orang tuanya, makanan manis merupakan suatu kemewahan bagi Charlie ketika harus memenuhi perut mereka saja harus dilakukan dengan susah payah. Tidak ada yang bisa Charlie membayangkan bahwa dirinya bisa bebas makan coklat seperti anak-anak lainnya, sampai Willy Wonka, pembuat coklat dan pemilik pabrik coklat terhebat di dunia memutuskan untuk mengundang 5 anak-anak yang beruntung dari seluruh dunia untuk datang mengunjungi pabriknya.


Ulasan

Saya sudah mengulas dua buku anak-anak sebelumnya sebagai persiapan  dan bahan pembanding untuk ulasan buku SRC 2013 bulan Juli yang bertemakan fiksi anak-anak. Cerita fiksi anak-anak pertama, Alice’s Adventure in Wonderland and Through Looking Glass, sebuah klasik dengan penceritaan yang luar biasa dan imajinasi yang liar. Sedangkan yang kedua, The Graveyard Book, merupakan karya yang lebih kontemporer, imajinatif dan memiliki ide yang menarik, namun jatuh pada penulisannya itu sendiri. Bagaimana dengan Charlie and The Chocolate Factory, sebuah cerita yang nampak masih cukup muda untuk dikatakan dengan klasik jika dibandingkan dengan fiksi yang pertama, namun juga terlalu tua untuk dibandingkan dengan fiksi yang kedua?

Charlie and The Chocolate Factory tepat seperti cerita anak-anak bagus lainnya. Road Dahl memiliki gaya penulisan dan penceritaan menawan yang mampu menghibur anak-anak dan orang dewasa. Dalam bukunya ini juga dia bisa mengolah suatu ide yang familiar dengan anak-anak, yakni coklat, menjadi suatu hal yang imajinatif dan menakjubkan. Tidak lupa bahwa ide tersebut besar kemungkinan akan masih menempel pada diri orang dewasa sehingga tema coklat dalam ceritanya senantiasa memberikan perasaan nostalgia pada mereka yang dulu pernah menjadi anak kecil dan menyukai coklat.

Satu hal yang membuat saya benar-benar terkesan pada Charlie and The Chocolate Factory karena melebihi ekspetasi saya adalah gaya penulisan dan penceritaannya. Road Dahl membawakan ceritanya dengan gaya narasi yang begitu semangat. Hal ini semakin bertambah ketika Willy Wonka, seorang karakter yang pada dasarnya sendiri sudah menarik, muncul dan menjadikan Charlie and The Chocolate Factory cerita yang benar-benar membalikkan halaman.

Dilihat prosanya sendiri, Road Dahl memang belum mampu menyamai kemampuan Lewis Carroll yang begitu menyihir lewat cerita Alice’s Adventure in Wonderland and Through Looking Glass. Walaupun, prosa yang dituliskan oleh Road Dahl tidak kering dan tidak juga membosankan. Prosa yang digunakan oleh dia dalam cerita sungguh sesuai dengan gaya penceritaannya yang penuh semangat seperti pendongeng. Ini menjadikan Charlie and The Chocolate Factory terasa lebih baik sebagai cerita anak-anak dibandingkan dengan The Graveyard Book. Tidak hanya itu, Road Dahl juga menggunakan banyak permainan kata dalam ceritanya. Permainan kata yang menurut saya sangat menghibur meskipun tidak sebegitu kompleks seperti yang digunakan oleh Lewis Carroll. Itu juga yang menjadi nilai tambah bagi saya karena Charlie and The Chocolate Factory menjadi lebih mudah untuk dinikmati dibandingkan dengan Alice’s Adventure in Wonderland.

Terlepas dari kelebihan Charlie and The Chocolate Factory sebagai sebuah fiksi anak-anak yang diceritakan luar biasa, fiksi ini memiliki kekurangan yang cukup fatal ketika dibandingkan dengan Alice’s Adventure in Wonderland and Through Looking Glass dan The Graveyard Book. Kedua cerita yang dijadikan pembanding ini memiliki idenya masing-masing. Alice’s Adventure in Wonderland and Through Looking Glass menceritakan sebuah ide untuk melihat seberapa liar petualangan anak-anak dalam imajinasinya. Sedangkan The Graveyard Book memiliki ide yang lebih gelap atas identitas diri dan pencarian akan hal tersebut. Charlie and The Chocolate Factory tentu saja memiliki ide dalam fiksinya sendiri, akan tetapi ide itu menjadi hal justru menjatuhkan fiksi ini sebagai sebuah fiksi anak-anak yang bagus dan berbeda.

Baik di Alice’s Adventure in Wonderland and Through Looking Glass maupun The Graveyard Book memunculkan suatu nilai moral atau pelajaran dari atau melalui ide yang mereka bawa. Alice dalam ceritanya memberikan suatu pelajaran, terutama tata krama melalui interaksi dengan penghuni aneh bin ajaib dunia Wonderland dan Looking Glass. Bod di The Graveyard Book mendapatkan pelajaran bagi dirinya sendiri, yang juga dapat direfleksikan oleh pembaca, melalui interaksinya dengan para penghuni kuburan dan dunia sekitarnya sepanjang cerita. Sedangkan Charlie and The Chocolate Factory menjadikan nilai moral sebagai basis dari ide yang dipresentasikan oleh fiksinya itu sendiri. Karakter-karakter yang ada dalam Charlie and The Chocolate Factory ada hanya untuk sekedar mempresentasikan arketipe dari karakter tertentu terutamanya anak-anak yang nakal. Hal ini menjadikan paruh awal pertama ketika Charlie melalui konflik diri terasa irelevan karena fokus dipindahkan pada hukuman yang diterima oleh anak-anak nakal tersebut. Tidak hanya itu, peran Charlie pada paruh kedua buku pun berkurang begitu drastis sehingga dia lebih menjadi sekedar seorang pengamat daripada karakter yang aktif bergerak. Karena ini Charlie akhirnya kembali terjebak pada stereotipe anak baik yang mendapatkan semuanya walaupun dia tidak melakukan apa-apa seperti pada cerita anak-anak kebanyakan. 

Bandingkan di Adventure in Wonderland and Through Looking Glass nilai moral yang ada terlihat lebih samar, begitu juga The Graveyard Book yang terasa lebih alami karena struktur cerita sehingga kedua fiksi ini tidak menggurui dan tidak menjebak karakter-karakter yang ada sebagai sebuah arketipe tertentu untuk menyampaikan nilai moral. Baik Alice maupun Bod merupakan karakter yang aktif dalam cerita sehingga apa yang mereka dapatkan benar-benar terasa layak untuk diterima, bukan sekedar pemberian dari penulis karena mereka karakter utama atau seorang anak  yang baik.


Suatu hal yang sangat disayangkan Charlie and The Chocolate Factory jatuh kepada jebakan yang sama seperti cerita anak-anak kebanyakan. Apa yang menyelamatkan fiksi ini dan membuatnya begitu dikenang adalah penulisan dan penceritaan Road Dahl yang penuh semangat dengan prosa dan permainan kata yang menghibur, serta karakter Willy Wonka sebagai satu-satunya karakter yang menarik dari cerita ini. Charlie and The Chocolate Factory memang akan menghibur ketika membacanya untuk pertama kali, baik ketika masih anak-anak atau telat ketika sudah dewasa. Namun setelah itu, Charlie and Chocolate Factory tidak memiliki nilai apa-apa yang menjadikannya layak untuk dibaca ulang, terutama oleh anak-anak ketika mereka tumbuh dewasa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar