Jumat, 07 Juni 2013

[Resensi] The Silence of The Lambs


Judul : The Silence of The Lambs (Domba-Domba Telah Membisu)
Pengarang : Thomas Harris
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah: Hendarto Setiadi
Tahun : 1988 (asli), 2012
Genre : Crime, Detective, Thriller
Tebal : 480 Halaman
ISBN13: 9789792290752


Sinopsis

Clarice Starling, seorang agen FBI dalam pelatihan melakukan penyelidikan atas pembunuhan berantai sadis yang dilakukan oleh “Buffallo Bill”, dengan menguliti para korbannya. Menemui jalan dalam penyelidikan, Starling dan atasannya memilih untuk meminta petunjuk dan bantuan dari Hannibal Lecter, pmebunuh berantai dan seorang psikiater yang brilian, namun sangat berbahaya.

Karena kesibukan UAS dan lainnya, saya tidak bisa membaca Jejak Langkah untuk saat ini mengingat isi bukunya yang mungkin membutuhkan konsentransi tinggi. Akhirnya yang bisa saya sempatkan waktu untuk membaca adalah buku ini, untuk SRC 2013 bulan Juni.

Ulasan

SRC 2013 bulan Juni memiliki tema untuk mengulas buku dengan genre crime, detective, ataupun thriller. Sesungguhnya kalau mengikuti ulasan saya sebelumnya, sudah ada dua buku dengan genre crime yang saya ulas.Pertama lebih memiliki penekanan atas crime dengan cakupan ide yang luas, dan yang kedua ditekankan pada drama dengan karakter yang menarik. Perlu diingat bahwa seperti buku sebelumnya, Silence of the Lambs mendapatkan adaptasi yang film yang menakjubkan, walaupun reputasi novelnya sendiri memang sudah cukup baik sebelum dia diadaptasi. Pengharapan saya cukup besar sebenarnya pada novel ini untuk bisa memberikan tidak hanya thriller, namun juga psychological thriller. Tapi sepertinya saya berharap terlalu banyak, dan mungkin memang Silence of the Lambs bekerja lebih baik dalam medium film.

Cerita detektif dalam Silence of The Lamb mengikuti jejak seorang pembunuh berantai, kurang lebih sama seperti sebagian dari The Girl With The Dragon Tattoo dan Tokyo Zodiac Murder. Namun Silence of The Lamb tidak seperti The Girl With The Dragon Tattoo yang memiliki cakupan ide dan repsentasi yang begitu luas hingga dia bisa menggambarkan masyarakat Swedia, atau memiliki trik yang cerdik seperti novel detektif Jepang. Seperti banyak cerita detektif lainnya, Silence of The Lambs mengandalkan prosedural dan detil dalam penyelidikan penangkapan pelaku.

Walaupun dia memiliki plot dan alur yang persis dengan cerita detektif Amerika, Silence of The Lambs memiliki perbedaan tersendiri. Perbedaan yang paling nampak dari Silence of the Lambs adalah kehadiran Hannibal Lecter yang masuk kedalam prosedural tersebut. Dengan karakter Hannibal, Thomas Harris tidak hanya menjadikan Silence of The Lambs memaparkan prosedural dan fakta dengan cara yang biasa, namun dapat memaparkannya dengan menarik. Bahkan karakter Hannibal tersebut dapat menjadikan pemaparan fakta menjadi bagian bacaan yang paling menarik karena dalam eksekusinya, Thomas Harris bisa memberikan pergulatan psikologis yang menarik. Hannibal Lecter adalah karakter yang menjadikan novel ini menjadi satu.

Namun, Thomas Harris sayangnya tidak mampu memberikan karakter yang menjadi padanan yang sesuai dengan Hannibal, dalam konteks kedalaman karakter. Karakter lain begitu terbayang-bayangi oleh sosok Hannibal sehingga dalam proses membacanya, apa yang kita tunggu bukan lah bagaimana plot yang bergerak maju, tapi apa yang akan dilakukan atau dilakukan oleh Hannibal Lecter selanjutnya. Karakter lain yang ada sebenarnya tidak dapat dikatakan buruk, namun mereka juga tidak bisa dikatakan istimewa. Padahal, para karakter tersebut memiliki potensi untuk dikeluarkan dan diperlihatkan kedalaman psikologis yang mereka miliki.

Thomas Harris sesungguhnya bukan tidak berusaha menunjukkan kedalaman psikologis karakter lainnya. dia sudah menyisipkan beberapa bagian didalam narasi yang menceritakan sedikit keseharian mereka dalam kehidupan. Namun disini sepertinya Thomas Harris mengalami kesulitan untuk mengeksekusinya dengan baik. Setiap kepingan narasi tersebut yang menceritakan bagian lain dari beberapa karakter terlihat terpisah dari narasi secara keseluruhan, termasuk juga beberapa bagian mengenai Hannibal Lecter. Hal ini semakin diperparah karena banyak dari bagian narasi tersebut terasa setengah matang. Thomas Harris seperti tepat berhenti sebelum klimaks pengungkapan dilaksanakan sehingga banyak bagian dari sisi karakter yang diungkap terasa lewat begitu saja tanpa memberikan dampak yang berarti bagi kedalaman karakter selama kita membaca cerita.

Problematika penulisan dalam Silence of The Lambs semakin terasa kentara karena banyak bagian narasi karakter tersebut berada di luar tempatnya atau muncul disaat yang tidak tepat. Hal ini menyebabkan narasi cerita secara keseluruhan terasa renggang dan tidak kokoh. Thomas Harris seperti terbagi-bagi perhatiannya dalam menarasikan cerita antara Hannibal, pengejaran Buffalo Bill, dan menceritakan sisi lain dari seorang karakter. Kebanyakan bagian dimana narasi begitu rekat dan menyatu dengan cerita adalah sekali lagi, ketika Hannibal Lecter terlibat didalam bagian tersebut. Hal ini semakin menunjukkan bahwa Thomas Harris terlalu mengandalkan Hannibal Lecter dalam narasi ceritanya. Dan memang bagian dimana karakter ini muncul adalah bagian-bagian terbaik dari Silence of The Lambs yang cukup membuat kita betah dan melupakan kekurangan yang kita sebelum kita membaca bagian Hannibal Lecter yang berikutnya.

Selain dari bagaimana Thomas Harris melakukan eksekusi dan presentasi karakter Hannibal Lecter dengan baik, hanya ada beberapa faktor lain dari Silence of The Lamb yang perlu dipuji. Dari penulisan, Thomas Harris tidak memiliki prosa yang buruk, walaupun tidak dapat dikatakan sebagai istimewa. Hal lain yang terlihat dari penulisannya adalah bagaimana dia cukup hemat didalam menuliskan narasinya. Tapi dari semua itu, yang benar-benar bisa dipuji adalah bagaimana Thomas Harris benar-benar memaksimalkan show not tell. Hanya sedikit paragraf eksposisi dan deskripsi langsung dalam narasi. Walaupun, sepertinya Thomas Harris terlalu larut dalam show not tell karena banyak hal yang ingin dia tunjukkan tidak sepenuhnya telah ada atau tidak ditunjukkan dengan baik.

Pada akhirnya Silence of The Lambs tidak bisa memenuhi ekspetasi saya dalam menemukan kedalaman psikologi karakter yang diharapkan. Hal ini semakin jatuh karena karakter pembunuh berantai yang ada masih memiliki banyak bagian dari karakternya yang tidak diperlihatkan dengan baik. Padahal, pembunuh berantai merupakan tipe individu atau karakter yang memiliki potensi paling besar untuk diolah permasalahan psikologis yang ada pada dalam diri mereka. Memang Silence of The Lambs tetap merupakan bacaan yang menyenangkan dan menarik karena pada akhirnya saya bisa menyelesaikannya dengan cepat. Jika bukan karena Hannibal Lecter itu sendiri, buku ini pasti sudah pasti akan mendapat penilaian yang lebih rendah dan memang, dia lah yang membuat Silence of The Lambs patut dibaca.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar