Rabu, 22 Mei 2013

[Resensi] The King of Elfland's Daughter

Judul : The King of Elfland’s Daughter
Pengarang : Lord Dunsany (Edward John Moreton Drax Plunkett)
Penerbit : Del Rey
Tahun : 1924 (asli), 1999 (Del Rey)
Genre : Fantasy, Classic
Tebal : 256


Sinopsis

The King of Elfland’s Daughter adalah kisah akan keajaiban dan keindahan akan hubungan seorang manusia dengan seorang putri peri, yang juga diisi oleh ironi dan kesedihan. Mengikuti tradisi fairytale Inggris, Lord Dunsany menuliskan sebuah kisah yang menjadi awal dari genre fantasi.

Ini Buku interlokal terakhir yang saya ulas, karena berikutnya akan saya lanjutkan lagi atas Tetralogi Pulau Buru, dengan Jejak Langkah.


Ulasan

Fantasi merupakan genre yang sering dipandang sebelah mata selama ini, hampir sebagaimana sains-fiksi diperlakukan. Namun Sains-fiksi beruntung karena mereka tidak henti-hentinya mendapat penulis yang menjadi “penebus” seperti Phillip K. Dick, Arthur C. Clarke, atau Frank Herbert. Berbeda dengan fantasi yang tidak mendapatkan penulis untuk menebus diri mereka. Genre fantasi selama perjalanannya tidak mendapatkan penulis yang layak untuk membuktikan diri mereka, karena apa yang muncul dari genre ini hanyalah hal yang sama secara terus menerus selama bertahun-tahun.

Maka sekarang kita mencoba melacak balik ke masa lalu ketika genre ini baru diciptakan, baru muncul dan mengembangkan diri melalui pengaruh cerita fairytale sebelumnya. Ketika kita membicarakan fantasi, dan penciptaannya, akan banyak orang yang akan menunjuk antara J.R.R. Tolkien atau C.S. Lewis sebagai pendiri, atau bahkan pencipta dari genre fantasi. Pernyataan ini muncul sebagaimana mereka memberikan pengaruh yang begitu besar pada fantasi sekarang ini, yang juga ironisnya menyebabkan fantasi terjebak pada kesamaan yang terus-menerus. Tapi apakah itu berarti mereka tidak memiliki pengaruh dari siapapun? Kita tahu bagaimana J.R.R. Tolkien terpengaruh puisi epik Eddas, dan C.S. Lewis menggunakan Injil sebagai sumber alegorinya dan kedua penulis tersebut berusaha mengikuti jejak lama dari fairytale Inggris. Tapi selain itu, adakah penulis lain, yang kontemporer pada masa mereka memberi pengaruh?

Lord Dunsany adalah salah satu dari penulis pionir yang mendirikan genre fantasi, yang menjadi pengaruh kedua penulis besar tersebut dalam menuliskan karya-karya mereka. Sepanjang hidupnya, Lord Dunsany merupakan seorang penulis yang produktif, menulis lebih dari 60 buku yang belum termasuk cerita pendek, essai, dan permainan drama. Dari kesemua itu, karya miliknya yang paling berpengaruh adalah The King of Elfland’s Daughter.

The King of Elfland’s Daughter merupakan sebuah kepingan karya fantasi yang memiliki nilai fantastis melebihi fantasi kontemporer. Dalam menuliskannya, Lord Dunsany mengikuti tradisi fairytale Inggris yang membuatnya begitu terasa ajaib. Dia menuliskan cerita yang sesungguhnya memiliki premis yang sudah dilakukan berulang-ulang oleh penulis yang dipengaruhi oleh dirinya, namun Lord Dunsany, sebagai penulis yang asli dari kisah tersebut, tetap memiliki kekuatan yang menakjubkan dalam tulisannya.

Dalam fantasi kita sering melihat bagaimana sihir digunakan dalam berbagai cara, sesuai dengan apa yang saya tuliskan sebelumnya dalam ulasan Jonathan Strange & Mr. Norrell. The King of Elfland’s Daughter, dalam soal sihir memiliki kekuatan yang begitu asli didalamnya. Sihir tidak bekerja sebagai kekuatan yang dapat dikuasai sepenuhnya oleh manusia melainkan bertindak sebagai kekuatan alam yang seperti bernafas sendiri, dan tidak terprediksi. Sihir dalam kisah Lord Dunsany menjadi hal yang menakjubkan, menjadi bagian dalam narasi yang bertindak tidak hanya sebagai alat plot namun juga bagian dari narasi itu sendiri sebagaimana sihirnya menjadi pembentuk cerita.

Ada yang perlu diingat, bahwa sihir Lord Dunsany memiliki nuansa magis yang begitu meyihir tidak hanya karena perannya dalam narasi, namun juga karena penulisan yang digunakan untuk menggambarkannya. Prosa dalam The King of Elfland’s Daughter tidak bisa dikatakan biasa. Dia benar-benar melakukan kombinasi ajaib sehingga sihir tersebut benar-benar hidup dalam setiap kata, pada setiap kalimat. Tapi tentu saja prosa indah Lord Dunsany ini berbeda dari penulisan Susanna Clarke yang sederhana, namun bagus dan tidak dangkal. Prosa milik dia terasa kompleks, dan akan menjadi sangat sulit dibaca bagi mereka yang tidak terbiasa dengan bacaan bahasa Inggris, utamanya sastra Inggris lama. Tidak hanya itu, walaupun penggambaran Lord Dunsany disini memang menyihir, terjadi beberapa repetisi atau pengulangan dalam penulisannya.

Soal plot dan cerita, The King of Elfland’s sebenarnya memiliki premis yang begitu sederhana, dan lurus. Namun perlu diingat bahwa kesederhanaan dan lurus bukan hal yang secara inheren buruk, karena dengan menerapkan prinsip tersebut, The King of Elfland’s Daughter tidak perlu memiliki tebal 1000 halaman untuk menjadi fantasi. Mungkin kesederhanaan cerita dari Lord Dunsany bisa menjadi salah kelemahan ditunjuk, namun perlu diingat, bahwa dalam membungkusnya Lord Dunsany melakukan dengan sangat indah melalui prosa-prosanya. Maka tidak lah bagi mereka yang berharap The King of Elfland’s Daughter akan memberikan cerita dengan intrik dan plot yang menarik, karena cerita Lord Dunsany ini mengikuti tradisi fairytale yang sederhana namun menawan dalam pembawaannya.

The King of Elfland’s Daughter merupakan bacaan yang menarik dan begitu menantang, dan pada akhirnya terasa begitu indah di akhir. Namun karena pembawaan dan prosanya, The King of Elfland’s Daughter akan menjadi bacaan yang sulit bagi mereka yang tidak siap. Bahkan diri saya sendiri mengalami kesulitan dalam menulis ulasan ini dibalik ceritanya yang begitu menawan. Untuk mereka yang membacanya dan mengerti bagaimana Lord Dunsany bisa benar-benar mewujudkan sihir melalui tinta dan penanya, kita dapat setuju bahwa The King of Elfland’s Daughter merupakan klasik yang hilang, dan sebuah sastra yang dihasilkan dari genre fantasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar