Kamis, 16 Mei 2013

[Resensi] The Godfather


Judul : The Godfather (Sang Godfather)
Pengarang : Mario Puzo
Penerbit : Gramedia Pustaka
Tahun : 1969 (asli), 2007 (terjemahan)
Genre : Crime, Drama
Tebal : 680

Sinopsis

Don Vito Corleone adalah Godfather, orang paling berkuasa di dunia bawah tanah New York, atau bahkan Amerika Serikat. Dirinya adalah pria logis, ramah, dan adil, tidak membedakan antara si kaya dan si miskin, atau kawan dan lawan. Dia akan memberikan penawaran yang seimbang sesuai dengan perhitungannya. Seusai Perang Dunia II berakhir, Don mengadakan pesta pernikahan bagi putrinya, yang akan menjadi awal dari perebutan kekuasaan penuh darah yang sekaligus menjadi awal bagi naiknya Don baru, Michael Corleone.

Ulasan

The Godfather merupakan cerita yang sangat terkenal, semua berkat filmnya. Termasuk saya pribadi mengenal cerita ini lewat filmnya terlebih dahulu daripada buku, walaupun buku adalah format asli dari Godfather. Tentu menjadi hal sulit dan tantangan tersendiri untuk menilai buku ini apa adanya tanpa mempertimbangkan film The Godfather yang sudah melegenda tersebut. Setelah membaca The Godfather dalam format aslinya, bisa dikatakan memang sumber material film tersebut sudah berkualitas.

Mario Puzo menulis The Godfather dengan tujuan komersil, karena dua buku sebelumnya yang dia tulis walaupun menerima resepsi hangat dari dunia tulis-menulis tidak cukup laku untuk menjadikannya penulis yang kaya. Walaupun dia berangkat dengan niat seperti itu, karya yang dihasilkannya, The Godfather bukan karya sembarang tulis hanya dengan tujuan populer dan laku semata. Buku ini ditulisnya dengan sangat rapi, tersusun dengan baik, dan merupakan bukti hasil kerja dari penelitian yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, memberika alasan bagi penulis manapun untuk tidak melakukan setengah hati dalam menggarap karya, apapun yang menjadi alasan mereka untuk menulis.

Karakter dalam The Godfather adalah apa yang menjadikan cerita ini menjadi menarik dan mendapatkan reputasinya. Puzo dengan baik bisa menggambarkan kedalaman psikologis setiap karakternya yang ada. Mereka bertindak selayaknya manusia, tidak terprediksi walaupun dalam narasi beberapa kali disebutkan secara eksplisit akan sikap mereka. Tapi perubahan itu tidak serta dilakukannya tanpa alasan dan untuk twist semata. Puzo mampu mempersiapkan semuanya sehingga perubahan yang terjadi itu bisa ditebak bagi mereka yang cermat membaca. Dia bisa menjadikan karakter yang paling kriminal sekalipun tampak simpatik, dengan kebusukan yang nyata dibaliknya tanpa ditutup-tutupi.

Melalui eksplorasi karakternya, Puzo tidak hanya menggambarkan sisi psikologis mereka, namun juga budaya yang mengelilingi dan membentuk mereka menjadi karakter masing-masing. Puzo menggambarkan dengan intrik budaya tersebut dan cara-cara mereka membentuk dan menjadi bagian dari karakter yang sudah memiliki kedalaman sehingga karakter Puzo menjadi semakin kaya karena budaya tersebut tidak hanya sekedar menjadi info latar belaka. Dia menggambarkan budaya mereka dengan gaya Amerika Serikat, namun sesuai dengan masanya, tanpa ada prasangka apapun.

Dari mata karakter di The Godfather, kita akan melihat dunia organisasi kriminal. Puzo menggambarkan dengan cermat hasil penelitiannya dengan baik kedalam cerita, kedalam karakternya tersebut. Cerita kriminal yang dibawakan oleh Puzo sangat berbeda dengan cerita kriminal pembunuhan biasa, dan mungkin bisa disandingkan dengan The Girl With The Dragon Tattoo apabila kita ingin melihat ide yang dibawakannya secara luas. The Godfather mungkin tidak memiliki cakupan yang seluas dengan apa yang ditulis oleh Stieg Larsson, namun dari bobot dia setara, dan dari fokus dia jauh lebih unggul. Dan lain lagi dengan Stieg Larsson, Mario Puzo melakukannya secara implisist dan tanpa sadar, sehingga ide akan dunia kriminal miliknya akan terlihat lebih samar namun lebih kuat bagi mereka yang memang mencarinya.

Sebagaimana buku baik lainnya, The Godfather tidak terlepas dari kekurangan. Sebagai penulis Amerika Serikat, Mario Puzo memiliki kemiripan dari paradigma menulis dengan penulis yang seangkatan, yang saya baca karyanya sebelum ini yaitu Erich Segal, dari Doctors. Mereka bisa menggambarkan bagian dari kehidupan Amerika Serikat dengan cukup dalam dan sama luasnya. Apa yang sangat membedakan diantara keduanya adalah Mario Puzo memiliki psikologi karakter yang lebih dalam, dimana dia memperlihatkan bukti pengaruh Fyodor Dostoyevsky atas dirinya. Akan tetapi Erich Segal, dengan halaman yang lebih banyak, dia bisa merajut ceria dengan narasi yang lebih rekat, sedangkan Mario Puzo seperti larut, atau lbih tepatnya terlarutkan oleh karakternya sendiri sehingga narasi yang dia berikan menjadi terseret dan molor, menambah jumlah halaman yang tidak perlu.

Apa yang dimiliki The Godfather secara keseluruhan tetaplah karya yang solid. Dia menjadi bukti atas kesungguhan dan kerja keras yang bisa dicapai oleh mereka yang serius melakukan penelitian bagi tulisannya. Mario Puzo juga memberikan drama kriminal yang baik, dengan karakter-karakter yang memiliki kedalaman psikologi dibandingkan dengan karya sejenis dimasanya yang hampir non-eksisten, dan terlalu plot-driven. Sungguh beruntung bagi dunia perfilman untuk bisa mengadaptasi The Godfather, dan memiliki mahakarya klasik mereka sendiri.

Tambahan
Membicarakan The Godfather (buku) rasanya tidak akan lepas dari adaptasi filmnya yang legendaris. Memang The Godfather masih merupakan buku yang sangat menghibur dan dapat dinikmati namun tidak dangkal. Akan tetapi buku The Godfather memiliki banyak bagian narasi yang terasa terlalu lepas dan membuatnya terasa memberatkan cerita. Di film, bagian tersebut tidak ditemukan, dilepas begitu saja dan dijadikan informasi latar sehingga narasi yang dibawakan menjadi lebih rekat. Tidak hanya itu, akting Marlon Brando dan Al Pacino begitu menghidupkan karakter masing-masing. Buku The Godfather mungkin tidak bisa menjadi klasik, namun filmnya jelas merupakan gambaran bagaimana seharusnya adaptasi novel dilakukan.

2 komentar:

  1. "Akan tetapi Erich Segal, dengan halaman yang lebih banyak, dia bisa merajut ceria dengan narasi yang lebih rekat, sedangkan Mario Puzo seperti larut, atau lbih tepatnya terlarutkan oleh karakternya sendiri sehingga narasi yang dia berikan menjadi terseret dan molor, menambah jumlah halaman yang tidak perlu."

    I see .. hmm, jadi penasaran sama buku Doctors ini. Klo bisa menyamai Godfather (atau bahkan melebihinya dalam beberapa aspek), kekny layak baca buku it.

    Godfather sendiri ak baca yang terjemahan (pinjam dari teman). Filemnya belum dapet sampe sekarang. Tiap ke toko DVD malah belinya kaset lain :v :v :v

    BalasHapus
  2. Sebenarnya sih, cuma bagian itunya aja, tapi selebihnya faktor nostalgia. The Godfather punya kedalaman psikologi yang jauh lebih bagus cuma masalahnya cuma kadang ada narasi yang molor dari cerita utamanya.

    BalasHapus