Selasa, 09 April 2013

[Resensi] Negeri Di Ujung Tanduk

Jelas-jelas oleh dantd95

Judul : Negeri Di Ujung Tanduk
Pengarang : Tere Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2013
Genre : Thriller
Tebal : 359 hlm.

Sebelum memulai review ini (dan sebelum saya menjelaskan kenapa, oh kenapa, saya membaca sebuah sekuel tanpa baca prekuelnya terlebih dahulu) hati saya tergelitik sekali oleh ucapan sang pengarang berikut ini :

"Jangan mau jadi kritikus buku, tapi tidak pernah menulis buku."

Saya baru saja mengetahui fakta yang amat menarik dari kalimat ini : rupanya almarhum Roger Ebert seorang sutradara terkenal, dan Steven Spielberg cuma salah satu dari banyak pseudonim yang ia pakai. Hm, sungguh kalimat yang informatif. Oke, mari kita berhenti bersarkasme ria dan menyikapi pernyataan ini secara serius. Kenyataannya, membuat sesuatu dan menganalisis sesuatu adalah dua keahlian yang berbeda. Ada alasan yang jelas tentang kenapa pemain-pemain sepakbola terbaik dunia, Maradona dan Pele, tidak sukses menjadi pelatih (Pele bahkan tidak menjadi pelatih; dia lebih banyak berkutat membuat prediksi2 yang selalu salah) sedangkan Arrigo Sacchi dan Jose Mourinho tidak pernah jadi pemain profesional tapi keduanya merevolusi sepakbola.

Sacchi sendiri tentu banyak diremehkan saat pertama kali memimpin AC Milan karena tidak pernah menjadi pemain. Jawabannya?




"Untuk menjadi joki seseorang tidak perlu menjadi kuda terlebih dahulu."

Tepatnya : untuk menjadi joki seseorang harus tahu seperti apa kuda luar dalam, bukan menjadi kuda. Untuk mengkritik sesuatu seseorang harus tahu apa yang ia kritik, bukan menjadi sesuatu tersebut. Nah, begitu pula dalam seni dan sastra. Tidak perlu jadi Van Gogh untuk bisa mengapresiasi seni lukis, tidak perlu jadi Mozart untuk bisa mengapresiasi musik, dan jelas tidak perlu jadi Pramoedya untuk bisa mengapresiasi sastra. Apresiasi dan kritik tidak bisa dijadikan kata yang positif atau negatif; orang yang mengkritik dan mengapresiasi dengan baik adalah orang yang menikmati sastra, begitu pun sebaliknya. Maka kesimpulannya adalah, untuk menjadi hakim tipikor seseorang tidak perlu menjadi koruptor terlebih dahulu!

Sekarang kita maju ke topik yang seharusnya dibicarakan di sini sejak tadi. Alasan kenapa saya berani baca buku ini tanpa membaca prekuelnya terlebih dahulu adalah karena :

1. Buku ini tidak terlalu terikat dengan prekuelnya, Negeri Para Bedebah. Semua ikatan yang ada dijelaskan dengan cukup baik. Sepertinya ini lebih seperti serial dibanding -logi.
2. Saya sudah terkena badai spoiler dari prekuelnya, jadi sedikit banyak mengerti kejadian-kejadiannya.

Saya mengharapkan buku yang sangat bagus, melihat reputasi sang pengarang, judul dan sampul depan yang cukup provokatif, serta prekuelnya yang kabarnya mencomot isu kekinian. Sungguh saya benar-benar berharap buku ini menjadi buku yang revolusioner, atau kalaupun tidak sehebat itu setidak-tidaknya bacaan menarik untuk menghabiskan waktu senggang.

Harapan itu hanya tinggal harapan.

Memang membuat sebuah fiksi thriller dengan memasukkan bumbu isu terkini suatu negara merupakan formula yang bisa menarik rasa ingin tahu dalam diri orang-orang, terutama orang awam yang biasanya tidak banyak membaca fiksi. Apalagi kalau ditambah kontroversi dan sedikit label "inspiratif" atau "motivasional". Itu kan alasan kenapa fiksi Dan Brown, betapapun semua teorinya cuma hoax sampah, bisa meraih sukses besar? Itu juga kan alasan kenapa fiksi Tom Clancy bisa laku keras di Amerika meskipun sebagian (hanya sebagian; memang ada yang tidak buruk) dari yang ia tuliskan adalah "Amerika baik. Bukan pendukung Amerika = tidak baik"?

Sungguh saya bisa mengerti kenapa prekuelnya bisa masuk 10 besar nominasi Khatulistiwa Literary Award, karena kabarnya unsur ekonomi dan skema-skema yang dikeluarkan protagonisnya bisa akurat sekaligus menghibur di saat yang bersamaan. Antara fiksi dan isu kekiniannya juga kabarnya dijahit dengan baik. Jelas ekspektasi saya naik sampai ke atap pada sekuelnya.

Tapi saya dibuat tidak mengerti kenapa Negeri Di Ujung Tanduk bisa seperti ini. Konsepnya memang punya potensi menjadi sesuatu yang revolusioner, walaupun kering tanpa orisinalitas di luar kaitannya dengan isu kekinian yang berusaha dibawakan. Sayangnya bukannya mendapat cerita yang benar-benar "membuka mata", yang disuguhi di sini malah ceramah-ceramah tentang politik -dan bukan ceramah yang baik. Ini cuma menjelaskan hal-hal umum tentang politik pragmatis, hal-hal yang bisa didapatkan dengan membaca buku seperti Il Principe atau Muqaddimah ditambah sedikit pengamatan. Kalau begitu kenapa karakter-karakter yang diceramahi, karakter-karakter dari beragam bangsa, dari Eropa ke Amerika Latin ke Afrika, bisa tercengang-cengang mendengar pelajaran pemula seperti ini?

Dan kenapa ceramah, bukan demonstrasi yang bisa mencontohkan politik pragmatis seperti apa? Tidak, tidak, memang ada demonstrasi, tapi rasanya sangat mudah. Terlalu mudah. Saya sampai mengantuk karena setiap tantangan yang dihadapi si protagonis bisa diselesaikan cepat, rapi, dan gampang. Bahkan sebagian solusi untuk tantangan-tantangan ini mengarah kepada deus ex machina. Ibaratnya meriam, pihak protagonis sejak awal punya terlalu banyak peluru. Bukan berarti 'protagonis-hebat-sejak-awal' itu salah dan tidak bisa digunakan dalam fiksi, bukan. Masalahnya adalah, apa yang ingin pengarang sampaikan, yakni bahwa protagonis terjepit terus-menerus dan bahwa musuhnya jauh lebih hebat darinya, bertolak belakang dengan kenyataan di cerita.

Banyak orang yang suka suatu karya fiksi karena karya itu "setuju dengan pendapat mereka". Ini bukan pendekatan yang baik, karena bisa membuat bias ideologi. Meskipun saya tidak bisa dibilang tidak setuju dengan pandangan pengarang tentang kaum LGBT, tapi tetap saja saya tidak menganggap bagian cerita ini yang menyinggung LGBT bagus. Aneh sekali jika, dalam konferensi berisi orang-orang beragam bangsa dengan pandangan berbeda-beda, ketika protagonisnya membuat lelucon tentang homoseksualitas dan menyindir kebijakan sebuah negara tentang kaum LGBT, semua orang di ruangan tertawa. Saran bagi setiap penulis yang membaca ini, jangan sampai karakter-karakter dalam cerita, sekecil apapun mereka, dibelokkan sifatnya demi membenarkan ideologi pengarang. Jangan sampai.

Unsur kekiniannya sendiri? Rupanya tidak ada fakta baru juga di dalamnya. Tandus. Isinya lagi-lagi hal standar yang bisa didapatkan bahkan dengan menonton berita penuh bias di stasiun TV swasta. Bukan inside look atau perspektif berbeda. Rasanya seperti ditempel. Tapi ini tidak terlalu terasa dipaksakan dibanding bagian-bagian "inspiratif" atau "motivasional"nya. Sudah tidak berhubungan dengan ceritanya, terasa seperti ceramah pula. Terlalu didaktik. Menggurui.

Para pelaku cerita ini tidak begitu parah, tidak begitu klise. Ada satu yang menarik perhatian saya dengan dialog-dialog cerdik dan sifat agak sarkastis. Ada lagi yang bersifat santai tapi punya gaya bicara khas. "Bintang tamu" seperti Najwa Shihab dan (mungkin) Tina Talisa juga sebuah kejutan. Sisanya? Tidak terlalu menarik. Keunggulan si protagonis, yakni kejeniusannya, tidak membuat cerita ini lebih menarik. Itu sudah saya jabarkan di atas. Antagonis utamanya sangat terasa seperti penjahat dalam cerita-cerita Disney (atau lebih tepatnya James Bond), dari motivasinya hingga pidatonya.

Begitu pula dengan gaya penulisannya, yang sebenarnya tidak buruk, tapi sering berbelok pada penggambaran latar atau topik tidak penting. Diksinya cukup-cukup saja, tidak begitu spesial tapi mudah dicerna. Ada memang bagian yang lagi-lagi aneh, seperti kenapa baik karakter dari Indonesia seperti Thomas dan Theo hingga karakter orang Makau seperti Lee terkena gejala virus k3jU strain k4w4n. Baru gejala. Sudah cukup untuk mengganggu tapinya.

Keseluruhannya, buku ini tidak bisa memuaskan saya. Dan perlu dicatat, saya membacanya sebelum melihat kalimat sang pengarang di paling atas. Argumen saya mengenai kalimat itu tidak ada hubungannya sama sekali dan tidak memberi bias terhadap penilaian saya pada buku ini.

Total : 1/5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar