Rabu, 17 April 2013

[Resensi] Bumi Manusia


Judul : Bumi Manusia
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Tahun : 1980 (asli), 2005
Genre : Roman, Historical-Fiction
Tebal : 535

Sinopsis
Minke, seorang jawa berdarah priyayi membebaskan dirinya dari kepompong, atau kukungan kejawaan-nya dengan pendidikan Eropa yang didapat. Pertemuannya dengan Nyai Ontorosoh, dan cintanya, Annilies Mellema, merubah pandangannya sendiri pada Eropa yang berada dalam dirinya, dan juga atas kehidupan secara menyeluruh.

Ulasan
Sebagai seseorang yang dekat dengan buku sedari kecil karena kesukaan ayah saya dengan buku, maka nama Pramoedya Ananta Toer tidak begitu asing di telinga saya, walau pada saat itu saya hanya mengenalnya sekedar sebagai sastrawan saja. Ketetarikan saya pada buku yang beliau tulis baru muncul beberapa waktu belakangan setelah mendengar reputasinya melalui karyanya, Tetralogi Pulau Buru. Melalui buku pertamanya, Bumi Manusia, saya cukup tidak mengerti mengapa ini belum dijadikan klasik.



Saya melihat sebentar kepada karya-karya klasik yang telah ada berabad-abad sebelumnya dari berbagai sastra di dunia. Dari karya-karya monumental tersebut, saya bisa melihat satu garis merah yang menjadi kesamaan diantaranya, bahkan ketika mereka, antar sastra negara dan bangsa memiliki ciri khas yang sangat berbeda satu sama lain. Saya coba menengok War and Peace yang ditulis Leo Tolstoy dan Pride and Prejudice oleh Jane Austen, yang dimana keduanya menjadi karya klasik bagi sastra negara mereka masing-masing. Kedua karya itu bisa mendapat tempatnya sebagai sebuah karya yang dikenang karena topik dan ide yang mereka angkat. Baik War and Peace maupun Pride and Prejudice, keduanya mengangkat kisah-kisah, roman kehidupan dari orang-orang di masanya yang kelak, ketika dimasa saya membacanya ini, telah menjadi semacam “pendiri” bagi bangsanya.

Kisah lama yang menceritakan para “pendiri” tidak sekedar memberi kritisi, atau menggambarkan kesulitan dalam yang mereka temui dari dunia atau masyarakat mereka pada saat cerita mereka dituliskan diatas kertas. Ada alasan kuat lain mengapa kisah mereka ini menjadi klasik dan terus dibaca hingga berabad-abad setelahnya. Karya ini terus dikenang karena mereka memberi ruang refleksi terhadap diri kita sendiri, terhadap masyarakat dimana kita hidup, melihat nilai-nilai apa yang telah membentuk kita dengan setiap penjabarannya. Nilai atau refleksi tersebut tidak diberikan secara gamblang, atau dituliskan mentah-mentah oleh penulis didalam buku mereka, tapi melalui proses membaca karya tersebut secara menyeluruh.

Disini, menurut saya Bumi Manusia memiliki sandingan dengan karya-karya klasik lain di dunia, dan pantas menjadi klasik bagi sastra Indonesia. Didalamnya, kita diberikan penggambaran atas masyarakat Indonesia di era kolonial Belanda penuh dengan intrisik, dan kritik-kritik sosial atas nilai yang berlaku. Semua ide dan kritik yang ada dipaparkannya oleh Pramoedya tanpa ada rasa menggurui, seolah dia tahu apa yang harus ditentukan oleh pembaca, memberi ruang bagi kita untuk melakukan refleksi diri atau memperhitungkan nilai-nilai yang ada sesuai dengan apa yang kita miliki dan pada saat kita membacanya.

Mungkin pembaca modern dari Indonesia akan mengatakan bahwa Bumi Manusia begitu inspiratif. Dia memberi banyak nilai-nilai dalam setiap paragrafnya dan itu juga membuatnya memiliki jumlah yang tidak terkira dalam kalimat atau paragraf yang dapat dikutip, atau menjadi quote. Namun saya pribadi memiliki ketidaksukaan untuk menyebutnya sekedar sebagai “inspiratif”, menyamakannya dengan kebanyakan karya-karya kontemporer yang berlabel demikian. Apa yang bisa disebut sebagai inspiratif disini bukan sekedar tempelan paksa seperti yang sering saya temui di karya modern. Kata-kata bijak, atau nasihat yang ada bukan artifisial karena dia muncul dari interaksi antar karakter, sebagaimana mana mereka menyelesaikan dan bergulat dengan permasalahan psikologis atau sosial yang sedang mereka hadapi. Ide dan nilai yang dipaparkan berasal dari karakter dan memiliki kesesuaian dengan konteks dan konflik yang sedang mereka alami pada saatnya. Penyampaian itu dilakukan secara beragam apik, beberapa diberikan dengan cara ironis yang sesungguhnya sangat mengena. Bumi Manusia menunjukkan, bukan memberi, bukan menggurui, dan inspiratif tidak cukup untuk menggambarkannya karena Bumi Manusia lebih daripada itu. Tidak bisa dinilai cerita ini melalui kata-kata atau paragraf sekutip, karena dalam Bumi Manusia kesemuanya itu merupakan satu rangkaian ide yang harus diilihat keseluruhan.

Sebagaimana sebuah roman, Bumi Manusia melandaskan ceritanya pada interaksi antar karakter, di cerita ini, dengan Minke sebagai pusatnya. Pramoedya mengantarkan interaksi yang dipenuhi dengan kepelikan, dan intrik psikologis. Setiap karakter ditunjukkan memiliki kekuatan masing-masing yang justru lahir daripada kekurangan yang mereka miliki. Karakter dalam Bumi Manusia bisa dihitung dengan jari, namun banyak yang memiliki latar belakang yang cukup dalam untuk membuat kesemuanya memiliki perbedaan satu sama lain. Bahkan ketika cerita hanya terbatas pada sudut pandang Minke, karakter-karakter tersebut dapat terkupas setiap sisi diri mereka hampir secara keseluruhannya.

Pramoedya juga benar-benar sangat memanfaatkan karakter dalam cerita, tidak hanya sekedar menjadikannya tempat konflik itu berlangsung melalui interaksi antar tokoh. Suasana dan setting cerita yang berlangsung dalam Bumi Manusia terasa sangat kental terjadi di era kolonial, padahal pemaparan, atau paragraf yang mendeskripsikan suasana itu sangat minim dilakukan oleh Minke. Kesemua rasa dan atmosfir saya peroleh melalui interaksi Minke dengan karakter-karakter yang ditemui, dengan penggambaran kondisi sosial yang begitu nyata terasa didalam interaksi tersebut. Tidak perlu dengan paragraf deskripsi atau detil yang panjang, cukup dengan perilaku dan penggambaran kondisi sosial didalam interaksi mereka, dan sebuah setting yang sangat kuat dapat terbangun.

Kedua hal tersebut, karakter, setting, interaksi dan seluruhnya bisa membawakan cerita ke-Indonesiaan yang benar-benar otentik, tidak dangkal. Indonesia tidak hanya sekedar menjadi latar belakang dimana konflik atau cerita berlangsung, namun berperan menjadi landasan atau alasan dibalik tindakan mereka, membuat cerita Bumi Manusia sangat kecil kemungkinannya untuk direksontruksi ulang di setting yang berbeda.

Dalam penulisan, Pramoedya juga memberikan gaya yang menurut saya begitu khas. Prosa dan diksi memiliki padanan kata yang kesesuaian dengan orang-orang pada masanya, sehingga menambah rasa Indonesia didalam tulisannya. Pramoedya juga tidak terlalu sering menggunakan kata berimbuhan, sehingga membebaskan makna dari kata tersebut, dan membuka ruang bagi kata lain untuk masuk dan memperkaya prosa yang dituliskannya. Gaya penulisan lama yang dilakukan Pramoedya akan menyulitkan, mungkin bagi yang pertama kali membacanya.

Konflik yang terjadi didalam Bumi Manusia datang silih berganti, nyaris seperti tiada hentinya bagi Minke untuk bisa beristirahat. Kadang rentetan konflik yang dialami sedemikian banyaknya sehingga saya merasa walaupun dia (dan saya) mendapatkan begitu banyak ide atau pemikiran baru, tidak terasa ada cukup waktu luang untuk merefleksikan itu semua. Tapi Minke, walaupun begitu tetap dapat digambarkan mampu merefleksikan apa yang diterimanya dengan sangat baik, melalui interaksi-interaksi, termanifestasi dalam perubahan pribadi dalam diri Minke kedepannya.

Satu ide spesifik yang ingin saya jabarkan penggambaran wanita didalam Bumi Manusia yang dilakukan dengan begitu baik oleh Pramoedya. Kita tahu bahwa wanita, apalagi pribumi, diperlakukan seadanya pada masa era kolonial. Namun salah satu tokoh terkuat yang ada didalam Bumi Manusia ini adalah pribumi. Dia bisa menunjukkan karakteristik dirinya sebagai perempuan yang independen dari kuasa kaum laki-laki, dengan cacat dalam karakternya sehingga karakternya benar-benar kuat, nyata, bukan agensi dari feminisme belaka.

Bumi Manusia merupakan bagian seperempat pertama dari Tetralogi Buru, kisah perjalanan Minke dalam menggapai kemerdekaan bangsanya. Walaupun tentu akan lebih baik dinilai secara keseluruhan, Bumi Manusia bisa memberikan awal yang bagus, gambaran yang sempurna atas bagaimana karya klasik yang harus dimiliki oleh sastra indonesia, terlepas dari kontroversi yang menyelimuti pribadi Pramoedya. Sungguh tidak ada rasanya kalau karya yang dapat disandingkan dengan karya sastra klasik dari negara lain harus diacuhkan semata-mata karena kecacatan yang dimiliki oleh empu si pengarang. Akhir kata, Bumi Manusia adalah kisah tentang Indonesia menunjukkan jati dirinya bukan melalui pengagungan tanpa makna, namun melalui perjuangan dan refleksi atas kesalahan dalam diri Indonesia itu sendiri, dan buku ini, Bumi Manusia baru langkah pertama dari kisah tersebut.

2 komentar:

  1. Yup, Pramoedya telah mengalami banyak ketidakadilan dari rekan2nya sesama sastrawan Indonesia. Tapi hebatnya ia memilih untuk tetap diam dan tetap berpijak pada kata2 yang ia tulis sendiri :

    "seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan."

    Ia lebih memilih diam dan tidak melakukan tindakan represif ketika separuh masyarakat sastra Indonesia menghujatnya bahkan sampai memprotes pada panitia penyelenggara yang memberinya penghargaan internasional.

    Beda jauh ya sama sastrawan zaman sekarang yang main seret perkara ke ranah hukum :P ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, saya memang baca sih dia dapat banyak pertentangan atas penghargaan yang dia terima karena sejarah dia sebagai Lekra. Saya tidak tahu sebenarnya sampai Pram bertindak pada masa itu pada sastrawan lain, tapi terlepas dari figurnya, Tetralogi Buru tetap merupakan karya yang monumental.

      Ya, bayangkan aja kalau karya PKD gak dianggap hanya karena dia seorang pecandu narkoba atau Franz Kafka yang doya ke rumah bordil. Padahal, karya mereka terlepas dari kecacatan mereka sebagai manusia.

      Hapus