Minggu, 28 April 2013

[Resensi] Anak Semua Bangsa

Judul : Anak Semua Bangsa
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Tahun : 1980 (asli), 2005
Genre : Roman, Historical-Fiction
Tebal : 536


Sinopsis

Minke sebagai seorang pribumi yang terdidik oleh pendidikan Eropa selalu berpikir apa yang berasal dari Eropa adalah yang terbaik. Namun, semenjak istrinya diambil oleh pengadilan kolonial, perlahan cara pandangnya berubah. Setelah di dorong oleh temannya Kommer dan Jean Marais, dan pertemuannya dengan pemuda Cina progesif Khouw Ah Shou dan jurnalis liberal Ter Haar, Minke mulai belajar mengenal bangsanya sendiri, menjadi anak semua bangsa.

Ulasan

Setelah Bumi Manusia, Pramoedya kembali melanjutkan kisah hidup Minke di Anak Semua Bangsa. Sebagai mana yang sebelumnya, Minke kembali lagi harusw menghadapi serangkai konflik demi konflik sepanjang buku. Namun, dibandingkan dengan yang sebelumnya, kali ini konflik yang ada tidak bermunculan secara merentet sehingga pembaca maupun Minke sendiri mendapatkan ruang untuk mengambil nafas dan melakukan refleksi atas ide yang Pramoedya tuliskan sepanjang buku.

Dalam soal ide, Anak Semua Bangsa tidak lebih sedikit dalam menggambarkan ide yang dimilikinya. Pramoedya tidak habis mengupas permasalahan dan mengkritik atas kondisi sosial, dan juga politik, yang terjadi pada masa tersebut. Sungguh menjadi menjadi kemampuan tersendiri untuk bisa menggambarkan ide-ide tersebut tanpa harus terasa menyeret narasi keluar dari penceritaannya, sebagaimana yang dia demonstrasikan di buku sebelumnya, Bumi Manusia.

Namun, di buku Anak Semu Bangsa ini, Pramoedya seperti memiliki terlalu banyak ide dan pesan yang dia tuliskan. Beberapa ide tersebut tidak keluar dari konteks penceritaan dan sebenarnya memiliki tempat yang masih bisa diterima dalam narasi. Namun penempatan, panjang, dan cara Pramoedya menyampaikannya terasa tidak apik. Dia terasa terburu-buru disini, berbeda dengan apa yang dia lakukan sebelumnya di Bumi Manusia, karena ide yang dia sampaikan disini menjadi menyeret narasi keluar dari penceritaan. Jika saja bukan karena ide tersebut masih memiliki ruang kontektual dengan cerita, kesalahan yang dilakukan Pramoedya bisa menjatuhkan Anak Semua Bangsa lebih keras.

Satu hal lain yang saya lihat adalah, bagaimana Pramoedya mampu menyajikan Anak Semua Bangsa hampir seperti satu buku yang berdiri sendiri. Konflik yang ada di buku ini, sebagaimana yang ada di Bumi Manusia tidak ada yang meninggalkan pertanyaan besar atau tidak terselesaikan. Jika pun ada konflik yang berlanjut dari buku sebelumnya, itu karena konflik tersebut memang masih memiliki ruang untuk dikembangkan, bukan terselesaikan setengah matang di buku sebelumnya. Sedangkan kita sering melihat dalih banyak penulis, misalnya bahwa konflik akan berlanjut atau cerita akan menjadi seru di buku selanjutnya. Sungguh, hal seperti itu merupakan hal yang sering menjebak penulis kontemporer khususnya di Indonesia. Jika seseorang menulis buku –logi, mengapa tidak membuat setiap bukunya memiliki konflik masing-masing yang bisa kita nikmati yang pada akhirnya disatukan oleh konflik besar yang utama?

Anak Semua Bangsa masih merupakan satu buku yang solid, buku sastra yang mampu membawakan kisah Minke hampir sama baiknya dengan Bumi Manusia. Ide-ide yang ada dibuku ini, walaupun menjadi kekurangan karena banyak dan peyampaiannya, melengkapi ide-ide yang ada dari dua buku awal Tetralogi Buru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar