Senin, 29 April 2013

[Resensi] The Ladies of Grace Adieu and Other Stories

Judul : The Ladies of Grace of Adieu and Other Stories
Pengarang : Susanna Clarke
Penerbit : Bloomsbury
Tahun : 2006
Genre : Fantasy, Alternate-History, Historical-Fiction
Tebal : 235


Sinopsis

Susanna Clarke, sebelum menerbitkan karya agung yang menjadi debutnya, Jonathan Strange & Mr Norrell, menulis beberapa cerita pendek. Cerita pendek ini tidak pernah diketahui rimbanya sampai rekan penulis lain, Neil Gaiman, Colin Greenland, dan lainnya mendorong Clarke untuk merilis cerpen miliknya kedalam kumcer. Dalam kumcer ini, Susanna Clarke membawakan kembali kisah fairytale Inggris dengan tradisi aslinya yang dipenuhi oleh sihir dan keajaiban.

Sedikit beristirahat dari Tetralogi Buru sebelumnya, kali ini saya akan membawakan ulasan buku interlokal sebagai rehatnya. Tetralogi Buru mungkin akan dilanjutkan setelah dua atau tiga buku lagi.

Ulasan

Dewasa kini kita mengetahui fairytale atau dongeng sebagai kisah yang indah, memberikan nilai hidup atau moral. Ditambah dengan adanya kisah-kisah tersebut diadaptasi menjadi film animasi, lengkap sudah penilaian bahwa dongeng hanyalah cerita khayalan yang menceritakan hal-hal indah atau menyelesaikan masalah hidup lewat kecerdikan, persatuan, atau bahkan cinta semata.

Namun apabila kita mencoba melihat lebih jauh kedalam sejarah dongeng atau fairytale, khususnya Inggris, kita dapat melihat bagaimana kisah-kisah tersebut memiliki unsur gelap, tidak hanya memberikan pelajaran hidup melalui keberhasilan, namun juga peringatan melalui kegagalan. Dongeng atau fairytale dalam wujud asli dulu adalah cerita yang lebih gelap, magis, dan ajaib menyihir yang dapat dinikmati baik oleh orang dewasa maupun anak-anak.

Susanna Clarke dengan penulisannya yang ajaib dan menyihir mencoba mengembalikan tradisi dongeng Inggris yang lama kembali ke wujudnya yang semula. Sungguh, jika itu memang tujuannya, Clarke sudah melakukannya dengan baik. Cerita dalam The Ladies of Grace Adieu and Other Stories merupakan dongeng, fairytale, sebagaimana dia menceritakan asal mula, atau sekedar kisah-kisah ajaib tanpa harus memberikan implikasi nilai moral diakhir cerita. Beberapa memiliki elemen gelap yang tidak ditutupi sebagaimana yang sering kita temui dalam wujud asli dalam dongeng atau fairytale Inggris.

Dibawa kemampuannya, Susanna Clarke mampu membuat setiap cerita yang memiliki setting dan tema yang sama persis tersebut berasa sangat berbeda satu sama lain. Aspek antar cerita mungkin bisa berbeda namun kesamaan, atau tema besar, dan tujuan dari apa yang ditulis oleh Susanna Clarke dapat dilihat sehingga dalam mengulas buku ini, saya dapat melakukannya secara menyeluruh, berbeda dari ulasan saya yang sebelumnya pada sebuah buku kumcer yang dilakukan terpisah.

Salah satu tema besar yang sungguh terlihat dari buku ini adalah penggunaan sihir oleh wanita. Tema besar ini menjadi sangat mencolok karena sangat kontras dengan buku sebelumnya, Jonathan Strange & Mr Norrell ketika penggunaan sihir dimonopoli oleh kaum laki-laki. Susanna Clarke bahkan menyesali hal ini namun dia tidak ingin mengkhianati penelitiannya dengan memasukkan “perempuan kuat” yang tidak sesuai dengan kondisi pada zamannya. Dia melakukan cara lain yang berbeda, dia bisa menunjukkan bahwa seorang perempuan dapat menjadi kuat tanpa harus menyerupai laki-laki atau memiliki kekuasaan serta harta. Cukup dengan bagaimana para perempuan tersebut bisa menyelesaikan masalah secara mandiri.

The Ladies of Grace Adieu and Other Stories merupakan kumcer yang bisa berfungsi sebagai pelengkap atau pengantar bagi Jonathan Strange & Mr Norrell. Cerita yang disuguhkan sama menyihirnya dengan karya debut Susanna Clarke. Dan jika memang tujuan dari Susanna Clarke menulis cerpen-cerpen ini adalah untuk memulihkan tradisi dongeng Inggris dengan feminisme, dia telah berhasil melakukannya dan pula dengan apik, sangat menyihir.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar