Senin, 11 Maret 2013

[Resensi] Redfang


Judul : Redfang (Vandaria Saga)

Pengarang : Fachrul R.U.N
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2012
Genre : Fantasy, Psychological
Tebal : 414+25
ISBN13: 9789792290929
Mungkin pembaca yang budiman dan sering menengok blog muda ini dalam berkala akan melihat suatu keanehan, yakni saya Shengar belum sekalipun nulis ulasan buku lokal. Sedangkan blog ini ditulisnya akan memfokuskan diri pada buku lokal yang ironisnya hal itu saya yang tulis.

Jadi, disinilah ulasan buku lokal saya, yang kedepannya mungkin akan menyusul ulasan ulang dari buku Hailstorm yang saya baca Januari silam agar bisa menemani ulasan ini dan agar nambah jumlah pos serta menambah jumlah bandingan.


Sinopsis

Cassius Redfang, Duke daerah Redfang, provinsi Valta, membunuh adiknya sendiri, Velius Redfang, yang merupakan pewaris sah tahta ayah mereka 8 tahun silam. Kehidupan Cassius sebagai pewaris berjalan baik terlepas dari konflik politik disekitarnya sampai kemunculannya kembali adiknya Velius di tempat dia membunuh adiknya tersebut.

Ulasan

Hanya beberapa buku Vandaria Saga yang sudah saya abca sebelum ini. Ada tiga yang telah saya tulis reviewnya secara tidak matang yakni Takdir Elir, Masa Elir, dan Hailstorm. Kedua novel pertama yang saya sebutkan tidak terlalu memuaskan. Namun yang terakhir, Hailstorm, terlepas dari kekurangannya sungguh memberikan harapan bagi saya untuk tetap mengikuti dunia Vandaria.

Berasal dari penulis yang sama, Fachrul R.U.N, dia tetap menghindari archetype standar yang biasanya menjebak penulis fantasi di Indonesia yang entah mengapa gemar membawakan cerita fantasi model heroic quest. Dia kali tetap sama membawakan cerita yang akan mendalami dunia Vandaria lebih jauh. Redfang memberikan kita konflik internal seorang bangsawan atau aristokrat yang terbelit oleh politik dan ambisinya sendiri.

Sepanjang cerita, perubahan personal yang dibawakan oleh penulisnya pada karakter utama kita, Cassius Redfang, dilakukan dengan ciamik dan sangat baik. Perkembangan karakternya betul-betul terasa. Terlepas dari penggunaan kata dan frasa yang aneh mengingat settingnya, Redfang bisa dikatakan sebagai pembalik halaman yang sangat baik begitu memasuki konfliknya. Alunan benang konflik yang akan terangkai menjelang akhir cerita dan pseudo-klimaks yang ada.

Satu idea tau elemen yang sangat sukai dan saya dapat di bagian akhir cerita adalah penggambaran yang dilakukan pada sosok yang saling bersebrangan yakni Vanadis dan Deimos. Penulis memaparkan tanda-tanda samar menarik yang ingin saya lihat ide sesungguhnya dibalik tanda-tanda tersebut.

Masalah yang paling besar dan yang paling banyak menghantui Redfang adalah bagaimana banyaknya konflik yang menarik tersebut terasa ringan dan tidak terasa bobotnya. Tidak ada yang menjadi dasar yang kuat, tidak ada grounding of conlict disini sehingga ketika suatu konflik selesai dan muncul yang baru semua terasa bagai angin lalu padahal setiap konflik disajikan sesungguhnya menarik dan eksekusinya pas.

Ini mungkin disebabkan oleh gaya penulisnya yang terlalu hemat diri. Memang worldbuilding yang berlebihan dan keterlaluan sering menghantui cerita-cerita fantasi, namun apabila terlalu kurang, maka dampaknya juga akan sama buruknya. Ini semakin diperparah mengingat ceritanya yang banyak menonjolkan sisi psikologis dan juga politik. Sisi politik disini, gara-gara kurangnya grounding of conflict menjadi seperti tempelan belaka dan nampak seperti dieksekusi dengan buruk dan terlihat cacat.

Kurangnya grounding of conflict juga menimbulkan masalah besar bagi plot twist  yang akan muncul menjelang akhir cerita. Plot twist  yang muncul tersebut membuatnya nampak seperti sekedar dilakukan demikian karena rule-of-cool saja tanpa mengindahkan kaidah logika. Saya pribadi mengingat, bahwa dunia ini merupakan sesuatu yang tidak dapat diprediksi dan berbagai bisa terjadi. Hanya saja kurangnya grounding of conflict dan sekarang ditambah grounding of reality membuat plot twist dimata saya ini tampak cacat, walau secara eksekusi bukan secara prinsip dari idenya tersebut.

 Permasalahan yang sangat tampak ini begitu fundamental namun tidak menampik bahwa eksekusi yang disajikan secara keseluruhan dilakukan denga menarik sehingga saya waktu saya tidak terbuang begitu percuma. Jika ada buku yang akan mendapat manfaat dari halaman lebih, maka bisa dibilang Redfang adalah salah satunya. 200 halaman tambahan untuk membuat lebih banyak grounding akan membuat ide cerita yang jauh lebih grandiose dari Hailstorm mengkerdilkan novel tersebut. Sayangnya, minimnya grounding di tengah ide yang grandiose membuat Redfang jauh lebih kerdil dibandingkan dengan Hailstorm yang lebih sederhana.

Sedikit catatan akhir, saya melihat beberapa hal yang dipersoalkan terkait plot twist dan lainnya yang muncul dicerita ini. Namun karena kebijakan ulasan saya itu sekarang adalah menuliskan yang umum sebisa mungkin dan spoiler free, maka saya mengajak diskusi bagi yang sudah membaca dan merasa aneh dengan hal tersebut.

Dan satu lagi. Saya awalnya kagum di Hailstorm gak ada cewe dengan baju yang strippfied tapi apa nyana disini Ninh pakaiannya seperti itu. Kalau gak digambar gak masalah karena saya gak tahu. saya tunggu sampai akhir cerita tapi gak ada penjelasan yang memuaskan atas pakaiannya dia kecuali keahlian beladirinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar