Sabtu, 30 Maret 2013

[Resensi] On Writing - A Memoir of the Craft


Judul : On Writing – A Memoir of the Craft
Pengarang : Stephen King
Penerbit : Scribner
Tahun : 2000 (Asli), 2010 (Edisi Sepuluh Tahun)
Genre : Non-Fiction, writing
Tebal : 291

Sinopsis
Apa Saya harus nulis sinopsis untuk buku non-fiksi? Baik-baik akan saya tulis.

Buku semi otobiografi Stephen King akan kenangan dan pengalamannya dalam menekuni bidang karya menulis. Ditambah dengan pengalaman hidup-mati yang dia alami ketika mengalami kecelakaan pada tahun 1999, On Writing adalah salah satu buku terbaik Stephen King.

Ulasan
 Stephen King, penulis mashyur dari Amerika Serikat, telah menghasilkan 50 buku novel, 200-an cerita pendek dan masih terus bertambah. Dengan pengalamannya dalam pengkaryaannya, dia kerap ditanyai apa rahasia dari keberhasilannya. Bosan ditanyai hal yang sama terus menerus, dan juga tidak puas dengan banyak buku tentang menulis yang dianggapnya hanya berisi bullshit, King memutuskan untuk mencoba menulis buku tentang menulis, On Writing. Apa dia akan bisa benar-benar menunjukkan para penulis bullshit itu bagaimana caranya menulis buku tentang menulis yang benar? Atau malah dia akan jatuh kedalam jebakan yang sama?

Jawabannya tidak. Klaim On Writing sebagai pelengkap Elements of Style (panduan dasar menulis dalam bahasa inggris paling mashyur) mungkin tidak salah.


On Writing merupakan buku yang sangat menarik. Paruh awal buku diisi oleh otobiografi Stephen King. Otobiografi yang dituliskan menggambarkan apa saja yang telah membuat dirinya menjadi penulis sekarang. Kesemuanya dibawakan dengan menarik dan jenaka, sehingga saya tidak bisa untuk tidak membacanya. Padahal awalnya saya ingin melompat bagian “tambahan” ini karena ingin langsung lompat kepersoalan utama tentang menulis. Untung saya tidak melakukannya. Walaupun bagian C.V. ini merupakan pengalaman pribadi King, pengalaman yang membentuk dirinya jadi penulis, setidaknya itu cukup menghibur dan mungkin bisa memberikan sedikit pemanas awal sebelum masuk ke inti buku.

Stephen King memang benar-benar tahu apa yang akan dia bicarakan. Sebelum masuk kedalam bab utama On Writing, dia mempersiapkan pembaca yang memang benar-benar berniat untuk menulis untuk mempersiapkan diri. Menulis adalah hal serius. Jika tidak menganggap serius katanya, pergi saja dan cari pekerjaan lain, Kata King.

Sudah siap, dan sudah merasa cukup serius? Maka King melanjutkan dengan mengingatkan bahwa menulis adalah pekerjaan karya. Penulis adalah karyawan (atau craftmans dalam bahasa inggris. Sesungguhnya karyawan itu gak sinonim dengan pegawai), dan setiap karyawan memiliki toolbox mereka masing-masing.

Dalam mempersiapkannya toolbox untuk para penulis, Stephen King menjabarkan tiap-tiap alat yang harus dimiliki oleh para penulis. Persiapan atau alat yang dituliskan King disini secara keseluruhan lebih bersifat teknis dibandingkan dengan bagian berikutnya. Melihatnya, mungkin kita bisa melewatkannya. Awalnya saya pikir ini tidak penting tapi akhirnya Stephen King berhasil meyakinkan saya.

 Hal yang menurut saya jadi pembeda dibuku-buku lain adalah, Stephen King memperlakukan alat-alat itu memang sebagai alat. Banyak penulis blog atau buku yang sering menyalahkan alat itu sendiri yang menyebabkan suatu karya jadi buruk, menyarankan penulis lain untuk menghindarinya. Padahal tidak ada alat yang membuat karya menjadi buruk. Apa yang membuat karya buruk adalah penggunaan yang salah, seperti berlebihan, dan/atau tidak pada tempatnya.

Hal yang sama Stephen King lakukan dalam penjambarannya di dalam On Writing, bagian utama buku ini. Stephen King memberikan penjabaran atas elemen-elemen tulisan yang menurutnya telah membantu dirinya bisa menulis hingga seperti sekarang ini. Dia menuliskan saran-sarannya ini atas pengalaman pribadi namun itu semua cukup fleksibel bagi para pembaca untuk merubahnya sesuai dengan gaya mereka. Pengalamannya itu dia tulis dengan kejujuran (nilai terpenting dalam menulis lainnya, jadilah seseorang yang jujur!), tulus dan tidak berlebihan. Dia tidak membesar-besarkan diri dan bahkan sering mengakui kesalahan dalam kepenulisan selama karirnya berlangsung.

Ini yang membuat On Writing menjadi buku yang layak, tidak, bahkan wajib dibaca untuk siapapun, termasuk para penulis yang bahasa ibunya bukan bahasa inggris amerika (seperti yang King tekankan disini). Pembawaan yang menarik, tidak menceramahi melainkan memberikan nasihat. Setiap saran yang ada dapat disesuaikan dengan gaya si penulis (baru). On Writing memperhatikan hal-hal yang ada dalam penulisan dalam cahaya sorot netral, tanpa menyalahkan apapun secara dua dimensional sebagai penyebab buruknya suatu fiksi. Semua hal yang dijabarkan juga bersifat umum, sehingga penulis sekali lagi bisa dengan aktif mengembangkan dengan gaya mereka. Stephen King juga membawakan On Writing dengan santai, selayaknya buku bacaan, tanpa tekanan, bukan sebuah buku teks yang diisi dengan latihan sehingga buku praktis sangat mudah dibaca.


Ada beberapa saran yang saya anggap sangat penting (juga favorit) yang bisa saya tangkap disini, baik sebagai seorang pembaca maupun seorang penulis. Tapi dari semua itu, yang menjadi favorit saya adalah bagaimana Stephen King menekankan pentingnya membaca sebelum mulai menulis. Tentu saja membaca adalah hal penting, bagaimana kita menulis jika kita tidak bisa membaca.

Karya Stephen King yang pernah saya baca hanyalah The Eye of the Dragon (cukup memuaskan tapi bukan sesuatu yang luar biasa), tapi saya bisa katakan memang On Writing merupakan sebuah karyanya yang memiliki kualitas eksepsional. On Writing adalah buku yang layak bagi siapapun, entah dia hanya seorang pembaca kasual. penggemar Stephen King, dan tentu saja para penulis yang ingin mengasah kemampuan mereka dalam berkarya. Atas tulisannya yang dibawakan dengan begitu baik tanpa menceramahi, jenaka, dan penuh pemasukan, On Writing pantas mendapatkan reputasinya sebagai Klasik Baru.

Sebelum ditutup, biarkan saya memberikan sedikit saran favorit dari buku ini.

  • Rasa takut merupakan salah satu akar penulisan buruk
  • Membaca adalah hal penting dalam menulis. Tidak bisa membaca, berarti tak usah menulis sekalian
  • Membaca adalah pusat kreativitas seorang penulis
  • Satu hal buruk bagi penulis jika menulis terasa seperti sebuah pekerjaan untuknya. seorang penulis harus menganggap menulis adalah lahan mainnya. 
  • Gaya menulis boleh ditiru, namun jangan lah meniru pendekatan penulis lain dalam penulisan genrenya
  • Jika menemukan plothole yang begitu besar, jangan depresi, apalagi bunuh diri
  • Temukan seorang Ideal Reader, yang dimana Ideal Reader adalah orang terdekat yang menjadi pembaca pertama rancangan novel kita dan terlibat langsung dalam revisi
Mungkin Stephen King bukan pemenang Nobel Sastra. Dia juga mungkin bukan penulis terbaik di dunia. Tapi dia adalah orang yang tahu apa yang dilakukan selama ini dengan baik, dan itu  lebih dari cukup untuk mendengarkan apa yang dia tuturkan dalam On Writing.


6 komentar:

  1. suka dengan bagian kata-kata yang ini >> Gaya menulis boleh ditiru, namun jangan lah meniru pendekatan penulis lain dalam penulisan genrenya

    seperti mengatakan percaya dirilah pada gaya penulisanmu sendiri :D

    maksudnya menulis itu terasa seperti sebuah pekerjaan itu gimana ya? terlalu terobsesi gitu?

    ~ Dhia ~

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu buat psikologis penulisnya. beda kan ngerjakan sesuatu kalau berasa pekerjaan dan berasa hobi? :p kalau berasa pekerjaan jatuhnya pasti lebih mudah stres :D

      Hapus
  2. woah, ane suka ma kalimat penutup review ini :D

    "Jika menemukan plothole yang begitu besar, jangan depresi, jangan bunuh diri" >> LOL~

    "Rasa takut merupakan salah satu akar penulisan buruk" >> ak sering lupa sama nasihat yang satu ini ... :v

    ak punya yang edisi terjemahannya (salah satu gem yang ga sengaja nemu di kotak buku-buku obralan). terkadang, klo lagi galau pas mau nulis, ak suka buka-buka buku itu untuk nemuin pencerahan dan ketenangan batin. mungkin fungsinya jadi mirip2 holy bible, tpi dalam dunia tulis-menulis -w- setidaknya, di tempatku~

    -Ivon-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada Poyo~
      Memang si Stephen King nulis begitu soal plot hole

      Ini yang bahasa inggirs sih, jadi isi bahasanya rada liberal gitu dengan BS dan sejenisnya. Tapi pembawaannya jenaka jadi asik dibaca :))

      Hapus
    2. wah sama nih ama pus neko, aku juga nemu buku ini di salah satu obralan dan waktu baca mind blowing banget. Pengalaman2nya yang disisipin bikin tipsnya gampang diinget. Kaya waktu editing pertama di surat kabar bagian olahraga, itu bagus banget. Dan draft novelnya yang dikembaliin tapi dikasih catatan.

      Hapus
    3. Rumusnyanya

      Draft 2= Draft1-10%

      Hapus