Jumat, 08 Maret 2013

PRO TIP : Sulap Karakter


Selamat Idul Adha pemirsa! Kali ini bersama saya, dantd95, di PRO TIP~! Sebuah program khusus yang membahas mengenai mitos, trik, dan tips di ranah sastra baik itu kepenulisan maupun penerbitan hanya di TV-

“Woi, ini blog! Bukan acara TV! Sejak kapan kita punya stasiun TV? Lagian Idul Adha udah lewat dari kapan kale!”

...Ah, iya juga ya Ngar. Sori sori. (Sebenarnya gue akan sangat senang kalau bisa bikin acara TV/webisodes/podcast, tapi ga punya sumber dayanya (ditambah cewe-cewe pasti pada melting liat gue) jadi yaudah lah) Oke, mari kita jadi lebih serius sedikit. Seperti yang telah gue janjikan (?) PRO TIP menjadi sebuah serial, dan edisi kali ini membahas mengenai Sulap Karakter! Mau tahu? Ayo baca terus~


Kali ini, gue bakal bahas apa itu karakter, bagaimana karakter sebaiknya dibuat dan digerakkan, dan mitos-mitos yang ada mengenai karakter dan karakterisasi. Pertama-tama mari kita mulai dengan penjelasan soal judulnya. Sulap Karakter. Bukan, bukan bagaimana menyulap karakter yang tadinya kurang bernyawa jadi karismatik, bukan. Bukan juga menyulap batu jadi emas. Tapi masih berhubungan kok.

Maksud gue dengan Sulap itu adalah, karena menurut gue penulis adalah pesulap. Fiksi bukanlah realita, dan di kamus gue tidak ada frasa ‘fiksi realistis’ (bedakan dengan ‘fiksi realis’ atau aliran realisme dalam fiksi yang dari segi istilah dan penggunaannya cukup berbeda dengan frasa di atas). Penulis membuat pembaca bisa percaya dengan sebuah kisah fiksi bukan dengan menjadikannya sedekat mungkin dengan realita (kalau gitu ga akan ada genre fantasi, sci-fi, horor, dan lain-lain dong :p) tapi dengan cara menipu. Betul sekali, tapi jangan dikonotasikan secara negatif. Mungkin lebih tepat kalau disebut menyulap.

Menyulap sesuatu yang tidak bisa dipercaya, yang tidak mungkin/kecil sekali kemungkinan terjadinya menjadi sesuatu yang believable. Itulah kenapa ada yang disebut willing suspension of disbelief. Sama seperti sulap, ketika dalam sebuah pertunjukan sulap suatu benda bisa menghilang, benda itu tidak benar-benar menghilang, melainkan hanya dibuat seolah-olah menghilang.

Maka kita pun maju ke dalam elemen yang disebut verisimilitude, alias kemiripan dengan yang sebenarnya, atau lebih tepatnya seolah-olah yang sebenarnya. Jadi, apa hubungan semua ini dengan karakter dan karakterisasi? Hubungannya adalah : membuat karakter yang bagus bukanlah menjadikan karakter itu ‘logis-realis’ saja, tapi lebih penting untuk ‘menipu’ pembaca agar karakternya terlihat seperti nyata.

Mitos yang sering gue temukan adalah, karakter itu bagus asal punya kelemahan. Ini salah. Terus ada lagi, karakter itu bagus asal tidak one-dimensional. Ini juga salah. Ada lagi? Ada, yakni karakter yang bagus katanya asal bisa bikin pembaca simpati. Oh, yang ini sih ga salah-salah banget, cuma terkesan seolah ‘bisa-bikin-pembaca-simpati’ itu sederhana. Konsisten? Nah, ini baru bukan mitos.

I’ll tell you all before you scream, ladies and gentlemen : writing something good is not easy. Menulis? Oh gampang, tinggal buka word processor/ambil alat tulis. Menulis sesuatu yang bagus? Gampang? Ga ada yang namanya makan siang gratis, itu kenyataan yang pahit tapi harus ditelen.

The thing is, karakter yang bagus itu adalah karakter yang bisa memberi impresi seolah-olah dia bisa saja ada di sekitar kita. Seolah-olah nyata. Seolah-olah ya, bukan ‘dinyata-nyatain’. Karakter yang bagus itu ‘manusiawi’ mau manusia atau bukan.

One-dimensional? Bisa aja. ‘Perfect’? Bisa aja, kan gue udah pernah bilang karakter sempurna tak selalu jadi Mary Sue/Gary Stu. Unsymphatetic? Mungkin saja, meski lebih ke ‘mungkin saja’ karena soal ini pasti ada yang tidak setuju setelah lihat review-review bukunya bang Ewing (Forever Wicked : Ex Nihilo) seperti apa.

Kenyataannya, karakter yang baik bukan ditentukan oleh bagaimana si pengarang memutuskan dia seperti apa, tapi bagaimana si pengarang membentuk pribadinya dari cara dia bertindak, berperilaku, dan berbicara. That’s it, guys. Jauh lebih enak diucapkan daripada dilakukan. Sangat sulit untuk dilakukan.

Dalam? Engga. Tapi tetap bisa bikin gue bilang 'keren!'.


Tokoh-tokoh di anime-light novel Durarara!! misalnya, beberapa dari mereka sedikit one-dimensional, seperti Izaya dan Shizuo (sfx fujoshi : kyaaaa~). Tapi mereka tetap bisa menarik dan anehnya dapat dipercaya. Kenapa? Karena kepribadian mereka dibentuk dengan cara yang unik, tidak secara harfiah ataupun semacam laundry listing (“X tokoh yang jahat dan suka memasung orang tak berdosa”) melainkan dari perilaku, tindakan, dan cara bicara mereka yang membuat mereka terasa punya personality. Punya karisma tanpa harus jadi karismatik.

Jadi kenapa semua orc jahat? Apa karena muka mereka jelek? Er, rasis dong.


Dan sebaliknya dengan ras orc serta manusia selatan dari Lord of the Rings. Oke, oke, ini alegori Kristen (meskipun bukan alegori yang bagus IMO, terlalu condescending dan kurang subtle), ini diterbitkan lebih dari 50 tahun yang lalu (bukan alasan, Dickens aja bisa bikin cerita moralis dan alegoris baik-jahat tapi dengan tokoh-tokoh yang dinamis), dan ada alasan logis (logis in-universe tentunya) yang mendasari kenapa orc seperti itu. Mereka sama-sama one-dimensional, sama dengan tokoh-tokoh yang gue sebut tadi di atas.

Tapi kenapa malah jadi sebaliknya? Karena orc dan manusia selatan ini tidak ditampilkan dengan baik. Mereka ditampilkan secara by-the-book jahat, tanpa variasi, tanpa keunikan-keunikan kecil seperti kebiasaan, cara pandang hidup, dan selera yang membuat karakter menjadi unik dan ‘orisinil’. Mereka tidak berhasil menipu pembaca (well setidaknya gue) bahwa orc dan manusia selatan ini believable.

Nah, sekarang mari kita maju kepada kesimpulan dan tipsnya :

1. Karakter yang baik adalah karakter yang dapat menipu pembaca seolah-olah dia ada dengan cara dibentuk tindakan, perilaku, dan gaya bicaranya sehingga jadi believable (dan akan lebih bagus kalau unik dan orisinil).

2. The devil is on the details, tapi perhatikanlah hal-hal kecil soal orang-orang di sekitarmu. Salah satu (atau salah tiga) hal yang membuat karakter terlihat seolah-olah nyata adalah kebiasaan, ideologi pribadi, dan selera.

3. Jangan lupa bagi penulis untuk menjaga perasaan pada karakter sendiri. Salah satu alasan karakter jadi tidak berhasil menipu pembaca adalah ketika penulis terlalu menyukai karakternya sendiri hingga belok ke Mary Sue/Gary Stu. Sebaliknya jika ingin membunuh karakter beri alasan yang bagus dan pengaruh yang bagus ke dalam jalannya cerita secara keseluruhan (karena kalau ga ada pengaruh yang bagus, sama aja dong keak rutinitas seperti BAB, dan jadi death for the sake of death semata atau lebih parah lagi 'because death iz kewl').

4. Jangan mau dikotak-kotakkan dengan definisi palsu dari ‘antagonis’, ‘protagonis’, ‘trigonis’, dsb dsb dsb soal karakterisasi. Karakter yang baik punya ideologi pribadi yang menurut mereka benar. Mereka punya kepentingan. Mereka semua punya pikiran yang independen. Ini hanya masalah sudut pandang yang digunakan belaka, bukan “jahat” atau “baik” nya masing-masing karakter.

(OOT : Keaknya enak nih kalau blog ini ditambah fiction corner dari siapapun)

3 komentar:

  1. Tambahkan fungsi kognitif dan prioritas aspirasi kali ya biar makin asik sulapannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kognitif dan prioritas karakter dalam bertindak. Itu bisa aja sih ditulis tapi butuh pendalaman lebih lagi >__>

      Hapus