Senin, 04 Maret 2013

Mengapa dan Apa: Postmodernis dan Absurdis

Modernisme, postmodernisme, absurdisme, dan metafiksi. Ini-ini lah yang akan saya bicarakan di entri ini dan tentu saja tiga hal yang disebutkan pertama dalam konteks penulisan.

Saya sebenarnya belum pernah menikmati karya sastra yang jatuh kedalam salah satu dari empat hal tersebut. Cerita absurdis yang pernah saya nikmati hanyalah anime Mawaru Penguindrum dan (mungkin) Humanity Has Declined (Jinrui/Jintai kalau mau berweaboo dikit).

Tapi pada akhirnya saya sendiri banyak kepikiran tentang hal-hal tersebut dan selalu bergelut dengannya didalam pikiran saya yang lebih tradisionalis sebagai penulis. Mungkin karena rekan saya, Dantd95 dan beberapa penulis lain sekitar saya beraliran salah satu dari empat hal tersebut, jadi pikiran saya secara tidak langsung terekspose dengan ide-ide "nyeleneh" yang mereka tulis.

Tanpa mengurangi rasa hormat pada Dantd95, saya akan mengutarakan kritik saya atas empat hal yang disebutkan diatas. Atau mungkin lebih tepatnya, kritik yang disampaikan pada penulis (baru) yang mencoba mendalami aliran kepenulisan tersebut.


Jadi untuk pertama-tama, apa itu modernisme? Modernisme itu gerakan yang muncul sebagai kritik atau "pembelokkan" dari gaya-gaya sastra tradisional yang dianggap terlalu membukukan (yeah, plesetan) sastra itu sendiri. Pikiran-pikiran besar yang baru pada masanya (Seperti Darwin, Nietzche dst) merubah banyak cara padanng sastrawan modernis ini. Mereka mencoba keluar dari pakem realisme tradisional dan menceritakan reallisme dengan sesuatu yang surealis.

Nah, postmodernis ini lebih kedepan lagi dari para modernis. Mereka meningkatkan level "nyeleneh" mereka lebih lagi karena mereka mengesampingkan atau membelokkan "pakem-pakem" yang ada pada karya-karya modernis. Mereka seperti gerakan postmodernis lain, mencoba keluar bebas dari segala pakem yang ada dan mengedepankan kebebasan bernilai.
Judulnya aja udah postmo sekali

Jangan salah. Saya gak benci mereka. Justru saya menghormati pergerakan mereka yang berusaha keluar dari pakem yang terlalu membuku-bukukan sastra hingga malah jadi terlalu kaku, menyempitkan pemahaman kita sendiri atas sastra atau cerita yang sebenarnya. Ide-ide liar dan nyeleneh yang seharus bisa menjadi kepingan fiksi yang bagus akhirnya malah jadi terpendam. 

Seperti misalnya aja unsur-unsur metafiksi, bisa dikatakan muncul kembali berkat dua gerakan tersebut. Cerita-cerita yang mengandung footnotes (dan footnotesnya sendiri berisi cerita), cerita tentang penulis yang menuliskan cerita, sampai karakternya sendiri mencari si penulis didalam cerita. Kreasi tanpa batas!

Begitu juga dengan absurdisme dan surealisme, Yang pertama dapat digunakan untuk menunjukkan reaksi manusia ketika mereka ditempatkan pada situasi aneh,di luar daya jangkau logika, atau bahkan digunakan untuk menjelaskan filosofi itu sendiri. Sedangkan yang kedua, meminjam kata-kata Dantd95, surealisme digunakan untuk menunjukkan keanehan realita sendiri. Sekali lagi, kreasi dan kreativitas tanpa batas! Absurdisme dan surealisme memungkinkan penulis untuk menggunakan simbolisme dalam penceritannya lebih jauh dari cerita biasa.

Namun entah mengapa saya melihat kebebasan dalam krasi dan kreativitas itu dijadikan kebablasan atas nama postmo, metafiksi, atau absurdisme. Dituliskan cerita yang aneh dan membingungkan atas nama keanehan itu sendiri sambil membopong ide-ide besar postmo. Karena ketika pembaca kebingungan, si pembaca maupun si penulis bisa berdalih kalau tulisannya ini mungkin terlalu dalam atau "DALAM" untuk bisa dimengerti. Tentu saja bagi saya ini merupakan tamparan yang keras bagi gerakan absurdis, postmodernis, dan metafiksi yang sesungguhnya (atau bahkan ke dunia penulisan itu sendiri).

Mereka lupa bahwa dalam postmodernisme dan absurdisme, terlepas dari pembebasan kreasi dan kreativisme bukan berarti mereka bisa bablas tanpa ada yang menjadi acuan. Anarkisme tidak akan membawa apa-apa kecuali kekacauan tanpa akhir. Tidak ingatkah dengan banyak epos penciptaan alam bahwa dulunya kekacauan itu diakhiri agar bisa ada sekarang? Mengapa hal seperti itu harus balik?

Ide-ide dari kreasi atau kreativitas yang begitu liar dalam berbagai medium yang telah saya nikmati (atau sedikit dinikmati) dengan baik selalu memiliki kesamaan. Kesamaan inilah yang membuat otak sederhana saya, karena tidak bisa mengerti simbolisme yang ditampilkan seluruhnya mengerti. Aspek itu adalah kohesi atau cohesiveness.

Ya, yang membuat karya Kafka dapat dinikmati itu
kohesi yang masih ada di ceritanya

Tanpa adanya cohesiveness, ide-ide tersebut hanya akan tumpukan konsep yang tidak jelas, abstrak dan tidak akan dimengerti kecuali oleh si penulis dan mungkin beberapa orang terdekatnya. Bagaimana bisa menilai karya tersebut jika idenya tidak bisa mengerti karena tidak memiliki kohesi satu sama lain? Kohesi inilah hal yang mempersatukan nilai atau ide atau simbolisme yang muncul pada karya-karya absurdis atau postmodern.

Ambil contoh saja misal Mawaru Penguindrum yang diatas. Dari awal sampai akhir kita disuguhkan banyak simbolisme dan cerita yang begitu absurd tanpa henti. Saya yakin tidak akan ada bisa mengerti semua simbolisme yang ditampakkan (karena hanya masuk akal bagi si sutradaranya  saja) di sepanjang Mawaru Penguindrum. Tapi biarpun gitu, Mawaru Penguindrum tetap memiliki kohesi diantara ide dengan simbolisme (kecuali cuma Ikuhara yang ngerti) yang ditampilkan, sehingga dapat memberikan hiburan sekaligus semacam makna yang hanya dapat dilakukan dengan genre (dan medium) tersebut.

Jika ingin menjadi penulis absurdis karena kagum dengan karya-karya dari Franz Kafka atau Haruki Murakami, atau mungkin karena kau sendiri mempunyai pikiran yang begitu abstrak, ya lakukan. Tapi jangan  menulis cerita atau fiksi macam ini dengan niat membingungkan pembaca karena itu bukanlah esensi daripada fiksi postmodern dan absurdis.

3 komentar:

  1. Wew, mawaru penguin drum, saya cuma suka opening soundtracknya aja haha. Itu kampret ngeselin banget, setiap survival strategy gajenya diulang-ulang bikin gregetan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekuensi survival strategy itu juga pasti punya makna tersendiri tapi pastinya gak perlu diulang-ulang
      harusnya cukup 2-3 kali yang pertama dan sisanya yang benar-benar penting aja
      kalau keseringan jadi keliatan malesnya animator karena itu semua kan animasinya sama <(")

      Hapus
  2. Try Sophie's Verden (Dunia Sophie) novel filosofis yang tentu saja menghancurkan tembok ke 4 dengan cara yang sangat baik.....
    :3 :3

    BalasHapus