Minggu, 31 Maret 2013

Mengapa dan Apa: Fiksi

Jadi, karena saya kebanyakan waktu dan ingin memberikan sesuatu yang berguna dalam rangka merayakan suatu hal, saya menuliskan suatu essai tulisan. Tadinya saya ingin menjadikan apa yang dituliskan itu ekslusif untuk tempat tersebut, tapi setelah didesak oleh Dantd95, saya putuskan untuk mempostnya disini. Hitung-hitung nambah jumlah post dan update menyebarkan isi pikiran ke khalayak lebih luas. Sekalian juga combo breaker sama post saya yang akhir-akhir ini isinya ulasan buku.

Isi tulisan yang akan saya sampaikan aslinya terbagi atas beberapa poin: Hakikat, Fungsi, Show not Tell, Genre, Medium, Inspirasi dan Referensi, serta Pentingnya Membaca. Hanya dua yang pertama yang akan saya tuliskan disini, dengan nyaris sama dari sumbernya dengan sedikit penambahan sedangkan yang lainnya akan mendapat fokus tersendiri. Ini termasuk satu bagian yang saya potong, Kesadaran Diri, akan saya pos disini suatu saat nanti.

Tulisan saya dibawah ini mungkin secara implisit akan berasa diperuntukkan untuk fiksi tertulis. Namun spektrum fiksi yang dibicarakan adalah fiksi dalam cakupan terluasnya. Saya menuliskan pengertia dibawah ini dalam pengertian yang bisa diaplikasikan untuk fiksi 


Hakikat Fiksi

Jadi, sebagaimana tulisan serius lainnya, kita akan memulai dari hakikat dulu.

Kita disini membicarakan fiksi. Fiksi merupakan salah satu elaborasi atas imajinasi dan pikiran seseorang. Dengan fiksi, seseorang bisa menyampaikan isi pikiran jauh lebih menarik, tajam, dan kuat daripada sebuah essai. Ide dan filosofi yang rumit nan njlemiet dapat lebih diterima ketika ditawarkan dalam bentuk fiksi. Kritik sosial yang pedas akan mendapat reaksi yang lebih baik atau kritisisme yang lebih tajam ketika ditampilkan dengan  fiksi. Bahkan beberapa tulisan non-fiksi seperti Il Principe memiliki unsur fiksi atau setidaknya bergaya fiksi dalam pembawaannya.

Fiksi dalam titik tertinggi dapat memberikan gambaran luas atas realitas serta manifestasi filosofi, atau ide-ide dengan cara yang tidak mungkin dicapai dengan non-fiksi. Tiap orang bisa memiliki interpretasi yang berbeda-beda atas satu fiksi yang sesuai dengan perspektif yang dimiliki. Tapi dalam titik terendahnya, fiksi hanya berupa eskapisme. Perkaburan seseorang dari keluh kesah dan susahnya dunia nyata atau perwujudan imajinasi liar. Fiksi tersebut kosong, hampa, dan hanya untuk kesenangan belaka yang terlupakan begitu saja setelah 5 menit dinikmati.

Ada miskonsepsi pada dunia fiksi belakangan ini. Banyak fiksi yang mencoba mereplikasi kenyataan atau realitas karena terbawa arus karya fiksi yang berbau "realis", atau "gritty", atau "dark". Padahal sesungguhnya fiksi itu sesuai namanya adalah fiksi. Tidak ada rekaan manusia yang dapat menyaingi realitas itu sendiri. Seberapa pun usahanya, mereplikasi realitas adalah usaha percuma yang buang-buang waktu dan tenaga karena pada dasarnya, realitas adalah suatu hal yang aneh dan lebih aneh daripada fiksi itu sendiri. Realiatas dipenuhi oleh hal yang tidak dapat diprediksi. Realitas tidak dikonstruksi oleh satu pikiran seperti halnya fiksi. Ketidaksadaran kolektif yang pada dasarnya membangun realitas dan satu ketidak-sadaran mustahil untuk menyaingi hal tersebut.

Namun hal-hal yang saya sebutkan, "realisme", "gritty", dan "dark" bukan lah yang pada hakikat buruk untuk fiksi. Sebagaimana tropes/elemen lainnya dalam fiksi, ketiga hal tersebut bersifat netral sampai digunakan oleh seseorang. Satu hal miskonsepsi akut tentang ketiganya ini adalah bagaimana suatu cerita dianggap keren, berat, dan jauh diatas cerita lainnya yang tidak "realis", "gritty", atau "dark". Suatu cerita yang mengandung ketiga elemen tersebut hanya demi terlihat berat atau keren, sama buruknya dengan cerita-cerita eskapis.

Fiksi adalah fiksi, suatu konstruksi dari ide pikiran manusia untuk memberitahukan atau menceritakan sesuatu dengan simbol yang ditempelkan oleh empunya. Dapat dikatakan fiksi itu secara inheren bersifat simbolik. Realisme yang dimasukkan hanya sekedar demi realisme itu sendiri dan tidak memperkuat elemen fiksi itu sendiri, sesungguhnya salah satu bentuk fiksi terburuk.




Fungsi Fiksi

Sebagaimana yang telah dielaborasikan diatas, fiksi itu mustahil dan tidak boleh mereplikasikan realita. Fungsi fiksi itu sendiri adalah untuk menggambarkan realita. Kedua hal bertentangan ini terlihat persis satu sama walaupun sesungguhnya berbeda.

Replikasi dan gambaran adalah dua kata yang memiliki makna yang berbeda. Fotografi mereplikasi realita, sedangkan lukisan menggambarkan realita. Keduanya sangat mirip tapi berbeda secara fundamental. Tentu saja baik fotografi dan lukisan tidak terpatri pada contoh tersebut, karena itu hanya sebuah contoh sederhana. Keduanya dapat bertukar posisi untuk memperlihatkan realita.

Kembali pada fiksi, untuk memenuhi fungsinya tersebut, fiksi bukan harus mereplikasi setiap detil yang ada untuk menggambarkan realita. Apa yang harus dilakukan adalah menggambarkan fiksi yang begitu meyakinkan, sampai orang tertipu bahkan ketika dia tahu itu sebenarnya hanya fiksi. Fiksi adalah soal tipu-menipu dan tertipu dengan cara yang terbaik.

Ini juga berlaku untuk fiksi absurdis atau postmodernis. Fiksi dari aliran tersebut sesungguhnya memiliki tujuan yang sama dengan fiksi lain walaupun dalam isinya, mereka kerap mendistorsi realita. Dari realita yang terdistorsi tersebut justru kita akan menyadari keanehan dari realita itu sendiri. Fiksi absurdis yang gagal memenuhi ini berderajat dengan fiksi eskapis lain, eskapis untuk si empunya, lebih tepatnya.


Kenapa harus tahu hal ini? Memangnya penting? Apalagi kalau mengkarya fiksi untuk senang-senang untuk apa tahu beginian kan?

Kalau memang tidak serius, ya, ngapain baca sampai sejauh ini.

Mengkarya  itu adalah hal serius, kata Stephen King (walaupun dia mengatakannya dalam konteks menulis, tapi keseriusan ini berlaku secara universal), dan saya sangat setuju King. Dengan serius berarti kita harus mengerti dasar-dasar dari fiksi. Jangan sampai kita mengkarya dalam fiksi tapi nanti ketika ditanyai, tidak tahu apa itu fiksi dan menjawab asal-asalan seperti "pokoknya cerita bohongan/karangan!"

Tapi satu catatan yang diingat, dengan serius bukan berarti kita tidak bisa mendapat kesenangan dalam berkarya. Stephen King juga bilang di akhir bukunya, On Writing, kalau dia membuat karya karena dia suka. Serius sebenarnya bentuk lain dari senang. Apa yang membedakannya adalah, dari serius kita mendapatkan kesenangan dari pemecahan masalah sedangkan yang main-main kita dapat dari menghindarinya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar