Selasa, 19 Februari 2013

[Resensi] Pulang

Judul : Pulang
Pengarang : Leila S. Chudori
Tebal : 460 hlm.
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun : 2012
Genre : Lit Fic

Untuk pembukaan : Sebenarnya buku ini pantas dapat 5 bintang.
Alasan kenapa saya "hanya" memberi bintang 4 bukan karena ada hal yang mengganggu saya dalam novel ini (meskipun memang ada kekurangan yang akan dijelaskan nanti), melainkan karena saya merasa sebagai orang Indonesia yang meskipun tidak merasakan gejolak pasca-65 tapi sedikit melihat dari jauh, dari layar kaca yang berpendar, "Reformasi" (waktu itu saya masih anak kecil yang naif dan berteriak riang bukan main ketika Amien Rais, si Andriy Shevchenko Indonesia itu (dari mukanya tentu saja, bukan dari kemampuannya), muncul memberi orasi) dan termasuk sebagai bagian dari generasi yang merasakan baik-buruk dan pahit-manisnya "Reformasi", saya pasti punya bias tersendiri dalam menilai novel ini karena saya memang merasa latar belakang waktu dan tempat yang disajikan novel ini... adalah ruang-ruang yang belum banyak terjamah dalam sejarah abu-abu kita dan (sejak membaca sedikit mengenai Sorbon Aidit (adik DN Aidit), seorang eksil) seolah terhubung dengan ke-Indonesiaan dalam diri saya, betapapun kecilnya itu.

Dari sekarang, saya akan menunggu novel ini diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa asing terutama bahasa Inggris (dan kemungkinannya besar) kemudian mendapat resensi dari media luar negeri, terkemuka ataupun tidak, untuk bisa mengetahui bagaimana penilaian orang-orang (terutama resentator profesional) yang tidak punya "bias Indonesia" terhadap novel ini. Atau semoga novel ini cepat-cepat difilmkan dan ditampilkan di festival film internasional, terserah mana yang duluan.

Originalitas & Konsep

Konsep dan premis novel ini dari awal (dari sinopsis di sampul belakang buku) sangat memikat hati. Tak pernah saya menemukan sebuah novel yang membahas sudut pandang eksil politik pasca-65 yang terpaksa lepas dari Indonesia dan terperangkap di Prancis, ditambah lagi digabung dan dihubungkan dengan peristiwa turunnya Soeharto yakni "Reformasi" yang saya sebut di atas tadi. Gaya epistoler novel ini juga patut diacungi jempol dari caranya 'menggunakan' senjata ini secara lihai, sangat lihai.

Pilihan penulis menggunakan banyak sudut pandang orang pertama juga mungkin pantas dimasukkan sebagai pujian di bagian ini, karena meskipun sulit cara ini memang yang paling potensial untuk menggambarkan konflik dalam diri semua karakter utama, yang bermacam-macam meskipun tetap terhubung dalam segelintir tema yang sama sehingga koherensinya terasa (bonus karena bisa membuat saya tetap fokus membacanya). Referensi literatur yang beragam, dari James Joyce hingga Jalaluddin Rumi dan dari George Orwell hingga Chairil Anwar (yang semuanya disebutkan di catatan akhir) juga sangat memuaskan saya.

Rating : 4/5

Jalan Cerita

Di bagian ini, mungkin tidak seperti biasanya, saya tidak akan terlalu mendetilkan sebagian besar jalan cerita ini. Entah kenapa saya merasa sulit kalau menjelaskan novel ini sampai sangat detil. Mungkin karena titik lemahnya hanya sedikit. Mungkin karena ada "hukum resensi" yang menyatakan bahwa memuji lebih sulit dibanding menghujat (meskipun tentu saja berbanding terbalik dengan apa yang harus dipertanggungjawabkan dari sebuah resensi; kesalahan pastinya harus diambil dan dielaborasikan, karena resentator memang selayaknya merangkap detektif jika ada hal yang dianggapnya salah dalam sebuah buku). Tapi izinkan saya berbicara mengenai tema dan nuansa yang berteriak tanpa suara dari kumpulan huruf-huruf dalam novel ini secara keseluruhan.

Novel Pulang pada dasarnya memang sesuai dengan judulnya : bercerita mengenai rasa kangen, keinginan untuk pulang, sense of belonging, dan konsep "tanah air". Jalan cerita sendiri dibagi menjadi tiga bagian (ditambah prolog dan epilog), sesuai tokoh utama masing-masing bagian : Dimas Suryo, seorang eksil politik pasca-65; Lintang Utara, anak hasil perkawinan Dimas dengan seorang wanita Prancis, Vivienne Deveraux; dan Segara Alam, anak bungsu dari Hananto Prawiro, seorang kiri yang tertangkap (dan nantinya dieksekusi) oleh TNI.

Tema-tema yang disajikan di bagian pertama, seperti krisis identitas para eksil yang terbuang, bagaimana hubungan rumit antara Dimas dan Hananto yang kusut karena cinta platonis Dimas pada Surti, mantan pacarnya yang kemudian menjadi istri Hananto, konflik batin dalam diri Dimas yang cintanya terpecah antara Vivienne dan Surti (yang melambangkan masa kini di Prancis dan tanah air yang tak mampu digapai), serta bagaimana para eksil (Dimas-Nugroho-Tjai-Risjaf) mendirikan Restoran Tanah Air dikemas dengan apik serta terasa sangat mampu dipercaya oleh akal sehat. Terasa nyata.

Yang menarik di novel ini memang simbolisme (disengaja atau tidak) yang muncul dari kisah-kisah cinta dan pemikiran karakternya. Ini yang mulai dijelajahi di bagian Lintang Utara, termasuk misteri antara Dimas dan Surti, perceraian Dimas dan Vivienne yang bukan disebabkan hilangnya rasa cinta melainkan karena kecemburuan Vivienne pada rasa cinta tanah air Dimas yang menggebu-gebu dan penuh pesimisme, cinta Lintang dan sesama Indo Narayana Lefabvre (yang, meskipun bisa menyimbolkan sisi ke-Eropaan Lintang dan ketidaktahuannya soal I.N.D.O.N.E.S.I.A., tapi agak membuat kecewa karena Narayana seperti cuma berfungsi sebagai "penghubung" antara Lintang dan caranya masuk Indonesia ditambah adegan seks yang kurang perlu), serta keingintahuannya mengenai absurditas Indonesia dengan pola pikirnya yang berbeda jauh dari pola pikir Eropa yang tumbuh perlahan-lahan.

Bagian ketiga, Segara Alam, menggambarkan perjuangan mahasiswa dan aktivis mencapai "Reformasi" di bulan Mei 1998 yang penuh konflik serta pencarian identitas tanah air bagi Lintang. Ini bagian yang awalnya saya tidak begitu suka (karena affair antara Alam dan Lintang, dan karena porsi adegan seksnya agak eksesif; ada yang bertujuan jelas tapi ada juga yang tidak perlu) tapi mendekati akhir cerita menjadi bagian yang paling simbolis menurut saya karena Alam menggambarkan Indonesia : banal, "nakal", namun menawan. "Penaklukan" hati Lintang oleh Alam menurut saya adalah simbolisme "penaklukan" Indonesia dengan segala muka buruk dan baiknya pada Lintang yang ingin menemukan tanah airnya.

Akhir cerita sendiri ditutup dengan pahit-manis. Lintang memutuskan bahwa Indonesia adalah tanah airnya yang baru, namun Dimas meninggal "secara banal, secara medioker" karena penyakit sebulan setelah "Reformasi" selesai dengan meninggalkan titah bahwa ia harus dikubur di Karet. Sampai akhir, cerita ini adalah salah satu dari sedikit cerita yang membuat saya tak berani berhenti bahkan untuk rehat sejenak.

Rating : 3,5/5

Karakterisasi

Ini bagian paling kuat. Memang sebenarnya karakter-nya lah yang 'memaksa' saya untuk membaca ceritanya terus sampai akhir. Dari Dimas Suryo dan Lintang Utara hingga Andini dan Rama semuanya terasa nyata, punya 'hidup' mereka masing-masing. Karakter mereka digambarkan dengan kuat, terutama ketiga karakter yang jadi inti ketiga bagian cerita. Saya tidak bisa bercerita panjang-panjang soal ini, tapi yang jelas saya bisa yakin bahwa karakter Dimas dan Lintang adalah karakter-karakter yang saya temukan dalam cerita fiksi sejak Minke.

Dan saya juga suka bagaimana tokoh-tokoh nyata seperti PAT, Rendra, dan lain lain disebutkan di bagian ketiga.

Rating : 4,5/5

Gaya Penulisan dan Diksi

Harus saya akui bahwa gaya penulisan dan diksinya sangat baik. Gaya penulisannya dibumbui metafora namun mengandalkan unsur emosional melalui gaya epistolernya, yang sangat sukses membuat saya tertawa dan sedih. Bahkan gaya penulisan buku ini membuat saya terinspirasi untuk kembali menulis. Sungguh sangat efektif. Diksinya juga melengkapi dengan baik (terutama cipratan-cipratan bahasa Prancis itu. Indah sekali) dan secara keseluruhan lagi-lagi saya tidak bisa berpanjang-panjang karena saya tidak melihat ada yang benar-benar salah di bidang ini.

Rating : 4/5

Faktor Kepuasan

Novel ini membuat saya tertawa. Membuat saya senang. Membuat saya sedih. Membuat saya hampir saja menangis dan cemas membayangkan nasib Lintang di tengah bahayanya situasi kerusuhan 1998. Dan novel ini kembali menginspirasi saya untuk menulis. Kurang puas apa?

YES!

Sebagai penutup, mungkin saya akan memberi interpretasi saya (yang bisa benar bisa salah) mengenai "tanah air" : Menjadi orang Indonesia bukanlah memberi garis batas, baik nyata maupun semu, antara "orang Indonesia" dan "orang luar negeri", melainkan menjiwai apa itu Indonesia dari pengindraan kita terhadapnya dan kenangan-kenangan bersamanya.

Total : 4/5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar