Selasa, 12 Februari 2013

[Ulasan Buku Lokal] Kynigos


Review by dantd95

Judul : Kynigos
Penulis : Yoana Dianika
Penerbit : DIVA Press
Tahun Terbit : 2012
Genre : Fantasy, Romance, Young Adult (?)


Oke, setelah ngeliat buku ini nongol di grup KasFan, dan setelah baca Hailstorm-Redfang yang setidak-tidaknya memberi harapan baru pada kualitas fiksi fantasi buatan orang Indonesia (with absolute respect to all the writers; i believe they've all done quite a hard work making each one), akhirnya gue memutuskan buat beli dan baca buku ini.

Apakah sis Yoana bisa membuktikan diri sebagai calon penerus legenda-legenda hebat sastra Indonesia? Mari kita lihat.


Originalitas & Konsep

Sebenarnya konsepnya itu orisinil-tapi-tidak-orisinil : Fantasi-aksi-romansa dengan dewa-dewi Yunani. Kenapa gue sebut begitu? Karena begitu baca pertengahan tiba-tiba gue inget Rick Riordan. Tapi sebenarnya konsep settingnya sendiri lumayan kreatif. Di planet lain yang berada di galaksi lain jauh dari Bumi, dimana dewa-dewi Yunani tinggal dan beberapa manusia bisa melihat mereka. Ada sebuah pertarungan antara 12 dewa zodiak dimana mereka harus memilih seorang penduduk planet mereka menjadi Kynigos-Kynigos yang saling bertarung dan yang bertahan terakhir menang. Pemenangnya, dewa maupun Kynigosnya, akan mendapatkan White Life dari Zeus, kekuatan untuk memperoleh kehidupan seperti yang mereka inginkan. O... kay. Disini mulai terdengar seperti premis 1 dari 4 manga aksi shounen. Ditambah lagi hadiahnya sedikit kurang jelas dan bisa menimbulkan abuse. Dan apa dewa-dewi Yunani itu segabut bin bosan itu sampe bikin turnamen aneh ginian? Ga menjalankan tugasnya sebagai dewa-dewi? Masih problema yang ringan sih, karena di mitos-mitos pun dewa-dewi Yunani ga sibuk-sibuk amat kelihatannya (tapi tetep aja, ga segabut ini juga sampe bikin turnamen yang kelihatannya lebih ke ngisi waktu luang selain mendapatkan kekuatan yang sebenarnya ga se-wah itu(dengan menyuruh/mendampingi penduduk biasa bertarung sampe pingsan dan sakit! Emangnya ini Supertrap?))

Rating : 2/5

Jalan Cerita

Awalnya, jalan cerita cukup menarik. Dibuka dengan Pahn yang mengenalkan planet Bumi pada Ardeline, si protagonis dan Kynigos-nya Pahn. Ardeline sendiri kemudian menjelaskan bahwa planet tempat tinggalnya beda dengan Bumi, sekaligus mengafirmasi bahwa settingnya bukan Bumi. Sebenarnya ini trik yang cukup bagus, sayangnya gue jadi dibuat berharap/ekspektasi kecil bahwa ceritanya pasti bakal nyambung sama planet Bumi. Ya, dan sampai akhir planet Bumi cuma disebut-sebut doang. Sedikit bikin kecewa. Sehabis itu tapi mulai muncul bagian yang bikin enek. Infodump. Freaking infodump. Oke, jadi si penulis ngejelasin hampir satu halaman soal kendaraan yang cuma dipake satu karakter di novel ini dan ga gitu ngaruh ke plot sedangkan ga ngejelasin sama sekali Demeter dan Antares itu dewa apa pada gue yang ga tahu apa-apa soal mitologi Yunani? *more on this later* Belum lagi penjelasan-penjelasan panjang bin boros bin ga terlalu penting soal, misalnya, rusaknya Bumi di masa kini yang ga ada hubungannya sama planet Aster tempat plot novel ini berlangsung. Meski begitu, penjelasan hubungan Aster dengan Yunani kuno (dan later bahasa Aster kuno dengan Yunani) boleh juga. "Prolog" ini ditutup dengan penjelasan Ardeline tentang sifat Pahn yang ganteng-tapi-nyebelin dan rekornya di pertarungan melawan Kynigos lain yang ga bagus. Gue akui penjelasannya bagus disini.

Setelah itu, kita disuguhi flashback soal kenapa Ardeline bisa jadi Kynigos. Dari sini muncul keanehan. Ardeline sekolah di Aster Arts & Sports School (AASS) di jurusan Akrobat, dan kita dikenalkan pada teman baiknya, Roven, saat Deline membuat rekor akrobat baru dan nilai A+ yang sangat mengagetkan sampai-sampai Roven, yang cewe, nyium Deline. O...kay. Terus Deline disini kena sial berulang-ulang, dan puncaknya adalah ketika ada yang buka pintu kendaraannya ga liat-liat sampe pintunya nabrak Deline. Dan ternyata.... jengjengjeng... muncullah Pahn. Yang deskripsi penampilannya sampe satu paragraf panjang hampir satu halaman. As you may expect, romansa langsung muncul meski bagusnya belum terlalu shameless/blatant/k3jU (dikit sih, tapi masih cukup ringan untuk ditolerir/diabaikan). Tiba-tiba aja Pahn ngajak Deline pulang bareng (dan tiba-tiba aja Deline setuju) dan tiba-tiba lagi Pahn ngasih Deline liontin dan bilang "Kalung ini adalah tanda bahwa kamu telah menjadi seorang Kynigos."

DAN DELINE LEBIH CONCERN KARENA DIA BARU PERTAMA KALI DIKASIH LIONTIN SAMA COWO ALIH-ALIH NANYA KYNIGOS ITU APA DAN KENAPA PAHN MILIH DIA?

Habis itu ternyata mereka menuju ke rumah Pahn, dan gue disodori infodump panjang soal rumah Pahn (iya, dijelasin sebelumnya kalau dewa cuma mau menunjukkan diri ke orang-orang tertentu tapi dia seenaknya bikin rumah gede gini. Oh well, toh bisa aja dia pake rumah itu pas turun ke Aster doang) yang naujubileh gedenyeee udah persis rumah-rumah di sinetron dangdut Indosiar bok. Disini gue berpikir, apa editornya salah ngedit sehingga ada bagian dari buku soal arsitektur nyempil kesini dan ga keedit lagi? Eh ternyata engga. Pahn langsung nyuruh seseorang ngebersihin dan ngedandanin Deline sampe cantik.

DAN DELINE LEBIH KAGET SOAL ITU DIBANDING KAGET KARENA GA ADA ANGIN GA ADA UJAN DIBAWA KE RUMAH ORANG YANG BARU DIA KENAL BEBERAPA JAM YANG LALU?

Akhirnya gue dijelasin soal Kynigos dan turnamen itu (lagi) dan plot pun maju ke pertarungan pertama, antara Deline vs Amalfi (dan dewanya, Eo). Ya, Pahn ga mau bertarung bareng Deline. Jadi... dia ingin White Life hadiah turnamennya itu, dia milih Deline sebagai Kynigos, tapi dia boro-boro mau tarung tapi malah nyerahin pertarungan ke Deline sendirian? O... kay. Bisa ditebak, Deline kalah. Fast-forward, Deline tiba-tiba terbangun di rumah Pahn dan sadar kalau dia baru aja menang kemarin. Yap. Ternyata Pahn nyelametin Deline di menit terakhir doang. O... kay. Terus Deline saking keselnya nyoba nyekik Pahn (Tapi dia ga bisa mati, of course, dia kan dewa) dan lanjut ke pertarungan lain dimana Deline ternyata berhadapan sama Roven, yang tanpa bertarung langsung nyerah ke Deline. Oh, jangan lupa setting penyerahan ini di kota yang ada gereja tuanya.

>Dewa-dewi
>Gereja

O... kay.

Deline balik ke sekolah (seriusan, ini anak ga punya ortu atau rumah kali ya? Bisa-bisanya aman-aman aja tanpa pikiran apapun tinggal di rumah Pahn) dan sama Roven diajak minum jus jeruk di tenda milik... Savonarola, alias Avon. Jengjengjeeeng! Ya, lagi-lagi deskripsi penampilannya satu paragraf panjang hampir satu halaman. Deline di dalam hatinya ngebandingin si Avon ini sama Pahn, dan Roven ternyata bisa nebak hal itu dengan tepat. As you may expect (lagi), Roven mencoba meyakinkan Deline kalau Pahn itu lovable. Saat itulah ternyata terkuak fakta bahwa Avon juga Kynigos-nya Pahn, sedangkan satu dewa cuma boleh dapet satu Kynigos, sedangkan Pahn sendiri ga tahu apa-apa soal ini karena dia keukeuh ngomong kalau dia cuma milih Deline.

Nice, baru aja gue mau drop.

Amalfi dan dewanya Eo, serta Roven dan dewanya Castor & Pollux (ya, benar sekali, Kynigos ga boleh dua tapi dewa boleh dua) langsung ngumpul. Rupanya kalau ada dua Kynigos yang satu harus didiskualifikasi, dan karena Avon udah ngumpulin lebih banyak zodiak (FYI, liontin itu fungsinya buat nge-store up zodiak yang udah diambil dengan ngalahin/dapetin Kynigos lain yang punya zodiak) maka Deline ngalah. Ingatannya soal Kynigos dan dewa-dewa ini dihapus Zeus... dan kita masuk ke bagian kedua. Sampe sini gue masih penasaran.

Deline di bagian kedua ternyata balik lagi (entah gimana, ga ada yang jelasin kalau hilang ingatannya jadi travel back in time loh) ke hari dimana dia ketemu Pahn, pas dia mau bikin rekor akrobat. Disini bedanya Revon ga nyium dia dan Pahn ga langsung ketemu dia. Oh, penjelasan penampilan Ardeline munculnya disini, dan satu paragraf panjang hampir satu halaman (lagi). Disini handling mulai membaik, Pahn bisa nganter Deline pulang lagi (sekarang Deline ada alasan yang ga gitu weteep meski flimsy : dia kena deja vu akut dan penasaran super sama Pahn) sayangnya...

Ya, anda benar! Plotnya jadi cinta segitiga antara Deline, Pahn, dan Avon! Sumpah gue sendiri ga nyangka se-keterlaluan ini beloknya. Ini lebih seperti genre shift dibanding nambah genre. Long story short, akhirnya Deline nemuin lagi ingatannya. Disaat keadaan mulai genting karena rasa takut akan datangnya Zeus buat ngehapus lagi ingatan Deline... Zeus beneran datang dan bilang kalau ternyata Deline beneran masih satu-satunya Kynigos Pahn yang sah, dan Deline menang! O... kay. Ternyata Avon itu Eros, anaknya Aphrodite yang jadi wakilnya Aphrodite ikut pertarungan ini dan dia ngasih semua zodiak yang dia dapetin ke Deline karena dia suka sama Deline. Hasilnya, Deline menang. Dan ternyata, buat nge-resolve masalah forbidden love antara Deline dan Pahn, Zeus ngeralat kalau hadiahnya bukan White Life, melainkan White love, dan karena restu dari Zeus didapat masalah pun selesai!

Notice something? Inget ga kalau tadi Avon ngasih semua zodiak yang dia dapet ke Deline karena rasa cinta? Woi, kenapa lo malah ngemulusin jalan rival lo? Apalagi Avon ga terlalu keliatan menyerah tuh. Dafuq dah. Granted, ini ga terlalu major karena bisa aja Avon cuma pengen Deline bahagia (I know it's cliche, but at least it got some logic in it).

Abis itu, ternyata Titan yang di-infodump di awal cerita muncul jadi musuh yang berontak, keluar dari Tartarus, nerakanya mitologi Yunani. Zeus manggil semua Kynigos dan semua dewa-dewi Olympus buat lawan mereka. Disini mulai ga jelas. Ada problema cinta baru soal masa lalu Pahn dengan Athena. Banyak dewa-dewi yang disebut namanya doang, ga dijelasin siapa, jadi gue ga tahu Antares tugasnya apa, Demeter tugasnya apa, Ganimede tugasnya apa, dan laen laen. Asklepius aja gue bisa tahu karena kebetulan pernah baca soal pesan terakhir Socrates si filsuf sebelum meninggal. Yah, it's not that big of a problem... dan kita masuk ke problema sebenarnya : pertarungan lawan Titan. Pertama muncul naganya para Titan, Taifun. Deline yang ternyata punya akal ngalahin dia pake garam banyak-banyak karena spekulasi dia kalau naga itu salah satu jenis ular. Masih oke, akhirnya muncul juga Titan-Titannya, Kronos dkk. Oh, mau tahu dikalahinnya pake apa? Dengan menghina Titan-Titan itu "Kalian udah kekurung ratusan tahun, muka dan tubuh kalian jelek dan keriput!"

ASDASDASDASDASDASD

Keaknya si penulis lupa ngikutsertain dewa logika disini.

Sebenarnya ga sesimpel itu juga, tapi beneran, itu intinya. Pertarungan lanjut ke Tartarus dan dengan cepat akal Deline bisa ngalahin semua Titan (not bad sih disini, meskipun ga bagus-bagus amat juga) dan segera kita disuguhi ending khas FTV yang nerangin kalau masa lalu cinta Pahn sama Athena yang dari muncul aja udah half-hearted sebenarnya salah paham.

Datar.

Rating : 1/5

Karakterisasi

Sebenarnya Ardeline sendiri ga terlalu buruk. Sifatnya sebagai gadis yang rempong lumayan terlihat dari sikap dan cara dia bernarasi saat bagian stream of consciousness di awal. Pahn agak kurang jelas. Kadang beneran menyebalkan tapi seringkali lebih ke biasa-biasa aja. Avon/Eros sendiri agak gimana... gitu meski not bad aja. Revon rempong juga. No, soal karakterisasi, di sifat sih ga buruk-buruk amat. Mungkin lebih di sikap yang pada dafuq inducing, dan itu udah gue jelasin di jalan cerita. Sayangnya, ga ada yang bisa bener-bener bikin simpati. Mungkin Ardeline, tapi cuma di beberapa tempat.

Rating : 2/5

Penulisan & Diksi

Bagian yang beneran bikin gue mau muntah dan ga jadi ketawa tiap ada momen Narm. I mean, come on, dari awal dijelasin kalau Bumi bukan Aster, dan bahasa Aster kuno juga nantinya dijelasin persis bahasa Yunani, TAPI KENAPA BANYAK BANGET BAHASA INGGRIS YANG NONGOL DI DIALOG SAMA NARASI 1ST POV DARI SI DELINE? ASDASDASDASD beneran, itu killer. Simply kills every enjoyment and good things that remained in this story. Sumpah, suaranya jadi terdengar keak gadis Jakarta kosmopolitan gahol yang nyasar. Gini deh lagipula. Asumsi gue, in-universe ini terjemahan dari bahasa Aster ke bahasa Indonesia. Get it? I assume Deline dan narator 3rd POV ini bicara ke kita dalam bahasa Aster. Dan dialognya juga dalam bahasa Aster. Tapi kenapa, oh, kenapa coba banyak banget istilah bahasa Inggris dari yang susah diterjemahin keak incest sampe yang bener-bener ada padanan bahasa Indonesia yang gampang keak urgent, good job Ardeline!, sampe ber-piercing? Belum lagi ini beneran hampir tiap halaman di-spam sama bahasa Inggris yang ga nyambung ini. Come on, Bumi bukan Aster, beneran ada Bumi dan Aster in-universe, tapi karakternya ngomong pake bahasa Inggris yang jelas-jelas bukan bahasa planet Aster? DAFUQ?

Rating : -1/5

Faktor Kepuasan

Tadinya, kalau aja penulisannya ga semengecewakan itu buat gue, bakal ada sedikit faktor kepuasan disini setidak-tidaknya tiap ketawa pas ada momen Narmy. Sayangnya gue ngetawain aja engga.

No Factor

Total : 1/5

Verdict : Belum setara dengan legenda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar