Minggu, 17 Februari 2013

[Resensi] Garuda Riders

Review by dantd95

Judul : Garuda Riders
Pengarang : A.R. Wirawan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2013
Genre : Fantasy, Adventure
Tebal : 325 hlm.
Series : The Adventures of Haruhi Suzumiya Wanara, #1

Ya, izinkan gue berterima kasih dulu pada siapapun itu pengelola atau arranger rak-rak buku di Gramedia Depok. Dia punya dedikasi pada fiksi fantasi lokal dan juga komik lokal. Buktinya, buku fiksi fantasi lokal dari yang lumrah semacam Vandaria Saga, yang baru seperti Garuda Riders ini, sampai yang agak obscure macam Summonster dan Camelot & Rucastle semua ada. Oh, dan komik lokal dapet rak sendiri. Kurang keren apa coba?




Oh well, dan waktu itulah gue beli buku ini (bersama komik lokal yang bagus berjudul Cermin Putih, yang reviewnya segera menyusul) yang sukses berkontribusi menjebol dompet gue. Well, mau gimana lagi, cover yang mengkilap itu bikin gue penasaran. Dan endorsement-nya ga tanggung-tanggung bok, dari motivator yang lagi naik daun. Mari kita kutip kata-katanya :

"Saya sangat menyukai novel ini. Seru dan penuh hikmah."

Apakah kata-kata itu terbukti? Ataukah kata-kata itu hanya seperti endorsement lain yang sekarang lumrah adanya, yakni lebay? Mari kita lihat.

(WARNING : Gue pedes bukan semata-mata ingin pedes apalagi niat menghina. Gue cuma ingin penulis memperbaiki skill dan eksekusi penulisannya)

Originalitas & Konsep

Di ranah ini, sebenarnya dunia yang disajikan cukup orisinil dan punya potensi untuk menjadi dunia yang benar-benar unik. Konsep dunianya mengambil dari dunia pewayangan, namun alih-alih berfokus pada Mahabarata dan Ramayana saja, dunia di novel ini mengambil kisah Ramayana sebagai "akar"nya, dan kejadian-kejadian di Ramayana disebutkan terjadi 1000 tahun sebelum cerita ini dimulai (jadi tak ada Rama, Sinta, lebih-lebih Arjuna. Hanoman disebutkan belum mati tapi kalau tidak salah). Meskipun ini mengambil basis pewayangan, namun bentang alamnya sama sekali bukan India, melainkan Kepulauan Varadwipa yang terdiri dari beberapa negara yang berbeda, di antaranya Alengka dan Ayodhya. Ras-ras yang ada pun bermacam-macam dan krusial dengan jalannya cerita, diantaranya wanara (kera keturunan Hanoman), asura (keturunan Rahwana bertelinga lancip dan bertaring), dan mannusa (keturunan Rama, manusia). Ya, disini juga ada makhluk-makhluk yang nyeleneh seperti makhluk berkepala singa dengan mahkota di kepalanya dan berbelalai gajah dan bersayap garuda dan bersisik ikan. Ya, gue serius.

Sayangnya, kemenarikan dunianya tidak berimbang. Entah kenapa, penulis memutuskan untuk mencampur nuansa "djadoel" dari istilah-istilah dengan bahasa Sanskrit (langkah, sidu, mudra, dsb) dengan istilah-istilah dari jaman modern yang akarnya dari bahasa Romantik/Germanik Eropa, dari yang mild case seperti positif dan evakuasi (ya, ini di dialog) sampai yang beneran bikin jengah seperti Republik dan Presiden (setiap kata-kata ini disebut di buku, di bayangan gue tiba-tiba garuda jadi pesawat terbang didandanin bulu dan wanara jadi sekelompok maniak cosplay). Bukannya apa-apa, memang ini dunia imajinatif dan bukan tahun 270 SM di muara sungai Indus, tapi penulis lupa mengelem dua elemen yang jauh berbeda ini menjadi satu. Terasa mengawang jadinya, dan orang-orang yang ada di cerita ini kadang terasa OOTiP (Out of Time Period) apalagi disebutkan bahwa baru 1000 tahun setelah era Ramayana. Teknologi di dunia ini juga agak mumbo-jumbo (terutama gelang Kundala Vedi yang disebut "menyimpan data", iya gue ga bisa liat apa yang salah cuma it feels a bit off aja buat gue pribadi) dan kurang ada koherensi.

Dan jangan bikin gue ngomong soal premis ceritanya. Jangan, pokoknya jangan (More on this later).

Rating : 3/5

Jalan Cerita

Sebelum membahas kita lihat dulu summary di blurb yang gue persingkat : "Naradja yang anak petani ubi ditarik ke Akademi Angkatan Udara Kurmapati karena bisa berbahasa garuda. Dia mendapat mimpi buruk mengenai kehancuran di bumi Varadwipa dan hanya delapan elemen hasta brata yang mampu mencegah mimpi itu terjadi. Maka dia bersama teman-temannya memulai perjalanan tanpa izin untuk mencari delapan elemen itu menunggang garuda."

Sumpah, Bab 1 itu keren. Ceritanya, soal Bimata yang berkhianat dari organisasi anti-asura karena menikah dengan Dewi Locita yang asura, bersama kedua anak mereka Durta dan Anindya dikejar oleh organisasi itu, yang dipimpin Katunara. Pertarungan yang amat seru terjadi, dan mereka berhasil kabur. Sampai sini, my hopes are high. Soaring high.

Dan fokus kita langsung berubah, melompat jauh baik waktu dan ruang pada sebuah keluarga petani ubi di Ayodhya. Narapati sang ayah, Anindya sang ibu, dan Naradja, sang anak sekaligus tokoh utama kita. Naradja ini ngebet pengen masuk akademi militer angkatan udara (nunggangin garuda, bukan pesawat terbang. tapi tiap kata Republik dan/atau Presiden disebut langsung berubah jadi pesawat dibuluin) yang cukup dekat dari rumahnya. Ayahnya melarang (karena ayahnya ini pernah terlibat perang juga, bersama Bimata dan takut Naradja bernasib malang seperti Bimata (yang akhirnya mati juga dibunuh Katunara)), Naradja kesal dan mengurung di kamar. Saat itu Naradja mimpi buruk, melihat kehancuran di bumi Varadwipa.

Tapi tiba-tiba kesempatan itu datang saat kebetulan Narapati dan Naradja sedang mengantarkan ubi hasil panen ke akademi untuk dijual sebagai pakan garuda dan orang-orang. Saat itu seorang murid, Laksmi, kesulitan mengendalikan garuda seniornya. Rupanya Naradja bisa bahasa garuda, dari darah kakeknya, dan menolong Laksmi mendarat dengan membujuk si garuda. Marsekal Badawang yang melihat kejadian itu langsung menarik Naradja ke dalam akademi, yang sebenarnya sangat sulit untuk dimasuki orang (ditambah Naradja tidak sekolah karena orangtuanya takut garis darahnya diketahui organisasi anti-asura itu) dan dia langsung masuk tingkat 2. 

Woo, kurang convenient apa bok. Padahal bahasa garuda ga terlalu keliatan sesulit conlang di novel Embassytown (yang sampe harus bikin orang kembar dengan satu pikiran hasil rekayasa genetik semata-mata untuk jadi penerjemah bahasa aliennya. Oh, gue belum bilang ya kalau bahasa alien itu persis bilangan pecahan, cuma isinya kata2?) dan karena sebelum Naradja kakeknya juga bisa berbahasa garuda, apa sih yang bikin bahasa garuda ga bisa diajarin ke orang-orang? Ga selangka (dan lebih berguna dari) bahasa ular di HarPot kan? Gue bingung, sumpeh.

Oke, mari kita biarkan lubang itu dan lanjutkan ceritanya. Akhirnya, Naradja dimasukkan ke dalam tim yang terdiri dari Lembu Kendil si lembu tinggi besar gendut, Laksmi yang tadi, yang sama-sama wanara, Baning si kura-kura cucu Marsekal Badawang, dan Malore si harimau. Mereka pun menjalani hidup yang riang di akademi militer bersama....

Notice something?

Akademi militer disini lebih mirip jam pelajaran kesehatan jasmani di pesantren, serius. Ga ada disiplin-disiplinnya sama sekali. Apanya yang militer coba? Apa pengarang terlalu terkenang sekolah-sekolah seperti Hogwarts sehingga lupa kalau akademi militer itu ada kata militernya yang disematkan? Memang ada kemungkinan Ayodhya ini terlalu rileks seperti Alengka tetangganya, tapi kalaupun begitu baru ada flashback yang nunjukkin baru beberapa puluh tahun lalu mereka berperang, oi! Masa' sih ingatannya masih ga ada di kalangan petinggi seperti si Marsekal itu? Gah, lagi-lagi gue bingung. 

Dan habis bagian ini, bagian cerita selanjutnya sampe tengah-tengah cerita adalah school life. Murni school life. Sampai titik pertengahan buku ini. Beneran gue gemes. Di blurb udah jelas inti konfliknya menemukan 8 elemen, sedangkan sampai titik pertengahan disebut di dalam buku aja belum, bahkan ga ada foreshadowing sama sekali. Ini berasa makan masakan isinya bumbu doang tanpa bahan dasar. Coba aja ambil daun salam atau serai dari dapur terus makan mentah-mentah. Sepet.

"Tapi kan ini trilogi!"

Sori sori aja, gue bukan tipe orang yang bakal baca sebuah trilogi atau lebih kalau dibilangin "Sabar aja bro, soalnya emang konflik utama yang paling rame adanya di buku ketiga." Yang ada gue malah "Heh, jadi gue harus baca 2 buku yang ga rame biar nyampe ke bagian ramenya, gitu?" 

Untung aja buku fantasi Indonesia belum setebel buku-buku fantasi luar *lirik ASOIAF*. Nah, dan gue selebay itu bukan semata-mata karena bagian school life nya sebanyak itu. Gue pernah bilang di post-post sebelumnya kalau premis itu ga masalah, yang penting eksekusi. Masalahnya disini eksekusinya gitu-gitu aja. Ada bully-rival lah, dia ngejek si tokoh utama mulu lah, tokoh utama dapet garuda yang kurang bagus karena kasihan lah, dia jadi susah-susahan karena hal itu lah, dsb dsb dsb.

Kalau ini buku anak-anak mendingan ga usah pakai endorsement yang kesannya universal gitu, Mas. Dan ini buat semua endorsement, bukan satu yang di depan doang, ada banyak endorsement (dan ada yang tepat menyebutkan kelebihannya).

Akhirnya satu tahun berlalu dan tokoh utama kita kembali mengalami mimpi buruk yang sama dengan di awal cerita. Habis bangun, dia mikir "Kenapa ya bisa bermimpi yang sama?" sampai dipikir-pikirin dengan cemasnya. Abis itu ada lomba balap garuda dan entah karena apa Gagani, garudanya Naradja, ngamuk dan Naradja terlempar jauh ke sebuah bukit.

Di situ, Naradja ketemu seorang bernama Radu. Naradja terus kepikiran mimpinya ini dan berspekulasi kalau mimpinya jadi kenyataan pada Radu.

Woi, baru mimpi dua kali dengan interval yang panjang amir (setahun!) aja udah keak PMS gitu lo! Lebay tau gak sih!

Dan gilanya lagi, Radu malah meyakinkan kalau mimpi itu bisa aja jadi kenyataan, bahwa di mimpi itu Naradja sendiri yang membawa kehancuran, dan untuk mencegahnya ia harus mengumpulkan 8 elemen hasta brata yang tersebar di seluruh Varadwipa. Beneran, apa sih urgencynya? Mimpinya masih belum pasti gitu juga. Eh sori, bener mimpi itu pasti jadi kenyataan. Itu kan mimpinya tokoh utama. Mimpi tokoh utama pasti ada hubungannya dengan cerita, ya kan? Ya kan? Ya kan? Ya dong, soalnya dia kan tokoh utama! Hehe :->

Habis itu, Naradja balik. Dan bisa tebak? Dia ngajak temen-temennya itu nyari 8 elemen bareng dia. Woi! Mimpi mimpi lo juga malah bawa-bawa orang lain! Mentang-mentang mereka jadi korban di mimpi lo, terus mereka harus tanggung jawab juga gitu? Yaudah gue maklumin sih, si Naradja ini kan masih remaja dan gue ngerti takutnya perjalanan sendiri doang. Cuma apakah itu hal yang benar bawa-bawa orang ke masalahnya lo? Mengancam nyawa mereka? Eh tunggu, ini kan tokoh utama. Pasti mereka jadi pahlawan dong di akhir trilogi, makanya mereka harus ikut! Hehe :->

(Iya, gue ngerti ini ada gamenya tapi at least pake alasan yang lebih bagus dong. Buku beda dengan game, buku ga mempertontonkan gameplay)

Apalagi soal alasan, tahu gak alasan yang dipakai Naradja buat ngebujuk mereka?

"Keren-kerenan!"

Ya, dan mereka masih mau aja ikut (mereka sempat protes tapi bentar doang). Nah, cerita pun dilanjutkan dengan mencari 8 elemen yang tersebar di negara-negara berbeda. Sebenarnya ada potensi worldbuilding yang bagus di sini, karena mereka bertemu makhluk-makhluk outlandish dan tak lazim. Sayangnya tidak dimanfaatkan dengan baik. Banyak makhluk yang mestinya bizarre jadi "oh, gitu ya" doang. Pencariannya sendiri? 

Karena setengah dari buku ini udah habis buat school life klise tadi, maka pencarian 8 elemen dipaksain masuk ke setengah sisanya. Hasilnya jelas. Jelas-jelas ga jelas. Kebanyakan garing, kurang seru. Malah ada adegan yang entah kenapa buat gue pribadi aneh, saat tokoh kita menemukan wanara kepiting (bercapit kepiting) di laut, sedangkan sebelumnya ada adegan makan kari kepiting. Habis baca itu, gue ga akan kaget kalau di sekuelnya ada blasteran mannusa-ubi. 8 elemen ini juga jadi berasa kurang penting. Ditambah lagi "modernitas" yang diumbar-umbar di endorsement itu ternyata...

"Dari Ayodhya?" gumam Makara. "Terus aku harus bilang 'wow' gitu?" (h. 226)
Makara berpikir dengan ekspresi yang dibuat buat. "Duuh, kasih tahu gak ya? Kasih tahu gak ya?" (h. 227)

Riiiiight, modernitas itu digambarkan dengan tepat dalam bentuk cosplayer berkostum gajah-ikan nyasar dari studio Dahsyat yang lagi diving. Bloody precise. Marvelous!

Long story short (atau short story short?) akhirnya mereka berhasil mengumpulkan ke-8 elemen ini (disini sebenarnya ada yang menarik soal sifat Naradja yang mulai terkorupsi) dan rupanya... jeng jeng jeeeng... tiba-tiba Katunara si villain (yang sebenarnya keren abis karena dia leak! Kapan lagi ada villain leak?) muncul menantang si Naradja yang kali ini kejebak sendirian. Dan pertarungan yang epik terjadi meskipun gue sendiri udah keburu capek karena ceritanya, yah, gitu. First half melelahkan, second half terasa kurang penting. 

Akhirnya Naradja menang dan ngebunuh Katunara (sebelum ini juga mereka ngebunuh orang yang mau ngambil hasta brata yang mereka punya tanpa remorse ataupun kegalauan sedikitpun (!) mereka kan baru 17-18 tahun. Dimana-mana, orang pertama kali bunuh orang lain tetep ada grief yang menyeruak (kecuali dari budaya yang memang melibatkan membunuh sebagai proses pendewasaan laki-laki seperti budaya Viking atau Sparta), beneran, kecuali otaknya udah konslet. Masa ga ada sama sekali? -___-) dan habis itu, cerita ending dengan cliffhanger yang menunjukkan bahwa hasta brata itu harus dibawa ke Alengka untuk diberi kekuatan, Radu sebenarnya Dutra paman Naradja (udah ada foreshadowing yang jelas sih dari pertama bertemu) dan bahwa Katunara masih hidup. Apakah cliffhanger ini menggoda gue buat baca sekuelnya? Seems not.

Rating : 1/5

Karakterisasi

Ini bagian yang ga parah-parah banget. At least, ga separah ceritanya. Meski ada yang benar-benar OOTiP seperti Makara si gajah-ikan itu, tim Naradja-Laksmi-Baning-Malore-Lembu Kendil cukup like-able. Meskipun setelah gue tahu desain karakter Laksmi seperti apa sih...


Gue ga akan kaget kalau di sekuelnya ada Endless Eight.

Untung sifat tsunderenya bisa bikin gue agak toleran soal orisinalitas yang sangat inovatif ini. Meskipun begitu, kadang sifat mereka mengawang, terutama Baning dan Malore. Tapi anehnya ketertarikan Malore pada Laksmi (yang udah jelas tsundere pada Naradja) malah memberi si harimau ini sedikit karakteristik beda. Untung lagi karena akhirnya semuanya jadi distinctive, meskipun ga sampe unik banget. Walaupun begitu, gue tetep ngasih poin rendah karena modernitas si gajah-ikan itu dan karena "pengaruh besar" dari Haruhi Suzumiya di desain karakter Laksmi.

Rating : 2/5

Gaya Penulisan dan Diksi

Gue tadi udah sebutin di atas kalau pengarang kurang mengelem sisi kewayangan dan sisi modern yang ada. Memang permasalahan di gaya penulisan pengarang bukan karena terlalu jelek atau terlalu mendikte. Permasalahan ini lebih ke reliance to tell instead to show dan yang paling krusial, kurangnya elaborasi. Dunia di proyek multimedia (ada komik interaktif, game, dan animasinya juga) The Adventures of Haruhi Suzumiya Wanara ini punya potensi yang benar-benar besar untuk jadi sangat unik, distinktif, dan mantap tenan. Sayang banget, elaborasi pengarang kurang. Jadi dunianya ga bisa terlalu nikmat untuk gue baca. Semoga aja di bentuk-bentuk yang lain dunianya bisa lebih terlihat kaya.

Soal diksi sendiri, gue kurang suka diksi pengarang yang modernnya agak keterlaluan itu. Dari yang semacam Republik dan Presiden, sampai dialog gajah-ikan tadi, dan kata-kata modern yang ditaburkan di dialog seperti positif, evakuasi, bahkan kata yang mengarah ke postmodernis seperti data. Mungkin diksinya dimasukkan biar lebih accessible, tapi kalau kualitas dan nuansa dunia dikorbankan untuk aksesibilitas? No, I'm not amused.

Rating : 2/5

Faktor Kepuasan

Gue baca ini sampai capek karena banyak hal yang terasa tidak penting (dan ketidaksukaan gue akan diksinya). Gimana bisa puas.

No Factor.

Saran buat penulis? Elaborasikan lebih banyak. Bayangkan anda adalah pelukis, dan halaman kosong itu kanvasnya. Lukis adegan-adegan yang ada, jangan hanya ceritakan. Ingat juga meskipun ini fiksi, dan meskipun fiksi ga mungkin jadi realita, tetap ada unsur believability dan verisimilitude (kemiripan dengan yang sebenarnya). Pohon di dunia nyata dan dunia Wanara ini boleh beda. Pikiran orang-orangnya? Kalau tidak ada penjelasan yang mumpuni, harusnya sama atau mirip-mirip. Kalau ada penjelasan dan memang disengaja sih bisa aja.

Total : 2/5

4 komentar:

  1. "Tapi kan ini trilogi!"

    Sori sori aja, gue bukan tipe orang yang bakal baca sebuah trilogi atau lebih kalau dibilangin "Sabar aja bro, soalnya emang konflik utama yang paling rame adanya di buku ketiga." Yang ada gue malah "Heh, jadi gue harus baca 2 buku yang ga rame biar nyampe ke bagian ramenya, gitu?"


    waha... gua paling suka bagian ini. Setuju, emang kalo sekuel berpotensi bagusnya di buku2 terakhir. tapi kan di buku pertama harusnya jadi titik yang menarik biar pembaca mau lanjut ke buku berikutnya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itu. Meskipun emang buku terakhir itu bagusnya semacam "delivering the final blow" tapi dari buku pertama udah harus ada "hook" yang bikin pembaca nagih dan penasaran. Disini lagi-lagi kurang, seengganya buat gue sih karena orang lain ada yang penasaran kok.

      Hapus
  2. wogh sasuga dant0d... eh btw itu si wanara kenapa mata nya bisa sampe heterocromia gitu sih ?

    dan nggak ada unsur imouto brocon nya ah.. kuciwa ane..

    BalasHapus
    Balasan
    1. ga dijelasin juga -.-
      curiga karena darah campuran asura-mannusa-wanara nya sih, tapi beneran di narasi ga ada perasaan yang jelasin warna matanya.

      naradja anak tunggal dan ga ada osananajimi orz

      Hapus