Selasa, 26 Februari 2013

[Resensi] Arassi

Review by dantd95

Judul : Arassi
Pengarang : Icha Azania dkk.
Tebal : 245 hlm.
Penerbit : Ufuk Fiction
Genre : Fantasy, Sci-Fi

Sebenarnya menulis cerpen itu jauh lebih gampang dibanding menulis novel. Seengga-engganya buat gue dan orang-orang yang gue tahu. Cerpen itu ga harus berpanjang-panjang bikin otak keringetan mikirin kausalitas ekstensif, ga usah pake konflik banyak-banyak, tokohnya juga biasanya bisa diitung jari, belum lagi namanya cerita pendek jadi bikinnya ga lama.

Maka, pas buku ini nongol di Gramedia, tanpa ragu Shengar langsung nyamber buku ini karena kami berdua setuju dengan poin yang gue sebutin di atas sehingga reaksi kami jadi "Wah, kumcer nih! Keaknya bagus! Toh kumcer-kumcer fantasi lokal kan kualitasnya secara general masih relatif lebih baik dibanding novel-novelnya!"

Jadi, kenapa malah gue yang bikin review Arassi? Mari kita dengarkan transkrip suara Shengar bersama-sama :


"%^%$#%^#$%#$@@#@#$@#!!!!#$@%@$#! Ilustrasi apaan ini $%#$%@! Sotosop @#$@#!@$%%% Plagiat @#$@#!$@#%$!~~!#$!#!!!!"

Ya, bisa dibilang dia orang yang sangat... er, 'highbrow' soal ilustrasi. Dan ngomongin ilustrasi, bukan cuma dia, kesan pertama gue aja "Ini buku apa banget sih? Ga usah pake ilustrasi sekalian kalau jatuhnya begini." gitu. Maaf, tapi beneran momen-momen Narm selalu menyertai dimulainya cerita baru gara-gara ilustrasi yang... yah, yang bukan ilustrasi begitu. Bukan berarti gue ga menghargai penerbit tentu saja, tapi mohon dengan sangat karena ilustrasi bukanlah sebuah kewajiban, jadi jangan dipaksakan kalau jatuhnya... em, sedikit Dadaist wannabe.

Oke sekian buat ilustrasi, mari kita maju ke makanan utama.

Nora Antoine by Icha Azania

Originalitasnya... hmm, tak buruk. Meskipun tema umumnya sudah sering sekali dieksplorasi, tapi cukup orisinil juga soal kutukan itu. Soal jalan cerita, entah kenapa gue ngerasa kalau cerita ini seperti kena gunting. Dipotong-potong sama si penulis karena kurang memenuhi batasan kata (yang gue tebak paling di kisaran ~2000an)? #sotoy Kalau bener begitu, ini sebenarnya penyakit yang menghinggapi penulis-penulis di sekeliling gue, lol. Masalahnya adalah, pemotongan ini bikin ceritanya kurang 'greng'. Berasa ngeliat bapak-bapak yang numpang lewat mau ke kamar kecil di belakang rumah pas lagi tahlilan : Dapat perhatian tak terduga iya, membekas di ingatan engga.

Karakterisasi disini juga terasa datar. Ga ada simpati (apa karena kependekan?). Entah kenapa. Meskipun endingnya agak tak diduga dan lumayan pleasing. Gaya penulisan juga nothing special, not good not bad. 

Rating : 2/5

Kembali by Sani Nurahayu

Originalitas? Hampir nil. Gue udah sering sering sering sekali liat cerita dengan premis ginian. Soal jalan ceritanya, secara keseluruhan gue cuma agak pleased dengan endingnya, dan itu cuma agak. Udah sedikit sering 'twist' yang seperti ini, dan sisanya biasa-biasa aja. Ga bener-bener menarik. Bukan karena badwriting, melainkan karena sepertinya pengarang tidak berani untuk lebih banyak melakukan sesuatu yang beda (ending seperti itu tidak 'beda' lagipula menurut gue). Sekedar saran, Quentin Crisp pernah berkata "Originalitas itu bukan melangkah diagonal ketika orang lain melangkah horizontal dan vertikal." Karakterisasi juga terlalu archetype. Gaya penulisan? Biasa aja.

Rating : 1/5

83845 by Angela Oscario

Lumayan orisinil. Premisnya tidak terlalu belibet tapi menarik. Jalan ceritanya benar-benar memanfaatkan batasan kata yang sedikit dengan tidak terlalu bertele-tele dalam hal-hal yang kurang penting (mengingat batasannya) namun mampu menggambarkan dunianya secara spot-on tanpa basa-basi. Gue suka sekali bagaimana pemberian sebuah nama jadi simbolisme kebebasan bagi manusia (also, dat pun. lol) begitu pula karakterisasi yang cukup baik. Gaya penulisan? Tak usah ditanya, keadaan manusia di cerpen ini tergurat dengan baik sekali.

Rating : 4/5

Biru by Nastiti Denny

Putri raja? Check. Cewe dunia lain cinta cowo Bumi? Check. Orangtua agak represif? Check. Penasihat raja yang jahat? Check. Jalan ceritanya kurang memuaskan buat gue. Subplot romance dengan cowo Bumi itu berasa bener-bener tempelan doang, sumpah. Unnecessary. Belum lagi pengarang sepertinya kurang beradaptasi dengan batasan kata sehingga banyak deskripsi bertele-tele terus tiba-tiba plot maju cepat di klimaks. Ini surprise, tapi bukan surprise yang bagus. Karakter? Archetype abiezz.

Rating : 1/5

Mutiara Mimosa by Chen Chen

Harus gue akui, gue selalu ngebayangin pengarangnya nulis ini dengan dua gunting di tangan kiri sama kanannya. Entah emang pemotongannya parah atau emang nulisnya seperti ini, tapi kesan yang gue dapet adalah :

Muter muter bertele tele -> Tiba tiba maju cepet banget -> Muter muter lagi -> Tiba-tiba maju cepet banget

And on and on and on. Berasa gak jelas. Adegan Nadezhda nangis misalnya, gue malah ngerasa dia emo gara-garanya ga ada build up sama sekali sebelumnya. It's all so sudden. Bener-bener sudden. Pesan moral : Jangan memaksakan plot novella 25000 kata ke dalam cerpen <2000 kata. Pokoknya jangan.

Rating : 1/5

Wina the Witch by Ria Tumimomor

LOLOLOLOLOL ILUSTRASINYA PLAGIAT DRAGON AGE

Lagi-lagi, originalitasnya nyaris nil. Cewe penyihir yang nyembunyiin kekuatannya? Cek. Orangtua sekaligus mentor? Cek. Cewe populer tapi sombong binti sinis? Cek. Eksekusi ceritanya juga kering. Romansa maksa di akhir, kemudian konflik yang ada juga kurang... yah, kurang bedanya lah baik dari inti maupun eksekusi. Gaya penulisannya juga sayangnya ga membantu mendongkrak rating cerita ini di mata gue.

Rating : 1/5

Apa Arti Kebebasan? by Susanty Tandra

Originalitas, not bad. Endingnya pantes dapet poin plus karena cukup twisting, cukup membuat gue wow. Jalan ceritanya sendiri ga buruk-buruk banget juga. Cuma ada satu plothole pas si Profesor membuka tabung air si tokoh utama. Hello? Itu dia udah keliatan ngamuk-ngamuk di tabung. Kacamatanya ga dipake atau gimana ini para so-called ilmuwan? Karakterisasi juga kurang enak di tokoh utamanya, yang menurut gue bisa diperdalam lagi. Gaya penulisan biasa saja. Punya potensi, tapi eksekusi belum maksimal.

Rating : 2,5/5

Gelang Lelyard by Alexia DeeChen

Sebenarnya ini kisah yang sedikit disturbing. Lumayan orisinil terutama kejadian-kejadian tak terduga dan endingnya. Gelang Lelyard (dan Lelyardnya) terasa benar-benar seperti artefak dunia nyata, tidak seperti alat : sinister. Jalan ceritanya dikemas cukup menarik, meskipun awal-awal melelahkan (apalagi karena bau-bau klisenya di awal agak kuat, untungnya tidak terbukti) tapi makin menanjak hingga eskalasi dan ending yang bagus. Karakterisasi juga bagus. Gaya penulisan, nothing special. Overall quite decent.

Rating : 3,5/5

Jack & Unicorn by Rickman Roedavan

Dangkal. Itu yang gue dapet habis baca cerita ini. Endingnya tipikal bittersweet. Ceritanya ga jelek-jelek banget tapi dibilang bagus juga ga enak. Intended effect dari pengarang ga kerasa sama sekali. Ga membekas. Yang ini mirip ngeliat bus yang ada iklan minuman penyegarnya : "Oh gitu ya" doang. Mencapai titik ini, gue mulai capek. Beneran capek.

Rating : 1,5/5

Jantung Naga by Feby Anggra

Sebenarnya disini pasangan Sigurd x Filly lumayan nyambung. Sayangnya, dari awal endingnya bener-bener bisa diprediksi dengan mudah. Malah sebenarnya gue mengharapkan ending yang berbeda (karena kebanyakan cerita disini kuat endingnya mungkin) sayang endingnya persis seperti prediksi gue. Twist soal si naga lumayan bagus, dan diksinya patut dipuji.

Rating : 3/5

Malaikat Pemberi Luka by Ginanjar Teguh Iman

Entah gue sensi apa gimana, tapi pas gue liat judulnya yang terpikir itu 'malaikat' yang EMO dan g4l4u r14. Eh ternyata bener. It's not that i hate angst (after all i write angsty stories) tapi eksekusinya itu ga memberi sesuatu yang beda. "Gue-cinta-dia-tapi-kita-beda" ga ditelusuri lebih dalam atau ditambahin elemen lain lagi. Ngantuk gue baca yang ini. POV yang ganti-gantinya keseringan itu juga agak melelahkan. Belum karakter cewenya cuma seperti MacGuffin alias plot driver.

Rating : 1,5/5

Ray of Light by Fay Shalamar

Tar. Itu beneran vokalisnya Tokio Hotel di ilustrasinya? Ciyus?

Eng... menurut hemat gue, ini cerita yang paling jeblok di kumcer ini. Penulisannya terasa terlalu juvenil untuk cerita yang semestinya 'serious business' gini. Penggunaan onomatopeia nya juga bikin sakit mata, sebel, dan ngakak sekaligus saking k3jU nya. Oh, sori. Memang serious business disini terasa sangat sangat sangat tidak penting. Gimana engga kalau si tokoh utamanya itu tiba-tiba aja disebut Chosen One di tengah cerita tapi kerjanya cuma jagain satu berkas doang. Dan jangan lupa dialognya PENUH CAPS. Endingnya? Tabrakan sama cewe terus kenalan, a la anime. SERIUSAN.

Rating : 1/5

Sang Pemanah Fajar by Alfian Daniear

Gue ngakak dulu bentar ya. "Puisi" yang ada di awal cerita itu Narm abis. Parah lah.

Penyakit yang ada di banyak cerpen lain di kumcer ini kembali. Pacing jelek, batasan kata ga diperhitungkan dengan baik, all so sudden. Padahal gue suka ritual jadi Pemanah Fajar itu. Banget. Sayang lah seriusan, ngapain juga ada subplot tasteless soal peri? Ngapain? Batas kata udah tinggal dikit lagi baru dimunculin plotnya. Sayang banget padahal.

Rating : 2/5

The Jin by Shine Cyrus & Aoi Shinji

Cerita favorit gue. Lumayan orisinil, gue suka konsep sihir yang harus 'dihabisin' sama pemilik bakatnya. Jalan cerita bagus. Bagus banget. Gimana Hyu dan kakaknya ngelawan si jin, hingga ending yang saking bagusnya ga akan gue kasih spoiler disini, rapi sekali. Bagian yang paling gue suka tapinya tentu di karakterisasi. Sosok Hyu yang kekuatan sihirnya sangat potent tapi mau merintah jin aja harus disuruh kakaknya dan dikit-dikit penakut unik sekali. Sosok jin yang... agak eksistensialis (?) dan sifat genie-nya kerasa juga jadi favorit. Cerita yang terbaik di kumcer ini.

Rating : 5/5

Arassi by Anggari Purnama Dewi

Hm, entah karena gue capek atau cerita ini emang kurang nendang, gue ga bisa sepenuhnya enjoy bacanya. Meskipun emang wajar kalau jadi title story (dan keaknya pemenang) karena cerita ini memang tak buruk. Lumayan dapat pesannya. Mungkin karena kisah angel-in-love udah ada tadi, jadi gue kurang enjoy. Mungkin karena gue emang ga suka premis malaikat bisa jatuh cinta, jadi gue kurang enjoy. Atau karena bagian awalnya melelahkan. Meskipun gue suka gimana si Julian dapet epiphany pas nyaksiin drama manusia.

Rating : 3/5

Total : 2/5

Mungkin semacam afterword dari gue, kok gue makin prihatin ya sama kualitas fiksi fantasi Indonesia. I mean, ini pemenang lomba atau semua pesertanya? Kok bisa ada disparasi yang agak parah? Apa karena kurang exposure jadi yang ikut kurang banyak? Preferensi juri yang agak... "komersil"? Apa karena ekspektasi gue aja yang ngarep kalau hasil lomba ini sebagus Fantasy Fiesta? Entahlah.

Dan soal penulisnya, memang penyakit kok dimana-mana sulitnya adaptasi dengan jumlah kata yang terbatas. Tapi jangan sampai berontak terus ngotot pakai konsep yang terlalu 'wah' dan kaya. Ga usah kebanyakan grandeur. Ga usah bikin cerita 'totally epic east-to-west heroic quest to save the world' kecuali sepotongnya aja (meskipun hero's journey yang ga panjang-panjang amir masih bisa banget). Belajarlah menahan diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar