Minggu, 17 Februari 2013

[Resensi] Never Let Me Go

Review oleh Shengar
Judul: Never Let Me Go
Pengarang: Kazuo Ishiguro
Penerbit: Vintage Books
Genre: Romance, Dystopia, Speculative, Science-Fiction



Untuk tahun ini, guna menggejot semangat membaca, saya ikut Seraphium Reading Challenge dari Forum Buku Kaskus. Dan untuk nambah jumlah post pembanding, saya akan post review saya yang disana kesini dengan beberapa perubahan. Tapi kebanyakan copas jadi pasti ada penggunaan bahasa yang inkonsisten. Terima saja ya?
Review bulan Januari juga sebenarnya udah selesai, tapi karena kayaknya banyak bias karena buku itu salah satu bacaan pertama yang saya seriusi, munkin nanti-nanti aja dipos disini.

Saya awalnya membaca buku ini atas rekomendasi teman untuk SRC 2013 bulan Februari (tema: Romance) tanpa tahu menahu apapun sebelumnya. Bahkan saya orang yang biasanya suka mencari-cari tahu, tidak pernah mencari info nya lebih lanjut kecuali apa yang ditulis di Goodreads. Bisa bayangkan betapa terkejutnya saya ketika melihat Dystopia sebagai genre-nya setelah merasakan banyaknya keanehan untuk sebuah novel Romance. Kejutan yang menyenangkan sebenarnya.

Saya belum pernah membaca karya Kazuo Ishigur sebelumnya, jadi tanpa tahu menahu gaya penulisan atau penceritaannya saya terjun kedalam Never Let Me Go (sebenarnya alasan saya ngambil buku ini juga karena pengarangnya BERNAMA Jepang, sampai ternyata saya tahu ternyata dia bukan benar-benar Jepang).

Di awal-awal, ketika saya belum tahu apa-apa (termasuk genre aslinya) saya merasakan pacing cerita yang sungguh lambat. Beberapa detil cerita yang dinarasikan oleh Kathy tentang masa lalu banyak sekali yang saya anggap remeh. Walau beberapa kali ada keanehan yang janggal, namun itu belum benar-benar saya hiraukan karena Kathy sendiri menarasikannya seolah hal itu biasa.

Dengan sedikit curiga-curiga, saya terus membacanya sampai akhirnya sampai dengan bagian yang merevelasikan hal yang cukup besar. Dari situlah cerita jadi terlihat sangat berbeda dari sebelumnya. Cerita ini, walau saya jarang membaca genre tersebut, mungkin bisa dikatakan cukup tidak biasa

Kazuo Ishiguro memang sangat apik dalam menuliskan ceritanya dalam narasi sudutu pandang orang pertama. Tulisan di backcover yang menyatakan bahwa ini cerita tentang “innocence” memang tidak salah. Suara Kathy sebagai narator benar-benar tampak “inocence” dan semakin menambah kedalaman dari karakter Kathy setelah kita mengetahui misteri terbesarnya (walau agak jauh sih). Karena itu juga, walaupun sudah banyak foreshadowing, dystopia dari cerita tidak pernah benar-benar terlihat secara gamblang.
Disini juga saya mengatakan Never Let Me Go itu merupakan cerita menarik. Kazuo Ishiguro mengambil jalur yang berbeda dalam bercerita mengenai dystopia. Dia tidak memberikan kita kisah tentang pemerintahan yang begitu represif, mengatur semuanya atau pemerintah yang memutar balikkan fakta dan membodoh-bodohi rakyatnya demi keteraturan semata. Bahkan Kazuo Ishiguro juga tidak tertarik untuk menceritakan misalnya pahlawan muda yang bangkit melawan pemerintahan tersebut.

Kazuo Ishiguro hanya menceritakan kisah cinta, persahabatan, dan coming-of-age  antara Kathy, Ruth, dan Tommy.

Seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya beberapa kali kalau Never Let Me Go tidak benar-benar menunjukkan suasana dystopia sampai menjelang akhir cerita terutama karena narasi Kathy yang mengesankan semua hal yang dialaminya itu normal. Namun ketika revelasi besar terjadi, kita akan tersadar bagaimana narasi Kathy sebelumnya ternyata memang sesuatu yang menunjukkan masyarakat Dystopia.
Kazuo Ishiguro, saya rasa cukup berhasil membawakan cerita dystopia dengan sangat sukses tanpa perlu memberikan worldbuilding yang besar atau megah. Keberaniannya untuk mengambil romance sebagai keutamaan dari cerita tersebut memang patut diapresiasi. Namun, Never Let Me Go tidak terlepas dari kekuranganseperti cerita yang begitu lambat rasanya terutama diawal-awal buku ketika Kathy banyak menjelaskan pengalaman masa kecilnya di Hailsham yang mungkin akan membuat orang terkantuk-kantuk ketika membacanya.

Karena saya gak mau merusak kejutan yang saya alami ketika membaca cerita ini, hanya segini yang bisa saya tulis mengenai kesan umum akan bukunya. Never Let Me Go bukanlah cerita dystopia yang biasa karena difokuskan pada romance dan juga bukan romance yang biasa-biasa-saja karena karakternya. Belum lagi bentuk dystopianya, dystopia kapitalis. Dengan halaman yang gak berlebih, Never Let Me Go cerita yang sangat dianjurkan karena kita bisa membacanya dengan cepat namun mendapat kesan yang dalam dari buku Kazuo Ishiguro.

2 komentar:

  1. hee ... ak baru baca review lain soal buku ini di GR. kekny konflik utama buku ini soal d***r **g** ya?

    ak jdi keingat novel lain yg judulnya: Wind-up Girl dan Unwind. yg pertama itu fokus ke rekayasa genetika, yg kedua it lebih ke ... konflik yang atas itu. ak lum baca kedua2nya .. tpi yg Wind-up Girl it ak pernah baca halaman2 awalnya di amazon, kekny lumayan menarik :)

    thanks info soal buku ini, ntar klo nemu ak coba2 baca juga XD

    -Ivon-

    BalasHapus
  2. Iya soal itu. Sebenarnya udah keliatan tanda-tandanya dari awal tapi ya gara-gara narasinya yang bener-bener inosen, ya begitu >__>

    Wind up Girl sama Unwind ya? nanti boleh aku baca deh.

    BalasHapus