Jumat, 15 Februari 2013

PRO TIP : Cara Membuat Cerita yang Jelek Tapi Laku Keras

By dantd95

Manusia itu aneh. Bizarre. Kontradiktif, nafsuan, simpatik. Dan yang paling penting : tak pernah puas.

Oh, halo semua. Kali ini balik lagi bersama gue, Dan T.D., dan kita sekarang bakal ngebahas... Pro Tip! (sfx : kyaaaaaaa~) Pro Tip, yang (mungkin) bakal jadi serial ini ngobrolin fenomena-fenomena aneh di dunia cerita dan penceritaan, yang termasuk mitos-mitos soal penjualan, standar bagusnya cerita, relativitas selera, dan hal-hal yang berada di antara mereka.


Pro Tip pertama yang judulnya bisa dilihat di atas ini ngobrolin soal cerita-cerita seperti gambar di sebelah kiri ini. Cerita yang universally panned, yang seringnya hampir secara aklamasi disebut kurang baik, tapi laku. Laku keras. Dimana-mana, fenomena aneh ini terjadi. Iya, memang ada Sturgeon's Law yang menyatakan kalau 90% dari semua hal itu crap. Jelek. Tapi tetep agak aneh dong kalau yang laku malah yang... paling banyak dibilang jelek (dan ini bukan melulu sama haters (haters ada dimana-mana, dan ga mungkin emang bikin buku yang muasin semua orang) atau nyubi seperti gue, tapi juga sama reviewer profesional dan sesama novelis yang udah veteran dan biasanya reviewer juga), ya gak? Kalau Harry Potter yang lebih ke keteteran dibanding jelek sih (biar ga banyak yang nanya, itu kalau disidik-sidik sihirnya suka terlalu terasa seperti plothole remover dan sering kurang jelas (resiko "semau pengarang" jadi agak tinggi. dan endingnya meski lumayan tapi terlalu play safe buat gue, hehe). tapi gue suka karakter-karakternya yang manusiawi banget), gue oke-oke aja. Masih boleh laku.

Tapi beneran dulu gue sempet galau dan teriak "Hidup ini gak adil!" pas tahu kalau Twilight jadi bestseller internasional. Yah orang-orang pasti banyak yang bakal bilang "Face it, life sucks" tapi itu udah ga jadi pertanyaan. Dan akhirnya, akhir-akhir ini gue banyak menemukan semacam pola yang ada di buku-buku yang kurang-bagus-tapi-lakunya-berlebihan, yang mendorong gue untuk menelurkan teori sotoy lagi soal kenapa fenomena ini muncul. Mari kita bedah dari A sampai Z.

First of all, karena konten buku-buku yang seperti itu sudah tidak terlalu harus dipertanyakan lagi (lagian kalau bagus ga valid lagi dong tulisan ini, hehe) mari kita lihat dengan pembacanya. Ada apa dengan pembacanya?

No, I'm not blaming them. Mereka manusia kok, sama seperti gue dan kalian yang baca blog ini. Yes, that's the point. Justru buku-buku yang kurang bagus itu bisa laku keras karena kita semua manusia! You see, manusia seperti yang gue bilang tadi di atas secara sotoy punya tendensi untuk tidak puas. Kita ingin A ketika punya B, ingin B ketika punya A, dan ingin C ketika punya A dan B, dan terus dan terus dan teruuuus...

Yang relevannya adalah, ketidakpuasan punya tendensi membuat manusia berkhayal tentang apa yang membuat mereka puas. Daydreaming. Memuaskan pikiran dengan beragam hal, salah satunya dengan eskapisme. Dan kita sadar, eskapisme seringnya ga mungkin terjadi, atau bahkan ada yang salah. Maka, ketika ada sesuatu yang mendukung atau membenarkan eskapisme itu, kita senang. Ada yang membenarkan tindakan kita. "Turns out I wasn't that wrong after all".

PADAHAL sesuatu yang membenarkan eskapisme itu, jika dalam bentuk sebuah cerita, biasanya malah salah. Kenapa? Karena niatnya sendiri sudah... yah, sudah eskapis (dan seringnya kecampur sama yang lebih akut : wish fulfillment). Kalau mau pakai bahasa lain, penulis tidak memasak premis dan karakternya dengan bumbu yang baik, tapi memilih memakai bumbu instan ditambah pewarna buatan agar terlihat lebih cantik. I'm not blaming the premise, I'm blaming the execution. Di eksekusinya inilah, virus eskapis digabung dengan wish fulfillment menyeruak, meracuni nadi tulisan, memfermentasi setiap huruf dan kata menjadi keju. Semua premis netral, it's the usage that matters.

Agak bingung? Santai, gue akan menjelaskan contoh-contoh penggunaannya. Kita ambil contoh kecil dari novel yang jadi gambar awal post ini, 50 Shades of Grey. Yang udah denger pasti tau dong kalau ini isinya seks. Seks. Seks. Seks. BDSM pula. Yang bikin gue mikir, kenapa 17*****.com ga bikin kompilasi bokep sendiri dalam bahasa Inggris Dan bahasanya itu loh, waduh, over the top-nya udah menjurus ke unintentionally funny.

"Lah, terus kenapa ini buku bisa laku?"

Ingat eskapisme? Gue ga akan kaget, kalau gue bisa baca pikiran orang banyak yang seengga-engganya pernah berpikir (dan sebagian dari yang banyak ini pernah berfantasi) soal seks. Termasuk gue sendiri. Ketika ada buku cerita seperti ini, yang kalaupun tidak memberi pembenaran setidak-tidaknya memberi bahan berfantasi, jelas lah orang beli. Disini, eskapismenya memang sudah lebih jauh. Eskapisme sendiri "cuma" rawan, ga sampe jelek secara inheren. Sedangkan wish fulfillment, "perpanjangan" dari eskapisme, parah sekali.

Mari kita lihat lagi sebuah contoh kecil : Sword Art Online (iya, lagi! beneran gue terdengar seperti hater salah satu contoh yang lengkap, dan gue yakin kalian udah cukup bosen soal Twilight) yang bercerita soal seorang dengan username Kirito yang main game online, menyelamatkan dunia, dan mendapat gadis-gadis cantik. Kalau baca post sebelumnya soal Mary Sue-Gary Stu pasti udah dibilangin kalau dia nge-cheat (dan di story arc kedua, cuma buat nyelamatin pacar) dan, yah, penuh wish fulfillment dan pembenaran soal main game online (sedangkan kita tahu, main game online baik atau buruk tetep aja time-consuming banget, kecuali main game online buat dapetin duit (dan gue rekomendasiin light novel The Legendary Moonlight Sculptor soal premis online games. Bisa memberi pembenaran tanpa jatuh ke wish fulfillment yang terlalu eksesif)). Dari pengamatan gue di komunitas-komunitas animanga internet yang suka SAO awalnya memang online gamers. Baru nyebar ke orang-orang lain. Dan beneran, kebanyakan orang yang udah veteran nonton anime/baca buku termasuk yang ga suka atau at least mengakui kelemahan-kelemahannya.

Jadi, Pro Tip nya?

Mudah.

1. Coba cari wish fulfillment yang punya target audience besar dan fanatik. Kalau menilik contoh di atas, cowo remaja atau ibu-ibu bisa jadi prioritas target (meskipun lebih enak lagi kalau ngincar salah satu gender secara luas).
2. Bikinnya harus fokus ke wish fulfillment itu. Kalau bisa tambah quotes-quotes 'motivational' biar lebih DEEP dan pembenarannya terasa sekali.
3. Ingat, perhatikan covernya. Covernya kalau bisa stylish dan nyeni tapi simpel.
4. Exposure! Kumpulkan follower buat spamming di twitter, bisa juga troll para pengkritik (tentunya dengan cara yang subtle dan penuh skill; disarankan baca The Art of War atau Il Principe untuk general guide) dan buat promosi seolah-olah dari mulut ke mulut. Coba deketin temen/kenalan yang lingkaran pertemanannya luas.
5. (Optional) Kontroversi. Kontroversi dimanapun mereka berada adalah attention getter yang bagus sekali.

So, folks, abaikan gue yang sotoy nan pretensius ini dan selamat menulis!

3 komentar:

  1. Eskapisme memang hal yang sedap. Bagaimana bisa tidak enak membacanya kalau keselamatan dan nasib si karakter utama yang jadi agensi penulis (dan pembaca) udah pasti? Yaah, kan enak kalau baca tanpa ada rasa khawatir sama sekali gitu.

    BalasHapus
  2. Ini setiap hari selalu update atau gimana sih, Dan? Tapi gak papa sih, menghibur buat gue yang pusing kebanyakan ngerjain soal. XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya pokoknya kalau ada waktu dan pikiran yang mengendap tentang sesuatu yang berhubungan dengan hal yang dibahas di blog ini, ya update :p

      dan lagi, list currently-reading gue lagi banyak, ditambah Shengar sendiri punya beberapa materi menarik, jadi brace yourself :p

      Hapus