Rabu, 13 Februari 2013

Antara Keinginan Terpendam, Bella, dan Edward Elric

By dantd95

Mary Sue. Gary Stu. Mary Sue. Gary Stu.

Makin kesini, gue makin sering denger istilah-istilah itu. Mungkin kalian juga, apalagi kalau tahu gambar yang gue sisipkan disini dari film apa. Banyak banget orang-orang jaman sekarang yang, yah, well, nyebut istilah-istilah ini di lingkaran penulis/pembaca. Gue sendiri juga sering.

Anyway, gue sengaja bikin entri ini karena kemarin-kemarin gue sebenarnya sempet galau (well, kemarin yang udah lama banget sih). Bukan soal cewe melainkan soal esensi dari istilah ini. Dari istilah Mary Sue dan Gary Stu. Setelah gue banyak mencari definisi yang tepat, ya.....

Belum ada definisi yang universal soal ini, sepertinya. Entah benar begini atau gue kurang dalam ngegali internet. Tapi karena post ini memang ada untuk menjabarkan definisi gue soal Mary Sue/Gary Stu, anggap aja statement di atas benar :v

Oke, mari kita bedah baik-baik penggunaan istilah ini. Dari observasi pribadi gue di internet dan kehidupan nyata, penggunaan istilah ini sangat beragam. Ada yang pakai istilah ini buat ngejabarin cewe/cowo yang simply terlalu perfect, ada juga yang bilang Mary Sue-Gary Stu itu terlalu jadi pusat cerita, dan istilah ini juga sering dipakai buat nyegat angkot di jalan menyindir tokoh utama yang dibenci orang yang mengucapkan/mengetik istilah itu.

Sebenarnya, gue sendiri punya definisi sendiri soal Mary Sue-Gary Stu, dan ada skalanya. Mari kita simak poin-poinnya.

1. Mary Sue/Gary Stu adalah pusat perhatian dalam cerita.

"Tapi tokoh utama kan emang pusat cerita!"

Bukan, bukan secara 100% harfiah dan bukan juga pukul rata. Begini, memang fiksi adalah fiksi. Dan realita adalah realita. Memang keduanya tidak bisa disamakan. Namun, baik di fiksi maupun di dunia nyata, semua tokoh adalah tokoh utama dalam cerita mereka masing-masing. Bukan hanya sebagai stempel atau komplemen bagi karakter lain. Semua orang, fiktif maupun nyata, seharusnya punya agenda, pola pikir, tujuan hidup, dan pandangannya sendiri-sendiri. Satu anekdot yang bagus adalah ketika seorang aktor teater yang memerankan karakter kecil semacam penggali kubur di Hamlet bilang sinopsisnya "cerita mengenai seorang penggali kubur yang bertemu pangeran".

Nah, yang salah adalah ketika si tokoh ini (yang 99% biasanya tokoh utama) jadi pusat perhatian yang absolut dalam cerita. Maksudnya adalah ketika tokoh-tokoh lain dalam cerita jadi terasa ada hanya untuk melengkapi cerita dan memberi halangan/bantuan pada si tokoh utama (dan bahkan dalam kasus ekstrim seperti di anime-manga To-Love-Ru, terasa ada hanya untuk jadi love interest yang perfect/memenuhi tipe tertentu bagi si tokoh utama (dan unsurprisingly, buat para pembaca)). Kalau gitu, ganti sama tembok aja ga ada bedanya dong! Toh sama-sama ngasih halangan :v

2. Tindakan Mary Sue/Gary Stu selalu dibenarkan, baik ataupun salah.

Contoh yang paling familiar tentu saja Bella dari Twilight, dimana jadi cewe yang kerjanya cuma ngomel-ngomel ga jelas dan sangat tergantung pada pacarnya itu normal dan sangat sehat. Kirito dalam anime-light novel Sword Art Online juga mengalami kasus ini secara kronis, dimana banyak curang dalam game online SAO dan ALO dari nge-hack buat keuntungan pribadi sampai nyiksa orang dengan kekuatan admin (saat bisa banget menang secara fair) hanya untuk menyelamatkan pacar itu patut dipuji, bahkan bisa dapet banyak kecengan lain. Padahal dia pernah bilang secara blak-blakan kalau "ngelakuin hal jahat di internet bisa bikin kepribadian memburuk di dunia nyata".

Bonus points kalau si tokoh utama ini disukai semua orang baik dan dibenci semua orang jahat. Biasanya kalau cewe dibilang cantik sama semua orang baik berkali-kali, dan kalau cowo dibilang perfect sama orang-orang di sekelilingnya berkali-kali.

3. Mary Sue/Gary Stu bisa membelokkan hukum dunia/hukum alam/common logic tanpa ada alasan yang jelas selain "screw the rules, I'm the main character!"

Apakah SAO disukai di Indonesia sebagian kecil karena banyak cheater PB yang merasa bangga? Ups...

Kali ini gue ngambil contoh dari fiksi lokal, Mantra, dimana tokoh utamanya berulang-ulang membelokkan common logic bahkan dari hal yang simpel seperti rantai di kakinya yang keberadaannya tergantung pengarang ingat apa engga. Dan lagi-lagi ambil contoh dari Kirito yang membelokkan hukum dunia game online SAO hanya karena dia tokoh utama dan tokoh utama harus tetap hidup sampai akhir cerita (!). Ini poin yang ga sesering kedua di atas, tapi paling ngeselin karena bisa menghancurkan logika internal cerita (dan membuat teori "Sebenarnya si tokoh utama koma dan sisa cerita itu khayalan/sakaratul mautnya" muncul di internet).

Kalau 1 dari 3 poin ini terpenuhi, dia sudah masuk ke teritori Mary Sue/Gary Stu.

"Kok, ga ada poin kalau Mary Sue/Gary Stu selalu perfect?"

Pertanyaan bagus, dan itu juga pertanyaan yang bikin gue sampe berpanjang-panjang ngepost disini. Gini. Menurut gue pribadi, jika ada karakter yang perfect dia belum tentu merupakan Mary Sue/Gary Stu. Belum tentu. Tapi memang punya potensi jadi Mary Sue/Gary Stu karena banyak tokoh sempurna yang muncul dari keinginan terpendam pengarang, seperti Edward di Twilight. Tapi biarkan gue disini membela tokoh "sempurna" yang genuinely good dan bukan Mary Sue/Gary Stu, seperti Edward Elric dari anime-manga Fullmetal Alchemist. Lagipula, Bella ga punya kelebihan tapi bisa jadi Mary Sue.

Dia ga akan seneng kalau dibilang Gary Stu (apalagi kalau dibilang pendek)

Poin penting dalam fiksi adalah bagaimana tokoh utama (dan tokoh-tokoh lainnya) dihadapkan pada suatu masalah, alias konflik, dan bagaimana mereka menghadapinya. Sebuah karya fiksi bisa jadi "seru", "fun", "dalam", "filosofis", dan bagus kalau cara tokoh-tokoh menghadapi konflik itu sesuai dengan karakter mereka tapi juga tetap konsisten dengan logika internal cerita dan jadi seru, atau fun, atau jadi dalam atau jadi filosofis. Pokoknya bisa memberi efek yang diinginkan bagi pembaca. Karakter yang perfect memang rawan menjadi Mary Sue/Gary Stu, tapi lebih rawan lagi bikin cerita jadi kehilangan efek-efek yang seharusnya didapat dari cerita. Kenapa? Karena dalam asumsi kita, karakter yang perfect secara logis bisa mengenyahkan setiap konflik yang dihadapinya dengan mudah, bahkan tanpa usaha. Tapi seru ga sih kalau misalkan pertarungan lawan naga yang harusnya legendaris diakhiri dengan sangat mudah, bahkan kurang dari satu halaman, sedangkan pertarungan lawan naga legendaris itu adalah konflik inti dari cerita?

Jadi garing kan? Kentang kan?

Nah, menghadapi-konflik-dengan-mudah-karena-kesempurnaannya itu memang penyakit dalam semua karya fiksi. Tapi, itu beda dengan Mary Sue/Gary Stu. Itu masih adil (dengan catatan kesempurnaannya itu dipakai, bukan seperti di The Hunger Games dimana Katniss menang bukan karena skillnya dipakai melainkan kalau ga ditolongin ya kabur) tapi jadi garing.

Sedangkan Edward Elric tentunya tidak jatuh ke dalam lubang ini, karena tantangan dan konflik yang ada dalam cerita memang cukup rumit (lagipula, yang dia lawan juga sekelompok orang yang hampir-hampir immortal dan udah hampir banget mencapai tujuan. bayangin kalau telat start lomba marathon saat lawan udah 3/4 jalan) sehingga cerita tetap seru (dan dia jelas-jelas tidak jadi pusat cerita, tindakannya tidak selalu dibenarkan, dan tidak membelokkan hukum dunia/logika internal) dan menegangkan, bahkan bisa fun dan sedikit filosofis di saat yang bersamaan.

Jadi intinya, sebenarnya gue ga akan memaksa siapapun setuju sama definisi dan argumen gue ini. After all, ga ada definisi yang bener-bener definitif soal hal ini. Yang jelas adalah, gue yakin mau itu tanda-tanda di atas beneran tanda Mary Sue/Gary Stu atau bukan, tanda-tanda dan ciri-ciri itu tetep akan mengurangi enjoyment dan jadi kelemahan dalam cerita apapun.

9 komentar:

  1. "Bella ga punya kelebihan tapi bisa jadi Mary Sue"
    Punya kelebihan kok dia. Nama kelebihannya itu "lurve" yang ke mainfestasi jadi "powaa of lurve"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Well, bella punya kelebihan, immune terhadap kekuatan spiritual vampir lain, makanya kebal mind reading, kebal siksaan psikologis dll :V

      Hapus
    2. ah iya. kebal siksaan psikologis... tapi masokis, dikit2 whining dan nyiksa psikologi diri sendiri dengan alasan yang konyol :))

      Hapus
  2. ijin nyimak gan.. ane nonton SAO cuma demen liat silica nya doang kok..ヽ(*・ω・)ノ

    BalasHapus
  3. nice post, sob :) terus lanjutin blog ini yah ^^b

    btw, jadi ini blog penulisnya dua orang ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. 2 penulis tetap. kalau ada yang mau nyumbang boleh aja jadi kontributor tamu :3

      Hapus
  4. hlo, saia mau nyumbang link yang ngebahas tentang pengkategorian "Mary Sue" dari situs DeviantArt:

    http://makingfunofstuff.deviantart.com/art/Is-she-Mary-Sue-296475664

    semoga berguna :)

    -Ivon-

    BalasHapus